Materi Penyuluhan

Musuh Alami berupa Parasitoid Dapat menekan Hama Penggerek Batang Padi Di Lahan Pasang surut

Minggu, 11 Okt 2020
Sumber Gambar : https://8villages.com/full/petani/article/id/

Strategi pengendalian hama dan penyakit mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) melalui penerapan taktik pengendalian yang tepat, berupa kombinasi berbagai komponen teknologi pengendalian yang disesuaikan dengan stadia pertanaman padi serta jenis hama dan penyakitnya, merupakan alternatif pernecahan masalah hama dan penyakit yang tepat.

Penggunaan pestisida yang bijaksana akan menguntungkan manusia, seperti meningkatnya produksi tanaman dan ternak karena menurunnya gangguan hama dan penyakit, terjaminnya kesinambungan pasokan makanan dan pakan karena hasil panen meningkat, serta meningkatnya kesehatan, kualitas dan harapan hidup manusia akibat tersedianya bahan makanan bermutu dan perbaikan lingkungan. Penggunaan pestisida secara tidak bijaksana,  tidak hanya mempengaruhi kehidupan musuh alami tetapi juga sistem fauna dan flora, lingkungan dan kesehatan manusia.

Budidaya padi di lahan pasang surut cukup menarik karena dengan frekuensi penggunaan insektisida sintetik yang rendah, bahkan di sebagian tempat tidak menggunakannya tetapi mampu menekan populasi hama penggerek batang padi pada tingkat yang rendah. Penyebabnya antara lain a. waktu tanam serempak, b. cara tanam dengan cara memotong turiang padi dan c. membiarkannya sampai membusuk, d. pindah tanam dan e. memotong daun padi pada saat tanam. Cara ini dapat menggagalkan pupa penggerek batang berkembang menjadi imago, membunuh larva yang berada di dalam batang dan menggagalkan telur menetas menjadi larva.

Parasitoid merupakan salah satu agen pengendali hayati (biokontrol) yang potensial dikembangkan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan. Di Indonesia, upaya pemanfaatan parasitoid sebagai agen biokontrol dalam pengendalian hayati hama telah banyak dilakukan, diantaranya parasitoid untuk mengendalikan penggerek batang padi.

Menurut hasil penelitian jenis parasitoid yang ditemukan pada telur penggerek batang padi adalah Telenomus rowani, Telenomus schoenobii, Telenomus japonicum dan Telenomus dignus. Di lahan rawa pasang surut diketahui 10 jenis parasitoid, namun yang dominan adalah T. rowani, T. schoenobii dan Trichogramma sp.

Menurut hasil berbagai penelitian oleh berbagai peneliti  didapatkan hasil antara lain a. Di lahan sawah rawa pasang surut, rawa lebak, dan irigasi teknis dataran rendah ditemukan tiga spesies parasitoid yaitu T. schoenobii, T. rowani dan T. japonicum. b. Pada lahan sawah tadah hujan dan irigasi teknis dataran tinggi ditemukan dua spesies parasitoid telur T. rowani dan T. japonicum. c. parasitasi T. rowani dan T. dignus T dibandingkan dengan jenis parasitoid lain, ternyata kemampuan beradaptasi kedua spesies tersebut lebih tinggi dan penyebarannya lebih luas. d. perbedaan populasi parasitoid pada ekosistem padi sawah disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain faktor fisik dan biologis, teknik budidaya seperti waktu tanam tidak serempak yang mengakibatkan populasi parasitoid melakukan migrasi atau mengikuti perpindahan hama penggerek padi ke daerah lain. Jumlah kelompok telur penggerek batang padi berkorelasi dengan kepadatan populasi parasitoid Trichogramma sp. d. Tingginya kepadatan kelompok telur penggerek batang padi akan menarik parasitoid Trichogramma sp. untuk meletakan telurnya pada kelompok telur tersebut. e.Kepadatan kelompok telur penggerek batang padi yang rendah mempengaruhi kecepatan paratasitoid dalam mencari kelompok telur penggerek tersebut. Walaupun demikian, tingginya populasi parasitoid bukan berarti sudah mampu menekan populasi penggerek batang padi, karena untuk dapat menekan populasi hama diperlukan berbagai faktor, selain sifat atau kemampuan parasitoid itu sendiri juga keterpaduan dengan faktor-faktor pembatas lainnya, terutama frekuensi penggunaan pestisida. f. Daya parasitasi T. rowani, T. schoenobii dan Trichogramma sp. di lahan pasang surut berkisar antara 12-55%. g. Kemampuan memarasit T. schoenobii,T. rowani dan T. japonicum bervariasi, bergantung pada tempat dan lingkungan. T. schoenobii mempunyai peranan besar dalam menurunkan populasi penggerek batang padi, sedangkan T. rowani dan T. japonicum peranannya bergantian. h. Seekor Telenomus betina memarasit 20-40 telur dan hidup selama 2-4 hari atau lebih lama, bergantung pada ketersediaan nektar. i. Di lapang, T. rowani mampu memarasit 55,8% telur penggerek batang padi putih. f. Parasitoid T. schoenobii lebih efektif menurunkan populasi penggerek batang padi putih dibanding T. rowani dan T. japonicum. Hal ini terkait dengan sifat parasitoidT. schoenobii yang juga berperan sebagai predator. Setiap larva T. schoenobii mampu memangsa 2-3 butir telur penggerek batang padi dan daya kompetisinya lebih kuat daripada parasitoid lainnya. Jumlah telur yang terparasit oleh T. schoenobii tidak dipengaruhi oleh ukuran kelompok telur. Hal ini berbeda dengan T. japonicum danT. rowani yang tingkat parasitisasinya menurun dengan makin besarnya ukuran kelompok telur. g. Keperidian T. schoenobii dua kali lipat lebih tinggi daripada T. japonicum dan T. rowani tingkat parasitasi penggerek batang di lapang berfluktuasi.

Di Sukamandi pada tahun 1994 penggerek batang padi putih terparasit oleh parasitoid T. dignus, T. rowani, T. japonicum sejak awal pertanaman, sedangkan T. schoenobii baru muncul setelah tanaman mencapai fase primordia. h. Parasitasi T. schoenobii terhadap kelompok telur penggerek batang padi lebih tinggi daripada T. rowani dan T. japonicum. Apabila satu kelompok telur terparasit oleh dua atau tiga spesies parasitoid sekaligus maka parasitoid yang lebih banyak memparasitasi adalah T. schoenobii (29,9%), sedangkan tingkat parasitasi T. rowani dan T. japonicum masing- masing 6,50% dan 4,88%. i. Prasitoid T. japonicum lebih suka memarasit telur umur 2 hari dan kemampuan bertelurnya mencapai rata- rata 38,6 butir. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:3. f. Di lapang T. japonicum mampu memarasit telur Chilo 98%. Penggunaan spesies Trichogramma melalui program pelepasan inundatif secara ektensif dengan melepas T. japonicum sebanyak 450.000 ekor per hektar efektif mengendalikan Chilo suppressalis dengan tingkat parasitasi 89,1% dan tingkat kerusakan tanaman berkurang sekitar 80%.

Yulia T S.

yuliatrisedyowati@gmail.com

 Pustaka

  1. Thamrin, S. Asikin dan M. A. Susanti, 2017 Budi Daya Padi Di Lahan Rawa Pasang Surut Dan Pengendalian Alami Hama Penggerek Batang dalam Jurnal Litbang Pertanian Vol.  36  No. 1 Maret  2017: 28-38
  2. Balai Penelitian Lahan Rawa.2011 Monograg “ Hama dan Penyakit Padi di lahan Pasang surut.
  3. https://8villages.com/full/petani/article/id/59c50667536469d27e7b7e71
  4. http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6441
  5. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/29228
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook