Diseminasi Teknologi

PENGELOLAAN AIR TERPADU DI PERKEBUNAN KOPI DAN KAKAO

Sabtu, 09 Jan 2021
Sumber Gambar : ahlikoplampung.com

Pendahuluan

Pengelolaan air dikawasan perkebunan kopi dan kakao umumnya masih terbatas, rata-rata petani mengandalkan hujan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang dikelolanya.  Selain itu  perkebunan  dan kakao sebagian besar berada di wilayah yang musim kemaraunya cukup panjang, ditambah dengan akhir-akhir ini frekuensi terjadinya kemarau panjang sering dan sulit diprediksi.  Kondisi ini memerlukan solusi yang tepat, agar keberlanjutan tanaman kopi dan kakao dapat dipertahankan secara Nasional.

 

Kebutuhan Air Tanaman Kopi dan Kakao

Air dibutuhkan untuk mengimbangi transpirasi maupun untuk memenuhi kebutuhan fotosintesis, sangat mengandalkan air hujan.  Curah hujan ideal untuk tanaman kopi dan kakao berkisar 1500 sampai 2000 mm/tahun, dengan bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm tidak lebih  dari tiga bulan (Wood,1985).

 

Penerapan Pengelolaan Nutrisi Tanaman dan Air Terpadu

Untuk mengatasi kekurangan nutrisi dan air yang dibutuhkan tanaman kopi dan kakao, perlu cara yang terkonsep, terprogram dan dapat dilaksanakan di lapangan yaitu dengan cara pengelolaan nutrisi tanaman terpadu (PNTT) yang dikombinasikan dengan pengelolaan air terpadu (PAT). Prinsip PNTT adalah memaksimumkan penggunaan masukan organik dan meminimumkan kehilangan hara serta menciptakan suplemen pupuk.  Beberapa cara untuk memaksimumkan penggunaan pupuk organik antara lain :

  • Gunakan legum penambat nitrogen dalam rotasi tanaman
  • Memberikan bahan organik dari luar lahan bila memungkinkan
  • Gunakan penutup tanah
  • Pembuatan guludan sesuai kontur, untuk meminimalkan kehilangan hara tanaman

 Kegiatan yang relevan dengan PNTT dan PAT serta standar budidaya kopi dan kakao:

  • Penggunaan penaung dari leguminose
  • Penggunaan biomassa
  • Pemanfaatan hasil samping pertanian (sebagai suplemen pupuk)
  • Penggunaan penutup tanah leguminose
  • Penggunaan bahan tanaman yang toleran terhadap lahan marginal
  • Konservasi unsur hara dan air

 

  1. Penaung leguminose

Secara fisiologis kopi dan kakao termasuk dalam kelompok tanaman C3, yang tidak tahan sinar matahari penuh, oleh karenanya butuh tanaman penaung untuk mengurangi intensitas sinar matahari, besarnya pengurangan berkisar antara 30-70 % sesuai dengan umur tanaman. Oleh karena itu penaung yang digunakan sebaiknya tanaman dari keluarga leguminose, yang berfungsi selain sebagai sumber hara nitrogen juga mampu meningkatkan kapasitas menyimpan air.

 

  1. Penggunaan Biomassa non legum

cukup banyak biomassa non legum yang terdapat di dalam kebun kopi dan kakao yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber  bahan organik dan unsur hara antara lain: kulit buah kopi dan kakao, kayu pangkasan kopi dan kakao serta gulma.  Bila  biomassa ini dimanfaatkan secara optimal, cukup memberi sumbangan yang berarti bagi penyediaan bahan organik dan unsur hara untuk tanaman kopi dan kakao.  Dari hasil satu kIlo pangkasan kopi dengan luasan 1 ha akan diperoleh biomassa 2700 kg/ha dan membawa unsur hara sebanyak 14,8 kgN; 2,8 kg P2O5, dan 11,9 kg K2O berarti bila jumlah ini dimanfaatkan untuk kebun, akan mengurangi jumlah pupuk yang harus ditambahkan.  Berikut hasil analisis jumlah unsur hara terhadap kulit kopi adalah : kulit dan daging buah ( 15,33 N; 3,67 P2O5; 27,4 K2O) dan kulit tanduk (2,27 N; 0,3 P2O5; 1,87 K2O)

Sementara untuk tanaman kakao, jumlah unsur hara yang terangkut dalam kulit buah meliputi: (a) tipe kakao melonado ( 15,4 N; 8,1 P2O5; 164,9 K2O); (b) Trinitario (15,0 N; 8,55 P2O5; 149,1 K2O); (c) Amazon ( 17,0 N; 10,35 P2O5; dan 186,1 K2O)

Untuk  mempercepat terdekomposisinya dan tersedianya unsur hara bagi tanaman pokok, biomassa dari kulit buah, kayu pangkasan  dan gulma perlu dihancurkan dan dikomposkan terlebih dahulu.  Berikut hasil analisis kompos kulit kakao sebagai berikut: kandungan unsur hara Bahan organik (621,8 kg/ton); Nitrogen (17,9 kg/ton); P2O5 (11,0 kg/ton); K2O (75,2 kg/ton); Kalsium (22,6 kg/ton); Magnesium (5,2 kg/ton) dan SO4 (12,9 kg/ton).

Penggunaan bahan organik yang bukan dari keluarga leguminose juga mempunyai sifat menyimpan air tinggi.

3. Penggunaan Tanaman Penutup Tanah

Jenis Tanaman penutup tanah yang sesuai untuk tanaman kopi-kakao adalah :

tanaman yang tidak  membelit seperti arachis pintoi

Fungsi  tanaman penutup tanah meliputi : (a)  menyumbang unsur hara nitrogen; (b)  melindungi tanah dari tetesan air hujan dan erosi; (3) mengurangi aliran permukaan (runoff) ; (4) meningkatkan resapan air ke dalam tanah berarti jumlah air yang tersimpan dalam tanah meningkat.

 4. Penggunaan Bahan tanam yang Toleran

Gunakan bahan tanam sebagai batang bawah yang perakarannya kuat, agar daya serapnya terhadap hara dan air tinggi juga mampu meregenerasi perakaran dalam waktu singkat seperti klon kopi BP308 dan klon kakao Sca 6.  Sedangkan untuk batang atas adalah kopi BP 409 dan kakao Sca 12.

 5. Konservasi tanah, unsur hara dan air

Penggunaan mulsa  yang berfungsi: (a) melindungi unsur hara dalam tanah; (b) menyumbang unsur hara ke tanah; (c) mengurangi evaporasi, sehingga air yang tersedia di dalam tanah dapat dimanfaatkan secara optimal. Hasil penelitian, Penggunaan mulsa daun pisang kering dengan ketebalan 15 cm dapat mensuplai 290 kg N/ha, 318 kg K/ha, sedangkan mulsa rumput Panicum maximum mensuplai 410 kg N/ha dan 700kg K/ha.

 

Sumber         : Pusat Penelitian Kopi dan kakao Indonesia

Penyusun       : Nasriati

 

 

PENGUNJUNG

1796

HARI INI

26149

KEMARIN

27621307

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook