Materi Penyuluhan

PERLINDUNGAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI PERKEBUNAN

Senin, 22 Feb 2021
Sumber Gambar : www.google.com

Dampak perubahan iklim atau cekaman iklim seperti kekeringan, kebakaran lahan dan banjir seringkali mengakibatkan produktivitas dan mutu perkebunan menjadi rendah disamping penggunaan bibit unggul yang baru mencapai 40% dan rendahnya penerapan Good Agricultural Practicies (GAP) di tingkat petani.

Dampak perubahan iklim akan mengakibatkan perubahan pada fisiologi tanaman antara lain pada tebu akan mengakibatkan penurunan rendemen gula, kelapa sawit menurunkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan pada karet menurunkan produksi latek.  Untuk meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh perubahan iklim tersebut perlu dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim serta dukungan dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.  Pada sektor perkebunan, penanganan dilakukan melalui kegiatan kesiapsiagaan pencegahan kebakaran lahan dan kebun dan antisipasi dampak perubahan iklim

Kesiapsiagaan pencegahan kebakaran lahan dan kebun

Kegiatan ini dilakukan oleh provinsi sentra tanaman perkebunan melalui kegiatan fasilitasi pemantauan kebakaran, dampak perubahan iklim dan bencana alam; kegiatan  apel siaga penanggulangan kebakaran lahan dan kebun serta kegiatan operasional brigade. 

Kegiatan fasilitasi pemantauan kebakaran, dampak perubahan iklim dan bencana alam serta kegiatan  apel siaga penanggulangan kebakaran lahan dan kebun  dilakukan untuk daerah yang mempunyai lahan gambut dan daerah dengan  rekaman hot spot minimal 100 titik.  Pemantauan hot spot dapat dilakukan melalui situs www.sipongi.menlhk.go.id atau www.asmc.asean.go.id.  Sedangkan kegiatan operasional brigade dilakukan dengan pelatihan petugas brigade provinsi dan kabupaten yang pelaksanaannya dilakukan bekerjasama dengan Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan asosiasi/intansi terkait lainnya.

Antisipasi dampak perubahan iklim

Kegiatan dalam antisipasi dampak perubahan iklim dilakukan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan dan kebun; kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta kegiatan penerapan model perkebunan rendah emisi karbon pada perkebunan kopi rakyat. 

Kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan dan kebun dilakukan oleh kapupatenkota  kepada kelompoktani/pekebun yang berada dilokasi rawan kebakaran agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.  Waktu pelaksanaan kegiatan menjelang awal musim kemarau.

Kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dilakukan di lokasi demplot kelompoktani/pekebun pada daerah sentra perkebunan rawan kekeringan khususnya pada demplot komoditas perkebunan yang peka terhadap kekeringan seperti kopi, kakao, jambu mete, kelapa dan karet.  Kegiatan ini dilakukan dengan diterapkannya teknologi berupa irigasi tetes, pembuatan biopori dan rorak yang dilaksanakan pada awal musim kemarau untuk menghindari cekaman lingkungan.

Adapun kegiatan penerapan model perkebunan rendah emisi karbon pada perkebunan kopi rakyat dilaksanakan di daerah sentra perkebunan kopi rakyat dengan pembuatan demplot model perkebunan rendah emisi karbon dengan input teknologi pemanfaatan limbah kebun dan ternak menjadi pupuk organik, memelihara ternak ruminansia kecil dan pembuatan rorak.

Penerapan model perkebunan untuk pemanfaatan limbah kebun dan ternak menjadi pupuk organik dilaksanakan dengan pembuatan pupuk kompos dari limbah kebun kopi, sisa pakan dan kotoran ternak dengan cara tertutup untuk megurangi emisi gas rumah kaca. Untuk pemeliharaan ternak digunakan jenis kambing lokal yang mudah pemeliharaannya.  Hasil dari pupuknya digunakan untuk tanaman kopi di sentra perkebunan kopi rakyat.

Pada kegiatan ini pembuatan rorak untuk tanah mineral dan lahan gambut berbeda.  Pada tanah mineral, rorak  dibuat dengan kedalaman 60 cm, lebar 50 cm dan panjang 50 – 200 cm.  Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong lereng.  Jarak samping antar satu rorak dengan rorak lainnya 100 – 150 cm sedangkan jarak horizontal 20 m pada lereng yang landai dan agak miring sampai 10 m pada lereng yang lebih curam.  Sedangkan untuk lahan gambut harus memperhatikan kapasitas minimal rorak yang disesuaikan dengan kapasitas air atau sedimen dan bahan-bahan yang terangkut lainnya yang akan ditampung.  

Melalui kegiatan penanganan dampak perubahan iklim ini diharapkan produktivitas dan mutu hasil perkebunan akan optimal sehingga kesejahteraan petani/pekebun meningkat.

Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan)

Sumber :

----------------------, 2016.  Dukungan Perlindungan Perkebunan.  Direktorat Jenderal Perkebunan.  Kementerian Pertanian, Jakarta.

PENGUNJUNG

25404

HARI INI

71776

KEMARIN

22548145

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook