Diseminasi Teknologi

BUDIDAYA BAWANG PUTIH

Rabu, 07 Okt 2020
Sumber Gambar : Balitsa dan BPP Batanghari Kab.Lampung Timur

Bawang Putih tidak asing bagi ibu rumah tangga, komoditas sayuran yang banyak digunakan sebagai bumbu masakan.  Selain sebagai bumbu masakan manfaat bawang putih sebagai tanaman herbal untuk mengobati berbagai penyakit dan sebagai bahan untuk pembuatan pestisida nabati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Di Indonesia kebutuhan bawang putih cukup tinggi sehingga prospek pengembangan bawang putih besar.  Permintaan bawang putih masih lebih besar dibandingkan produksi nasional. Masih sangat rendahnya produksi bawang putih nasional disebabkan beberapa faktor, antara lain luas lahan, iklim, dan benih.

Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan program percepatan dengan target swasembada pada tahun 2023. Sasarannya adalah pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, penurunan impor, dan swasembada bawang putih. Untuk mencapai target swasembada bawang putih, diharapkan ada penambahan luas tanam, baik secara ekstensifikasi (melalui pengembangan di lokasi yang saat ini berupa lahan terlantar seperti semak belukar, lahan terbuka, dan hutan belukar) maupun diversifikasi (pengembangan di lahan tegalan atau lahan kering yang kemungkinan sudah dimanfaatkan untuk berbagai komoditas sayuran dataran tinggi).

 

Syarat Tumbuh

  1. Ketinggian Tempat

Bawang putih dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat bergantung pada varietas yang ditanam. Jenis bawang putih dataran tinggi tumbuh baik pada ketinggian antara 700—1.100 m dpl. Sementara jenis bawang putih untuk dataran rendah cocok ditanam pada ketinggian 200—250 m dpl.

Di Indonesia, bawang putih banyak ditanam pada ketinggian antara 600—1.200 m dpl, seperti di Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Daerah-daerah itu mempunyai agroklimat yang sesuai untuk bawang putih sehingga sampai saat ini merupakan sentra penghasil utama bawang putih. Produksi per satuan luas di dataran tinggi lebih besar daripada di dataran rendah.

 

  1. Suhu dan Kelembaban

Bawang putih tumbuh optimal pada suhu yang sejuk. Suhu optimal untuk pertumbuhan bawang putih adalah 15—25 °C. Pada suhu di bawah 15 °C atau di atas 25 °C, pertumbuhan daun akan terhambat. Sementara pada suhu 27 °C, umbi tidak mau tumbuh.  Bawang putih menyukai kelembapan antara 60—70%. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat memicu munculnya berbagai penyakit akibat cendawan. Bawang putih juga menghendaki kondisi lingkungan tumbuh di daerah yang curah hujannya 100—200 mm/bulan dan cukup mendapat sinar matahari.

 

  1. Tanah

Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bawang putih adalah yang subur, gembur, aerasi baik, berpori, drainase baik, dan banyak mengandung bahan organik. Tanah yang cocok untuk bawang putih adalah yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan tekstur gembur, seperti tanah regosol, latosol, dan aluvial. Tekstur tanah yang ringan, gembur, dan berpori dapat menghasilkan umbi bawang putih yang lebih baik dibandingkan dengan tanah yang berat seperti liat atau lempung.

Derajat kemasaman tanah (pH) yang paling disukai oleh bawang putih berkisar 6—7. Namun, bawang putih masih toleran terhadap pH 5,5—7,5. Jika bawang putih ditanam di tanah yang terlalu masam, pH <5, tanaman menjadi kerdil akibat adanya garam aluminium (Al). Sementara jika pH tanah terlalu basa, garam mangan (Mn) tidak dapat diserap tanaman sehingga umbi akan kurus/ kecil.  Jika kondisi tanah masam maka pH tanah perlu dinaikkan dengan pengapuran. Kebutuhan kapur sekitar 1—2 ton per hektare, bergantung pada tingkat kemasamannya. Pengapuran dilakukan 14—30 hari sebelum tanam.

Perbenihan

Bawang putih Indonesia memiliki aroma dan rasa yang khas dibandingkan bawang putih impor.  Beberapa varietas unggul nasional antara lain lumbu putih, lumbu kuning, lumbu hijau, tawangmangu baru, sangga sembalum dan lain sebagainya. Sedangkan varietas lokal yang potensial untuk dikembangkan adalah kayu, Layur, Saigon dan Krisik.

 

Teknik Budidaya Bawang Putih, sebagai berikut :

  1. Persiapan Benih

Tanaman bawang putih umumnya diperbanyak secara vegetatif, yaitu menggunakan umbi.   Syarat umbi yang baik untuk benih yaitu berasal dari tanaman yang berumur tua, sekitar 100—120 hari, dan termasuk varietas unggul. Umbi juga telah mengalamai masa simpan selama 5—8 bulan. Kulit umbi mengilap dan bebas dari hama maupun penyakit. Penggunaan benih yang baik penting untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman dan hasil optimal.

Dalam budidaya bawang putih, yang digunakan sebagai benih adalah siungnya, yang dilepas dari umbinya. Pelepasan siung dari umbi dilakukan dengan hati-hati agar siung tidak rusak atau luka. Kriteria benih bawang putih yang baik  adalah :1. Benih bernas, bagian pangkal batang padat (berisi penuh dan keras). 2. Siung berpenampilan licin dan tegar, tidak kisut.3. Tunas terlihat segar bila siung dipatahkan.4. Berat siung sekitar 1,5—3 g dan bentuk normal.5. Bebas hama dan penyakit. 6. Benih telah melewati masa dormansi.7. Belum keluar tunas berwarna hijau dari ujung siung.

Jumlah benih yang diperlukan bergantung pada bobot benih dan jarak tanam yang digunakan.  Dalam satu hektare lahan, areal yang dapat ditanami bawang putih umumnya hanya 60—70%. Sisanya dimanfaatkan untuk saluran drainase dan jarak antarbedengan. Dengan demikian, benih yang diperlukan berjumlah 80% dari luas lahan budi daya. Ukuran siung bawang putih dapat dibedakan menjadi 3, yaitu siung besar (1,5—2,0 gram/siung), siung sedang (1,0—1,5 gram/siung), dan siung kecil (<1,0 gram/siung).

Jarak tanam bawang putih umumnya disesuaikan dengan ukuran siung. Untuk siung besar jarak tanamnya 12,5 cm x 12,5 cm, sedangkan siung kecil, 10 cm x 10 cm. Dengan begitu kebutuhan benih untuk satu hektare jika menggunakan siung kecil adalah 1.000.000 buah x 80% = 800.000 buah siung. Jika bobot per siung 0,9 gram maka benih yang dibutuhkan sekitar 720 kg/ha.

Benih bawang putih tidak dapat langsung ditanam karena masa dormansinya relatif lama, yakni sekitar 4 bulan setelah panen. Benih siap ditanam jika siung telah tumbuh tunas di bagian ujungnya, atau bila siung dipatahkan akan tampak tunas berwarna hijau. 

Cara penyemaian benih bawang putih yaitu kupas kulit siung lalu tanam dalam polibag dengan kedalaman sekitar 2—3 cm dari permukaan tanah. Perhatikan posisi benih saat ditanam. Pastikan ujung yang runcing menghadap ke atas. Benih siap dipindah ke lapang jika sudah tumbuh tunas. Cara lain untuk mempercepat pertumbuhan tunas yaitu benih bawang putih diberi perlakuan suhu dingin. Caranya, kupas kulit bawang putih lalu letakkan dalam kulkas selama kurang lebih 2 minggu atau sampai tumbuh tunas, lalu tanam di kebun.

Cara lain adalah merendam benih dalam larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) triakontanol dosis 0,10 ml per liter selama semalam lalu ditiriskan sebelum ditanam. Sebelum ditanam, sebaiknya benih direndam dalam larutan fungisida atau trichoderma 10 cc per liter air selama 10 menit sesuai dosis yang dianjurkan. Tujuannya untuk mencegah serangan patogen tular tanah atau jamur Fusarium. Selain itu, benih dapat direndam dalam zat perangsang pertumbuhan akar dan tunas, seperti auksin dan giberelin

  1. Pengolahan Lahan

Lahan yang digunakan untuk menanam bawang putih adalah lahan-lahan yang memiliki tekstur lempung berpasir dengan tekstur yang gembur. Tekstur tanah yang ringan, gembur dan porous dapat menghasilkan tanaman bawang putih yang lebih baik jika dibandingkan dengan tanah yang berat seperti liat atau lempung.  Lahan untuk budi daya bawang putih dapat berupa tanah sawah bekas tanaman padi atau tanah tegalan. Yang perlu diperhatikan adalah hindari menggunakan lahan bekas tanaman yang sefamili karena akan memudahkan berjangkitnya serangan hama dan penyakit. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, gulma, semak, maupun batu/kerikil

Persiapan lahan dilakukan dengan membersihkan permukaan lahan dari batu-batuan, gulma, semak ataupun sisa pertanaman sebelumnya. Kemudian lahan dibajak minimal sedalam 30 cm sampai gembur. Pembajakan tanah dimulai 21 hari sebelum tanam dan dapat dilakukan 2—3 kali dengan selang waktu satu minggu. Dianjurkan untuk menyemprotkan herbisida pratumbuh pada bedengan yang sudah jadi satu minggu sebelum tanam.  Kemudian dibuat bedengan yang disesuaikan luas lahan kurang lebih memiliki lebar 100 –120 cm dengan tinggi bedengan 15-30 cm dan parit diantara bedengan dengan lebar 30-40 cm.

Pemupukan dasar diberikan bersamaan saat oleh lahan, jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk organik dengan dosis 10 ton/ha, dan SP 36 300-500 kg/ha. Cara pem-berian pupuk organik adalah dengan cara disebar dan diaduk hingga merata pada lapisan olah, dan pemberian pupuk SP 36 adalah seluruh dosis dise-bar secara merata dipermukaan tanah. Sedangkan pertanaman bawang putih di lahan yang mempu-nyai jenis tanah andosol marginal kebutuhan pupuk organik akan lebih besar lagi yaitu 1 kg/lubang

 

  1. Pemasangan Mulsa

Penggunaan mulsa pada budidaya bawang putih dapat menggunakan mulsa plastik atau jerami. Pemasangan mulsa plastik lebih baik digunakan pada saat musim hujan, sedangkan penggunaan mulsa jerami lebih baik digunakan pada saat musim kemarau, pemasangan kedua mulsa tersebut juga memiliki perbedaan pada mulsa plastik dipasang sebelum waktu penanaman bibit sedangkan pemasangan mulsa jerami setelah dilakukan penanaman bibit bawang putih. Apabila pemasangan mulsa jerami dilakukan saat musim hujan akan menyebabkan kelembaban tanah terlalu tinggi sehingga kurang baik untuk pertanaman bawang putih. Sedangkan pemasangan mulsa plastik tidak di-anjurkan pada musim kemarau karena mulsa tersebut terlalu menyerap bahaya matahari dan sedikit memantulkan cahaya sehingga meningkatkan temperatur tanah, sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangn tanaman bawang putih.

  1. Pemeliharaan

Penyiangan gulma dan Pembubunan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan gulma dan penmbumbunan tanah, tujuannya agar struktur tanah dan kebersihan lahan tetap terjaga sehingga pertumbuhan tanaman bisa berjalan optimal. Pembumbunan tanah disekitar tanaman dilakukan untuk memperbaiki/ meninggikan bedengan yang sekaligus membersihkan lahan dari akar rumput yang masih tertinggal pada saat penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan membersihkan areal pertanaman dari gulma yang tumbuh. Waktu penyiangan dilakukan berbarengan dengan pemupukan yaitu pada 15, 35 dan 50 HST, frekuensi penyiangan gulma bisa ditambahkan jika laju pertumbuhan gulm cukup pesat. Ketika bawang putih sudah memasuki fase generatif sebaiknya kegiatan penyiangan dihentikn, karena bisa mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi.

Pemupukan

Kegiatan pemupukan menambahkan unsur hara kedalam tanah untuk memper-baiki kesuburan tanah, tujuannya adalah untuk menyediakan unsur hara yang dapat diserap untuk pertumbuhan tanamana. Pada tanaman bawang putih ter-dapat pemupukan susulan yaitu pemupukan susulan I pada bawang putih diberi-kan pada saat tanaman berumur 15 HST (hari setelah tanam) dengan dosis pupuk urea 200 kg/ha dan NPK 100kg/ha, pemupukan susulan II diberikan pada umur 35 HST dengan dosis urea 100 kg/ha dan NPK 200kg/ha dan pemupukan susulan III diberikan saat tanaman berumur 50-55 HST dengan dosis pupuk NPK sebanyak 300 kg/ha, cara pemberian pupuk susulan I, II dan III dengan cara dibenamkan dala larikan diantara barisan tanaman. Pada saat musim kemarau setelah pemupukan dilakukan pemberian air dengan cara di leb (genangi) secukupnya.

Pengairan

Pada fase awal pertumbuhan tanaman bawang putih memerlukan ketersediaan air yang cukup, penyiraman atau pengairan sebaiknya dilakukan 2-3 hari sekali, sedangkan didataran tinggi pengairan diberikan sampai dengn 3 kali setiap minggu. Sedangkan pada masa pembentukan tunas sampai pembentukan umbi pengairan dilakukan 7-15 hari sekali, dan pengairan baru diberhentikan pada saat pembentukan umbi maksimal atau 10 hari sebelum panen. Cara pemberian air dapat dilakukan dengan penyiraman atau penggenangan (leb). Waktu penyiraman yang paling baik adalah pada pagi hari atau sore hari, yaitu pada saat penguapan air dalam tanah dan suhu udaranya rendah.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Keberhasilan pengendalian OPT sangat tergantung pada identifikasi terhadap jenis OPT yang menyerang, dengan diketahui jenis OPT yang menyerang akan dapat ditentukan cara pengendalian yang tepat. OPT (Organinisme Pengganggu Tumbuhan) dibagi menjadi 2 yaitu : (1) Kelompok hama tanaman, yaitu ke-lompok OPT yang penyebabnya dapat dilihat dengan mata telanjang, serta (2) Kelompok penyakit tanaman, yaitu kelompok OPT yang penyebabnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

 

Hama Bawang Putih, antara lain :

  1. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

Ulat berwarna hitam keabu-abuan, Aktif pada senja hari

Gejala serangan : ditandai dengan tanaman atau tangkai daun rebah, karena dipotong pada pangkalnya.                                                                                                         

Tanaman inang : tanaman muda yang baru ditanam seperti cabai, tomat, terung, bayam, kangkung, paria, kacang panjang, dll.

Pengendalian : insektisida Fipronil 0,3 G sebanyak 15 kg/h

  1. Uret (Holotrichia sp)

Larva berwarna putih dengan bentuk tubuh membengkok. Aktif pada senja hari

Gejala serangan : ditandai dengan tanaman atau tangkai daun rebah, karena dipotong pada pangkalnya.

Tanaman inang: tanaman muda yang baru ditanam seperti cabai, tomat, terung, bayan, kangkung, paria, kacang panjang, dll.

Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida Fipronil 0,3 G sebanyak 15 kg/ha.

  1. Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.)

Serangga dewasa berupa lalat kecil yang beruku-ran ± 2 mm; Larva aktif mengorok dan membuat lubang pada jaringan daun.

Gejala serangan : pada daun terdapat bintik-bintik putih dan alur korokan yang berwarna putih.

Tanaman inang : cabai, tomat, seledri, kentang, kangkung, dll.

Pengendalian :

  • Pemasangan perangkap lekat warna kuning sebanyak 40-50 buah/ ha, dipasang pada saat tanam.
  • Aplikasi Steinernema spp 5 x 108 juvenil III/ha
  • Insektisida anjuran
  1. Ulat Bawang (Spodoptera exigua)

Larva berbentuk bulat panjang berwarna hijau atau coklat, Imago aktif pada malam hari.

Gejala serangan: ditandai dengan timbulnya bercak-bercak putih transparan pada daun.

Tanaman inang: bawang kucai, bawang daun, bawang putih, cabai, jagung, dll.

Pengendalian:

  • Musnahkan paket telur, larva, dan pupa yang ditemukan.
  • Mengendalikan hama ulat bawang dipasang perangkap Feromon Exi sebanyak 15-20 buah/hadan lampu perangkap sebanyak 10-15 buah/ha.
  • Menggunakan insektisida efektif: Hostation 40 EC, Dursban 20 EC, dosis sesuai anjuran.
  1. Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Warna ulat bervariasi tergantung jenis makanannya, Mempunyai tanda hitam yang menyerupai kalung pada lehernya, Aktif pada senja hari.

Gejala serangan : daun berlubang-lubang tidak beraturan.

Tanaman inang: cabai, bawang merah, tomat, terong, baym, kangkung, paria,dll.

Pengendalian :

  • Musnahkan paket telur, larva, dan pupa yang ditemukan,
  • Untuk mengendalikan hama ulat bawang dipasang perangkap Feromon Exi sebanyak 15-20 buah/hadan lampu perangkap sebanyak 10-15 buah/ha,
  • Menggunakan insektisida efektif : Hostation 40 EC, Dursban 20 EC, dosis sesuai anjuran
  1. Kutu daun bawang (Neotoxoptera formosana)

Serangga kecil dengan warna hitam kecoklatan, berukuran paling panjang 2 mm,

Nimfa dan imago menyerang daun-daun muda, dengan cara menusuk dan mengisap cairan daun, aktif sepanjang hari.

Gejala serangan: ditandai dengan perubahan tekstur daun menjadi keriput,  berwarna kekuningan, pertumbuhan tanaman kerdil, daun menjadi layu dan akhirnya mati.

Tanaman inang: bawang merah, bawang daun, dan bawang kucai Vektor Virus.

Pengendalian :

  • Aplikasi jamur entomo patogen B. bassiana berupa suspensi (biakan jagung)langsung dosis 1kg/ha langsung disemprotkan di habitat hama pada sore hari.
  • Menggunakan insektida anjuran
  1. Tungau

Ukuran sangat kecil, sekitar 0,25mm panjang, tidak bisa terlihat dengan mata telanjang

Hama ini mengeluarkan racun saat merusak bagian tanaman, sehingga men-imbulkan kerusakan yang bisa dikacaukan dengan virus (Tangle Top)·Dalam penyimpanan, bekas tusukan dipandang sebagai noda coklat cekung pada siung bawang putih dan dapat menyebabkan pembusukan dan mendorong tim-bulnya penyakit

Gejala serangan daun bengkok & pertumbuhan kerdil. Vektor untuk virus

Pengendalian : Menggunakan insektisida berbahan aktif amitraz(Rotraz), dimetoat (Roxion 40 EC) 2 ml per liter tiap minggu dimulai pada umur 9 minggu sampai dengan 2 minggu sebelum panen.

  1. Thrips (Thrips tabaci.)

Nimfa dan imago menggaruk dan mengisap cairan daun muda atau pucuk daun

Warna nimfa kuning pucat sedangkan imago kuning sampai coklat kehitaman

Ukurannya sangat kecil (1mm), Aktif sepanjang hari, Siklus hidupnya cepat 7-12 hari.

Gejala serangan : ditandai dengan adanya daun yang berwarna putih seperti perak, pada serangan berat daun bawang seluruhnya menunjukkan warna putih Pada musim kemarau populasinya tinggi, namun rendah pada musim hujan

Tanaman inang : bawang merah, cabai, terung, tembakau, kopi, ubi jalar, se-mangka, kentang, tomat, dll.

Pengendalian :

  • Rotasi Tanaman
  • Bertanam serentak
  • Pemasangan perangkap lekat warna kuning sebanyak 40-50 buah/ ha, dipasang pada saat tanam
  • Aplikasi jamur entomo patogen B. bassianaberupa suspensi (biakan jagung)langsung dosis 1kg/ha langsung disemprotkan di habitat hama pada sore hari.
  • Menggunakan insektisida anjuran (Padan 50 SP, Pegasus, Misurol) dengan inter-val 7 hari terutama pada waktu tanaman baru tumbuh sampai kurang lebih umur 10 minggu.

 

 

Penyakit Bawang Putih, antara lain :

  1. Trotol/ mati pucuk (Alternaria porri)

Penyakit bercak ungu atau trotol disebabkan oleh cendawan Alternaria porri, dapat menyebabkan kerugian 50 –90 %

Patogen ditularkan melalui udara. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan suhu udara rata-rata di atas 26oC.

Gejala serangan ditandai dengan terdapatnya bintik lingkaran berwarna ungu pada pusatnya, yang melebar menjadi semakin ti-pis. Bagian yang terserang umumnya ber-bentuk cekungan. Cendawan juga menyerang umbi sehingga dapat menulari umbi lainnya.

Penyakit berkembang apabila kelembaban tinggi, disertai suhu tinggi, pemberian pupuk N yang tinggi dan drainase yang kurang baik

Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan tanaman bawang-bawangan lainnya.

Pengendalian :

  • Pemusnahan total bagian tanaman yang terinfekksi.
  • Rotasi tanaman
  • Perlakuan terhadap bibit dengan fungisida yang dianjurkan dengan takaran 10 gr/10kg umbi.
  • Untuk menghindari menempelnya konidia patogen di daun, dianjurkan untuk me-nyemprot/ menyiram/ mencuci daun dengan air bersih saat setelah turun hujan.
  • Menggunakan fungisida efektif seperti Antracol 70, Daconil 70 WP. Dosis sesuai anjuran
  1. Antraknos/Otomatis (Colletotrichum gloeosporioides)

Penyakit otomatis atau antraknos pada bawang merah disebabkan oleh cendawan C. gloeosporioidesdan C. capsici. keduanya patogenik terhadap semua jenis bawang-bawangan seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, dan bawang daun.

Gejala serangan ditandai adanya bercak putih yang melekuk ke dalam. Pada bagi-an tengah bercak terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spo-ra.

Pengendalian : menggunakan fungisida anjuran.

  1. Embun bulu/ lodoh (Peronospora destructor)

Penyakit embu bulu atau busuk daun (downy mildew) disebabkan oleh cendawan Peronospora destructoryang menyerang tanaman bawang merah, bawang daun, dan bawang-bawangan lainnya.  Patogen penyakit embun bulu ditularkan melalui angin.

Gejala serangan pada tanaman bawang merah ditandai daun berwarna pucat dan menguning. Bila udara lembab, daun yang terserang akan menunjukkan bintik-bintik berwarna ungu dan membusuk, sedangkan bila udara kering daun yang terserang akan menunjukkan bintik-bintik putih.

Kondisi optimum untuk perkembangan penyakit ini ialah pada suhu 15o C dan kelembaban tinggi terjadi selama 6-12 jam.

  1. Penyakit layu fusarium

Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum, me-nyerang daun dan pangkal daun

Patogen ditularkan melalui umbi bibit, udara, tanah dan air. Bersifat tular tanah dan berkembang mengikuti aliran air, spora dapat bertahan lama di tanah

Gejala serangan ditandai dengan daun menguning dan terpelintir, selanjutnya layu. Tanaman mudah dicabut, karena pertumbuhan akar terganggu (membusuk).  Jika terinfeksi melalui benih, gejala serangan mulai terlihat pada umur 7-14 hari setelah tanam, sedangkan jika terinfeksi melalui tanah, gejala serangan mulai terlihat pada umur lebih dari 30 hari setelah tanam

Tanaman inangnya antara lain ialah buncis, cabai kentang, kacang panjang, labu, mentimun, oyong, paria, seledri, semangka, tomat, dan terung.

Pengendalian:

  • Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya·Drainase di jaga sebaik mungkin dan kebersihan lingkungan dijaga
  • Pencegahan di daerah endemis Fusarium, perlu perlindungan benih dengan menaburkan fungisida dosis 100 gram/100 kg benih yang diberikan dua atau tiga hari sebelum tanam atau benih direndam selama 15 menit dalam larutan Trichoderma 10-20 ml/1 liter air.
  • Menggunakan pupuk organik plus agensia hayati Trichoderma spatau Gliocladium sp sebanyak 10-15 kg/ha yang ditaburkan pada bedengan sebelum tanam.
  • Menggunakan fungisida Dithane M-45, Antracol 70 WP, dosis sesuai anjuran,
  1. Penyakit busuk leher akar (Botrytis allii)

Penyakit busuk leher akarl disebabkan oleh cendawan Botrytis allii. Patogen ditularkan melalui udara. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan suhu udara rata-rata di atas 15-20oC, lahan yang becek dan lembab

Gejala serangan ditandai dengan leher tanaman melunak kemudian membusuk

Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan tanaman bawang-bawangan lainnya

  1. Penyakit virus kompleks

Penyakit virus kompleks dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus, seperti virus mosaik, virus daun menggulung, virus Y, dll.

Pada umumnya penyakit virus ditularkan oleh serangga vektor seperti kutu daun atau oleh tangan, peralatan pertanian, dll.

Gejala serangan virus kompleks sangat bervariasi. Namun demikian gejala umum yang tampak pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang mempunyai beberapa corak. Bagian daun yang klorosis dapat berwarna hijau muda sampai kuning, bahkan mendekati putih. Seringkali permukaan daun men-jadi tidak rata atau tampak mempunyai lekuk-lekuk hijau tua.

Tanaman inangnya antara lain ialah tomat, kentang, cabai, kacang-kacangan, mentimun dan bawang-bawangan.

 

  1. Panen dan Pasca Panen

Panen

Panen merupakan proses pengambilan umbi bawang putih yang sudah menunjukkan ciri masak panen optimal, yaitu ada perubahan warna tangkai daun dari hijau segar menjadi kekuningan yang bukan disebabkan oleh penya-kit. Bawang putih yang akan dipanen harus mencapai cukup umur. Tergantung pada varietas dan daerah.

Tanaman bawang putih dapat dipanen pada umur 4 bulan setelah tanam atau umur panen yang biasa dijadikan pedoman adalah an-tara 90-120 hari. Umbi bawang putih siap panen bila pangkal batang sudah mulai mengeras dan umbi mulai keluar keatas permukaan tanah atau dapat dilakukan jika lebih dari 50% tanaman memiliki ciri-ciri daunnya menguning serta kering dengan tingkat kelayuan 35-60 %.

Cara panen bawang putih, sebagai berikut :

1) Sehari sebelum panen, lakukan penyiraman pada pagi hari dan pada sore harinya lakukan penggemburan lahan pertanaman bawang putih;

2) Sehari setelah digemburkan tanahnya, lakukan pencabutan tanaman bawang putih sampai semua umbi terangkat semua dan dengan hati-hati jangan sampai umbi patah;

3) Tanaman bawang putih yang telah dicabut diikat sebanyak 30 tangkai tiap ikat dan dikumpulkan di tempat yang teduh;

4) Bawang putih yang sudah dipanen ditimbang lalu dibawa ke tempat pengumpulan hasil panen untuk proses pasca panen.

Pascapanen

Pascapanen bawang putih merupakan tindakan yang dilakukan setelah panen, mu-lai dari pengeringan, pembersihan, sortasi, grading, penyimpanan, dan pengema-san. Bawang putih setelah panen dilakukan pengumpulan dengan cara mengikat batang semu bawang putih menjadi ikatan-ikatan kecil dan diletakkan di atas anyaman daun kelapa sambil dikeringkan untuk menjaga dari keru-sakan dan mutunya tetap baik.

Penyusun :  Ely Novrianty

Sumber :

Sandrakirana, R et all.   2018.  Panduan Budidaya Bawang Putih.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa   Timur.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.  Kementerian Pertanian.

Titisari, A et all.  2019. Kiat Sukses Budidaya Bawang Putih.  Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Informasi Pertanian.  Kementerian Pertanian.  Bogor

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook