Materi Penyuluhan

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH GANDUM

Jum'at, 04 Sep 2020
Sumber Gambar : balitsereal.litbang.pertanian.go.id

Gandum (Triticum aestivum L.) adalah salah satu serealia yang merupakan bahan makanan pokok selain beras. Gandum cukup terkenal sebagai sumber bahan makanan alternatif dibandingkan bahan makanan lainnya sesama serealia karena kandungan gluten dan proteinnya yang cukup tinggi. Kandungan gizi gandum terdiri dari karbohidrat 60-80%, protein 6-17%, lemak 1,5-2,0%, mineral, 5-2,0%, dan sejumlah vitamin. Saat ini ketergantungan masyarakat Indonesia akan produk gandum semakin tinggi.

Sistem produksi benih gandum menekankan pada dua aspek yang menjadi persyaratan utama yaitu standar lapangan dan laboratorium. Selain itu, ada tiga hal yang menjadi perhatian: (1) Kualitas benih harus lebih baik daripada kualitas biji. Oleh karena itu, perhatian dan input diberikan dalam sistem produksi benih lebih besar dibandingkan dengan sistem produksi biji; (2) Kesuburan lahan lebih seragam untuk memudahkan seleksi dan rouging terhadap tipe tanaman yang menyimpang (off type); dan (3) Fasilitas pendukung tersedia pada saat dibutuhkan, seperti tenaga kerja, roguing, pemeliharaan tanaman, panen, prosesing dan penyimpanan hasil.

PEMILIHAN LOKASI

Lokasi produksi benih memiliki temperatur malam 150C dan pada siang hari 26 - 280C, tanah remah dan subur, pada waktu tanam masih ada curah hujan atau dapat diairi, pada waktu menjelang panen tidak ada hujan. Keadaan yang demikian dapat ditemukan pada dataran tinggi yang biasa ditanami sayur-sayuran. Bekas tanaman sayuran memiliki tanah yang subur karena memanfaatkan sisa pupuk organik yang diberikan sebelumnya. Satu lokasi disarankan hanya satu varietas, untuk menghindari campuran dari varietas lain yang terjadi pada waktu panen, pengangkutan, prosessing benih. Apabila satu lokasi untuk dua atau lebih varietas maka jarak antara blok minimal 3 m, karena walaupun gandum termasuk tanaman menyerbuk sendiri, tetapi masih ada penyerbukan silang yang pada umumnya kurang dari 2%. Tanaman terdahulu sebaiknya bukan bekas pertanaman gandum dari varietas yang berbeda, untuk menjaga sisa-sisa biji yang dapat berkecambah kembali, lahan sebaiknya dibajak dan digaru ulang.

PENGOLAHAN TANAH

Tanah diolah sampai gembur, diratakan dan dibuat bedengan dengan lebar 2-3 m, dan antar bedengan dibuat saluran. Pembuatan bedengan bertujuan untuk memudahkan penyiangan, pengairan dan roguing, dan pemeliharaan lainnya. Apabila di areal tanaman banyak tumbuh gulma maka perlu disemprot terlebih dahulu dengan herbisida seperti paraquat diklorida, glifosat, dan herbisida lainnya. Setelah itu tanah baru diolah. Kesuburan tanah dalam satu bedeng hendaknya seragam untuk memudahkan menentukan tanaman tipe simpang. Apabila tanah tidak seragam kesuburannya maka ada kemungkinan perbedaan tinggi tanaman, yang dapat menimbulkan kesalahan pada pencabutan tipe tanaman simpang.

PENANAMAN

Untuk mencapai hasil yang tinggi penanaman harus tepat waktu sehingga pembijian jatuh pada saat curah hujan sudah berkurang. Hujan yang terlalu banyak waktu pembijian menyebabkan biji banyak yang hampa dan mudah terinfeksi cendawan.

PENYIAPAN BENIH

Benih yang digunakan untuk produksi benih sebaiknya bermutu (genetik, fisik, fisiologis). Benih sumber yang digunakan untuk perbanyakan benih kelas dibawahnya biasanya disimpan dalam gudang penyimpanan untuk jangka waktu tertentu, sehingga dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan menurunnya vigor benih. Demikian juga kondisi lapangan yang tidak optimum, dapat menyebabkan rendahnya persentase tanaman tumbuh. Perlakuan priming/invigorasi benih dapat meningkatkan  viabilitas dan vigor awal benih di lapangan. Priming ialah proses yang mengontrol hidrasi/dehidrasi benih untuk proses-proses metabolik yang berlangsung sebelum terjadinya perkecambahan. Selain itu, priming dapat meningkatkan daya berkecambah, kecepatan tumbuh kecambah, memperbaiki vigor tanaman dan hasil biji. Priming dengan menggunakan air (hydropriming), larutan KCl, dan CaCl2  dapat meningkatkan daya berkecambah benih di lapangan.

JUMLAH/TAKARAN BENIH

Takaran benih yang optimum bervariasi, bergantung pada varietas, lokasi dan cara penanaman. Kebutuhan benih untuk setiap hektar lahan adalah 100 kg dengan daya kecambah 100%, bebas dari hama penyakit, dan kemurniannya terjamin. Apabila daya tumbuh kurang maka jumlah benih harus ditambah. Pada daya tumbuh benih 80% dan 90%, jumlah benih yang digunakan masing-masing menjadi 125 dan 110 kg/ha. Jarak antara barisan 25 cm, biji disebar dalam barisan, dan takaran 2,5 g per m baris. Apabila bobot 1000 biji sekitar 40 g maka dalam 1 m baris ada sekitar 60 biji. Barisan tanaman dibuat dengan cara larikan sedalam ± 5 cm dan benih disebar merata dalam larikan dan ditutup dengan tanah. Jarak antara varietas minimal 3 m, untuk menghindari persilangan antar varietas dan tercampurnya satu varietas dengan varietas yang lain pada saat panen. Herbisida pratumbuh dapat digunakan untuk mencegah tumbuhnya gulma sehingga gandum dapat tumbuh baik.

UKURAN BENIH

Benih gandum berukuran besar menghasilkan kecambah yang lebih vigor dibandingkan benih berukuran kecil. Gandum ukuran biji besar mempunyai daya berkecambah,kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan biji gandum ukuran kecil pada varietas yang sama. Hasil benih gandum ukuran biji besar lebih tinggi dibanding ukuran biji kecil. Benih gandum bervigor rendah menghasilkan persentase tumbuh dan hasil benih yang lebih rendah.

PEMUPUKAN, PENYIANGAN, DAN PENGAIRAN

Takaran pupuk yang digunakan adalah 120-135 kg N, 50-72 kg P2O5 dan 50 kg K2O, bergantung pada tingkat kesuburan lahan produksi benih. Pupuk P dan K diberikan seluruhnya pada waktu tanam atau paling lambat 10 hari setelah tanam (HST). Pupuk N dapat diberikan dua kali, yaitu pada waktu tanam dan umur 30 HST, masing-masing 1/3 dan 2/3 bagian. Pemberian pupuk dua kali atau lebih dianjurkan apabila gandum ditanam pada musim kemarau sehingga kehilangan pupuk lebih sedikit. Pupuk diberikan secara larikan, ± 10 cm disamping tanaman, dan ditutup dengan tanah. Tanaman harus bersih dari gulma, gangguan gulma pada fase vegetatif dapat menurunkan hasil sampai 50%. Apabila tidak menggunakan herbisida pratumbuh maka tanaman disiangi pada umur 15 dan 30 HST. Apabila masih banyak rumput, tanaman disiangi lagi menjelang berbunga. Apabila tidak ada hujan maka pengairan dilakukan melalui antara bedengan sehingga tanah menjadi cukup lembab, dengan cara ini pengairan dilakukan tiap 3 - 4 minggu sekali. Tanaman dapat pula diairi dengan springkel, dan jumlah pengairan bergatung pada besarnya air. Pengairan menambah biaya sehingga gandum perlu ditanam pada waktu masih ada hujan, yaitu pada bulan Maret-April.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Pengendalian hama utama tanaman gandum dilakukan dengan penanaman varietas tahan atau menggunakan pestisida carbamyl, carbofuran, dan deltametrin. Untuk mengurangi tingkat penularan penyakit dapat digunakan fungisida ditiokarbamat.

ISOLASI

Isolasi dalam produksi benih gandum bertujuan agar tanaman terbebas dari kontaminasi (genetik, fisik, dan patologik). Kontaminasi dapat dikurangi atau dicegah dengan tidak menanam tanaman pada lahan yang telah ditanami gandum dari varietas berbeda. Jarak minimum isolasi yang disyaratkan dalam produksi benih gandum bergantung pada aturan sertifikasi benih dari tiap negara dan kelas benihnya. Gandum merupakan tanaman menyerbuk sendiri, penyerbukan silang hanya terjadi 1-4%. Meskipun demikian, risiko genetik akibat penyerbukan silang sangat kecil. Isolasi hanya diperlukan untuk meminimalkan kontaminasi fisik. Dalam produksi benih gandum, isolasi jarak lebih penting digunakan pada tanaman peka terhadap penyakit tertentu, misalnya karat. Agar lebih aman dari kontaminasi, sebaiknya produksi benih untuk satu varietas terpisah dari varietas lainnya.

ROGUING

Roguing ialah kegiatan mengeluarkan tipe tanaman yang tidak sesuai dari lahan produksi benih. Roguing bertujuan untuk mempertahankan kemurnian benih dari aspek genetik, fisik, fisiologis varietas dan spesies tanaman agar benih terbebas dari penyakit terbawa benih (seed borne disease). Tanaman yang tidak sesuai ialah: (1) Tanaman tipe simpang (off-types) dari satu varietas yang sama; (2) Varietas lain dari spesies yang sama; (3) Spesies tanaman lain yang memiliki karakteristik benih dan tipe pertumbuhan tanaman serupa; (4) Gulma; dan (5) Tanaman yang terinfeksi dengan penyakit terbawa benih. Tipe simpang dapat dilihat dari jumlah anakan, umur berbunga, tinggi tanaman, tanaman terserang hama dan penyakit. Umur berbunga juga dipengaruhi oleh kelembaban dan jika kelembaban tanah tinggi maka umur berbunga meningkat. Waktu roguing terbaik dilaksanakan pada saat keluar malai (heading) dan fase pemasakan (maturity), karena pada saat ini tanaman tipe simpang dan tanaman yang terinfeki penyakit lebih mudah diidentifikasi. Pelaksanaan roguing di lapangan sebaiknya dilakukan secara seksama dan hati-hati. Jika tanaman tipe simpang tetap dibiarkan di lapangan dan terbawa hingga panen sulit memisahkannya pada saat prosesing.

PANEN DAN PERONTOKAN

Panen dilakukan pada saat tanaman telah menunjukkan tanda-tanda siap dipanen, yaitu biji telah cukup masak, sudah keras dan bila digigit tidak keluar cairan. Batang dan daun kelihatan kuning dan berwarna putih keabu-abuan, demikian juga kelopak buah. Panen sebaiknya jangan ditunda. Kelambatan panen 5-10 hari dapat menyebabkan kehilangan hasil 2-5% tiap hektar, terutama pada gandum yang mudah rontok. Gandum dipanen pada kadar air biji 20-22%. Untuk benih, biji dikeringkan sampai mencapai kadar air 9-10%.

Tanaman yang sudah dipanen dikeringkan hingga mencapai kadar air 15-18%. Pada kadar air biji di bawah 15% terjadi kerusakan benih akibat retak. Sebaliknya, jika kadar air biji masih di atas 18% berpeluang terjadinya kerusakan mekanis. Kerusakan mekanis berpengaruh terhadap daya berkecambah dan vigor benih dan memudahkan terjadinya infeksi jamur. Setelah panen, gandum langsung dikeringkan dan dilepaskan bijinya menggunakan thresher. Pada kondisi tertentu, seperti panen pada musim hujan, gandum ditumpuk dan pengeringannya tidak sempurna sehingga terjadi penurunan mutu fisik dan fisiologis benih.

Benih gandum yang disimpan di dalam gudang tidak diletakkan langsung ditas lantai, tetapi di atas rak kayu yang sudah tertata rapi. Penyimpanan benih dalam kemasan/wadah/plastik kedap udara dalam gudang berdinding tembok dan tidak bersentuhan langsung dengan lantai gudang mempertahankan daya berkecambah benih. Penyimpanan benih terbaik ialah dalam wadah kedap udara dan terdapat kontrol kelembaban dan suhu ruang simpan.

 

 

Disusun oleh       :   Rahmawati Penyuluh Pertanian Ahli

Sumber               :   balitsereal.litbang.pertanian.go.id

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook