Materi Penyuluhan

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SAGU

Selasa, 30 Jun 2020
Sumber Gambar : Google.com

Tanaman sagu (Metroxylon sp) dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat; bulung, kresula, bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia atau napia di Ambon; tumba di Gorontalo; Pogalu atau tabaro di Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru. Pertanaman sagu di Indonesia berada di wilayah Irian Jaya, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Sagu mempunyai peranan sosial, ekonomi dan budaya yang cukup penting di Propinsi Papua karena merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat terutama yang bermukim di daerah pesisir. Tanaman sagu belum dibudidaya secara intensif di tingkat masyarakat/petani, sehingga dikhawatirkan populasi atau plasma nutfah sagu akan mengalami kepunahan.

Syarat  Tumbuh

Pertumbuhan dan produksi sagu dipengaruhi oleh faktor genetis dan agroklimat. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai jenis sagu dan kondisi agroklimat suatu daerah dalam rangka pengusahaan sagu sangat penting.

1.  Iklim

     Tanaman sagu memerlukan ketersediaan air yang cukup semasa pertumbuhannya. Suplai air melalui hujan antara 2.000 – 4.000 mm/tahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Bulan basah antara 4 – 9 bulan berturut-turut, dengan bulan kering tidak lebih dari 2 bulan berturut-turut. Kawasan yang cocok untuk pengembangan sagu sebaiknya mempunyai jumlah curah hujan 2.500 – 3.500 mm dan jumlah hari hujan 142 – 209 HH per tahun. Tanaman sagu tidak terlalu baik jika tergenang permanen. Hasil penelitian dan informasi dari berbagai sumber menyatakan bahwa genangan (tidak permanen) setinggi < 50 cm yang terbaik.  Suhu optimum 24,5 – 29oC dengan kelembaban 40 - 60%  serta tertinggi 90%. Tanaman sagu sebagaimana tanaman palma umumnya memerlukan intensitas dan lama penyinaran yang cukup tinggi. Sebaran atau agihan populasi sagu tertinggi terdapat di koordinat antara 10oLS – 15oLU dan 150oBT.

 2. Lahan

     Topografi umum dari kawasan pertanaman sagu dari jenis Metroxylon sp. yaitu datar, landai hingga bergelombang. Tipe lahan rawa dan gambut atau sepanjang pinggiran sungai merupakan tempat tumbuh ideal bagi jenis ini. Kawasan sagu yang mendapat genangan periodik atau pengaruh pasang-surut atau penataan sistem drainase yang baik dapat meningkatkan penampilan sagu. Pergantian air segar yang masuk ke kawasan pertanaman sagu akan membawa beberapa unsur hara yang dibutuhkan sagu seperti potassium, fosfat, kalsium, dan magnesium. Tanaman sagu dapat tumbuh dan berkembang hingga ketinggian 700 m, tapi ketinggian optimal yaitu 70%, dengan bahan organik 30% dan pH tanah 5.5 – 6.5, tetapi sagu masih bisa beradaptasi dengan kemasaman lebih tinggi. Jenis-jenis tanah seperti liat kuning coklat atau hitam dengan kadar organik tinggi, kemudian tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, aluvial, hidromorfik kelabu tidak menjadi masalah bagi perkembangan sagu.

Penanaman Sagu

Sagu ditanam dengan jarak yang bervariasi mulai dari 8 m hingga 10 m dengan sistem tanam segi empat. Jarak dan sistem tanam disesuaikan dengan jenis sagu karena berhubungan dengan ukuran tajuk. Jika memungkinkan, jenis sagu berbeda ditanam terpisah, membentuk blok pertanaman yang berukuran tertentu misalnya 1 ha. Sagu ditanam pada lubang dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm. Benih yang ditanam sebaiknya diberi penahan dari gaba-gaba (tulang daun) dan diletakkan menyilang di bagian depan dari batang benih setelah ditimbun dengan tanah sebatas leher benih. Tingkat keberhasilan tanaman muda di areal pertanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air. Itulah sebabnya, dianjurkan penanaman dilakukan saat musim hujan atau tergantung pada ketersediaan air di lokasi pertanaman. Daun benih dipangkas (30-50 cm dari banir) untuk memperkecil transpirasi dan diberi naungan. Kelebihan dari tanaman sagu yaitu penanaman hanya dilakukan sekali dan tidak ada istilah “peremajaan” tetapi pengurangan atau pengelolaan anakan per rumpun. Jadi, budidaya sagu merupakan usahatani paling “efisien” dibanding tanaman tahunan/perkebunan lainnya.

Keberhasilan budidaya sagu ditentukan oleh kemampuan petani mengendalikan populasi anakan atau tanaman sagu dalam satu rumpun. Populasi anakan hanya dapat dikendalikan dengan cara memangkas atau mengurangi jumlah anakan. Komposisi jumlah anakan berdasarkan fase pertumbuhan dalam satu rumpun akan mempengaruhi pertumbuhan, produksi, dan periode panen. Itulah sebabnya, setiap rumpun sebaiknya terdiri atas 8-10 tanaman sagu dengan fase pertumbuhan berbeda.

Keunikan dari tanaman sagu yaitu anakan dalam rumpun bisa muncul di berbagai arah dan jarak dari pusat rumpun yang beragam. Jika tidak dikelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin antar rumpun akan saling bertemu, sehingga jika dibiarkan akan terbentuk kembali kawasan hutan sagu. Untuk mencegah hal tersebut, maka pengaturan anakan sagu sekaligus diarahkan untuk tetap mempertahankan area cakupan tiap rumpun. Jika terencana dengan baik, maka rumpun sagu tidak akan bergeser dari titil ajir awal penanaman.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan sagu tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan pada tanaman tahunan lainnya. Secara umum, pemeliharaan tanaman meliputi pengendalian gulma (blok maupun per tanaman atau per rumpun), pengendalian OPT utama, penjarangan anakan, serta pengamanan lokasi pengembangan tanaman. Pengendalian gulma dilakukan sesuai pengamatan di lapangan, sebaiknya rutin dilakukan 3-4 kali setahun. Pengendalian gulma berguna untuk memperkecil kompetisi hara juga menghilangkan inang bagi OPT. Pengendalian gulma bisa secara mekanis (pembabatan) atau menggunakan herbisida.

Hama dan penyakit utama pada tanaman sagu tidak terlalu berbeda dengan di tanaman palma lainnya. Hama utama yang menyerang sagu yaitu Oryctes rhinoceros, L, Rhinchophorus ferrugineus Oliver, Sexava spp, dan Artonaspp., juga babi hutan dan kera. Umumnya pengendalian masih menggunakan pestisida dan penyemprotan hanya dilakukan jika ada serangan yang telah melewati ambang batas. Penyakit yang umum menyerang sagu yaitu cendawan Cercospora sp. pada daun.

Pemanenan

Karakter utama pohon sagu siap panen secara visual (langsung terlihat di kebun/hamparan) yaitu berdasarkan pada ukuran morfologi. Kriteria tersebut yaitu ukuran batang dan tinggi terbesar dalam satu rumpun dan jumlah daun di pucuk/mahkota yang berjumlah antara 3-4 pelepah, dan belum muncul bunga (bagian pucuk kelihatan membengkak). Keterlambatan panen (bunga pada pohon sagu telah mekar) menyebabkan penurunan rendemen pati yang sangat tinggi.

 

Rahmawati (BBP2TP Kementan)

Sumber :

Permentan RI No. 134/Permentan/OT.140/12/2013 tentang Pedoman Budidaya Sagu (Metroxylon spp) Yang Baik

http://disnakbun.banjarkab.go.id/teknik-budidaya-tanaman-sagu/

 

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook