Materi Lokalita
GORONTALO > KABUPATEN BONE BOLANGO >

Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Padi Sawah Di Kabupaten Bone Bolango

Selasa, 12 Jan 2021
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi

Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dilaksanakan oleh Tim Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bone Bolango yang di pimpin langsung oleh Kepala Dinas Roswaty Agus, Camat Suwawa Erwin Ilahude, dari unsur Dinas Pertanian Provinsi Yusbar Ismail, unsur Babinsa, petugas POPT, Penyuluh dan Petani. Dalam gerakan pengendalian ini dilaksanakan dengan cara mekanik yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman yang dilakukan secara serentak di Kecamatan Bulango Selatan, Bulango Timur, Kabila, Tapa, Tilongkabila dan Kecamatan Suwawa.  Penggerek batang padi adalah hama yang tergolong pengganggu utama. Hama ini menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian hingga menjelang panen. Pada tanaman padi fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan menyebabkan pucuk layu, kering mati dan gejalanya disebut sundep. Gejala serangan pada fase generatif berupa malai muncul putih dan hampa yang biasa disebut dengan beluk. Menurut petugas Fungsional POPT Abdullah Jafar dan Marlina Abd Rajak, bahwa pengendalian hama penggerek batang dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :

1. Pengaturan Pola Tanam

a).Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi. b).  Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama. c).  Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi. Tanam jangan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat. Tanam bisa dilakukan pada 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya apabila generasi penggerek batang padi di lapangan overlap.

2. Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik

a). Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman. b). Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap) c). Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen (disingkal). Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.

3. Pengendalian Hayati

a). Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman.

4. Pengendalian Secara Kimiawi

a). Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut. b). Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam. c). Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granule/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair). d). Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran. e). Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo. f). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi insektisida adalah: keringkan pertanaman sebelum aplikasi, aplikasi saat air embun tidak ada yaitu sekitar jam 8 -11 atau dilanjutkan pada sore hari ketika angin sudah tidak kencang, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat air pelarut (sekitar 350-500 liter air/ha).

5. Pengendalian Preventif

Sebagai tindakan preventif dalam pengendalian penggerek batang padi, memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap. Diharapkan dengan adanya pengendalian hama secara dini pada pertanaman padi dapat menekan jumlah polulasi perkembangan hama sehingga pertumbuhan padi dapat berkembang dengan baik untuk menghasilkan produksi yang maksimal IP 400 di Kabupaten Bone Bolango, tutup Marlina Abd Rajak.

Penulis :

Lukman Hairun

Penyuluh Pertanian Madya

PENGUNJUNG

1032

HARI INI

26149

KEMARIN

27620543

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook