Materi Penyuluhan

IRIGASI TETES PADA TANAMAN TEBU

Kamis, 15 Okt 2020
Sumber Gambar : BBP Mektan, 2019

Permasalahan pada budidaya tanaman tebu diantaranya terbatasnya sumber air dan tenaga kerja. Umumnya pengairan pada pertanaman tebu menggunakan irigasi permukaan, salah satunya dengan memompa air embung kemudian dialirkan melalui pipanisasi dan lahan kemudian digenangi. Cara lainnya, pengairan dengan menggunakan big gun sprinkle, cara tersebut tidak efisien karena air akan banyak yang terbuang. Untuk mengatasi hal tersebut, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah menciptakan model irigasi tetes (drip iirigation)  yang bisa mengairi tanaman di sekitar perakaran disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.  Alat ini  merupakan mesin tanam dan pemasang dripline terintergrasi yang dapat mempermudah pengairan dan pertanaman tebu.  

Irigasi Tetes                                                                                                                                                                                              Irigasi tetes disebut juga sebagai irigasi pintar ( smart irrigation ) karena debit air bisa dikendalikan sesuai kebutuhan tanam, komponen pupuk juga bisa diatur bahkan dikembangkan dengan full mekanisasi. "Irigasi tetes ini tergolong tipe sub surface yaitu irigasi yang ditanam dibawah tanah dan dilakukan dengan menggunakan dripline. Berbeda dengan model irigasi pertanaman tebu sebelumnya yang membutuhkan pembuatan pipa, irigasi tetes ini hanya menggunakan pipa paralon yang sudah diintegrasikan dengan dripline. Irigasi tetes merupakan irigasi bawah permukaan sehingga dripline perlu dibenamkan sedalam 15-17 cm dibawah tanah dan dibutuhkan alat untuk bisa membenamkannya saat bertanam tebu berupa alat tanam tebu sekaligus pemasang dripline. 

Mekanisme Kerja Alat                                                                                                                                                                       Mekanisme kerjanya alat tanam tebu sekaligus pemasang dripline adalah sebagai berikut: Mesin penanam tebu ini ditarik dengan traktor roda 4 sambil memasang driplinenya sekaligus bertanam tebu; Bibit tebu ditanam  5 cm diatas dripline dan alsin dilengkapi dengan pembuka alur dan penutup alur sehingga dalam satu kali operasional bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus; bibit tebu ditanam dalam keadaan rebah karena akarnya akan muncul dari mata tunas yang ada di setiap ruas; Untuk keperluan ini,  pilih bibit dengan usia 6-8 bulan dalam bentuk lonjoran kemudian dipotong dengan ukuran 30-40 cm dengan pisau yang disetting dalam alsintan tanam; Dripline yang dipasang dengan mesin tanam tebu disesuaikan panjang lahan hingga 100 meter agar bisa menghasilkan tetesan yang optimal dan seragam; Dripline dipasang di bawah tanah (subsurface) dan bagian ujung disambungkan dengan pipa utama,  air kemudian dibuka dengan tekanan 2 bar sehingga dripline yang tadinya pipih akan menyerupai pipa yang mengeluarkan air dalam bentuk tetes; Perlahan namun pasti, tetesan air dari dripline akan menetes dan menjadi sumber air dari perakaran tebu. Dengan cara ini,  petani tidak perlu lagi melakukan pemupukan di permukaan karena pengairan dari dripline bisa dicampurkan dengan pupuk cair sehingga bisa diserap akar seiring penyerapan air; Sumber air bisa menggunakan air embung maupun air tanah yang dipompa kemudian disalurkan terlebih dahulu pada filter untuk kemudian masuk kedalam pipa utama dan dripline. 

Untuk perawatannya, cukup lakukan pengecekan berkala pada filter agar tidak ada yang menyumbat dan air masih bisa mengalir; Dripline ini lebih optimal digunakan dalam kondisi lahan datar tetapi bisa juga untuk lahan dengan kemiringan kurang dari 45 derajat, hanya saja konsumsi tenaga pompa untuk mengalirkan airnya harus lebih besar sehingga tidak efisien lagi. Penggunaan dripline ini sendiri bisa digunakan dalam 5 kali pertanaman tebu sebelum akhirnya dibongkar ratun, sehingga bisa efisien dalam penggunaan air namun bisa tetap berproduksi tinggi dengan kualitas terbaik.  Keunggulan dari mesin ini dalam mengoperasikan hanya perlu 2-3 operator saja dimana 1 orang sebagai operator traktor, 2 orang operator bibit. Alat ini mampu mengerjakan lahan seluas 2 ha dalam satu hari saja sehingga efisien dalam waktu dan tenaga kerja. Dalam penggunaan mesin ini, kondisi tanah yang bisa digunakan adalah tanah berpasir, apabila tanahnya berlempung tinggi, sebaiknya pengoperasian alat dilakukan pada saat kering. Sumber: BPP Mektan, 2019. (bgn)

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook