Diseminasi Teknologi

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT JAMBU AIR

Jum'at, 26 Jun 2020
Sumber Gambar : banten.litbang.pertanian.go.id

PENDAHULUAN

 

Tanaman Jambu Air (Syzygium aqueum) telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, tanaman ini sering ditanam sebagai tanaman pekarangan di rumah-rumah penduduk tanpa perawatan sama sekali. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini sudah mulai tumbuh petani yang menanam jambu air secara monokultur di lahan yang mereka miliki.

Menurut data Badan Pusat Statistik produksi jambu air di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebesar 787,3 ton (BPS, 2019). Angka tersebut relative masih kecil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Bangka Belitung. Potensi pengembangan Jambu Air di Bangka Belitung relative masih besar. Hal ini didukung pula dengan harga pasar saat ini yang cukup menggiurkan yaitu Rp. 20.000-25.000/Kg untuk buah Jambu Air segar.

Pada umumnya jambu air dimakan segar, tetapi dapat juga dibuat sirop, jeli, jam/berbentuk awetan lainnya. Selain sebagai buah meja, jambu air juga dijadikan koktail. Kandungan kimia yang penting dari jambu air adalah gula dan vitamin C. Buah jambu air masak yang manis rasanya, selain disajikan sebagai buah meja juga untuk rujak dan asinan. Kadang-kadang kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat, diantaranya sebagai obat sariawan. Untuk obat sariawan dipakai 10 gram kulit batang jambu air yang masih muda, dicuci dan ditumbuk halus ditambah setengah gelas air matang dan disaring. Hasil saringan digunakan untuk berkumur-kumur. Disamping itu diduga bahwa jambu air berpotensi sebagai senyawa anti-Mycobacterium tuberculosis.

 

 SYARAT TUMBUH JAMBU AIR

 

Untuk wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung varietas Jambu Air yang dominan yang ditanam oleh petani adalah Jambu Air Citra dan Cincalo. Tanaman jambu air dapat tumbuh baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi hingga ketinggian 1000 m dpl. Pada daerah dengan curah hujan sedikit atau memiliki musim kemarau minimal selama 4 bulan, rasa buah akan menjadi lebih manis. Angin dan keberadaan serangga juga memegang peranan penting dalam pembentukan buah karena penyerbukan bunga sangat tergantung kepada angin dan serangga.

Tanah yang diperlukan untuk bertanam jambu air adalah tanah yang datar, subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik serta pH berkisar antara 5,5 – 7,5 . kedalaman kandungan air tanah berkisar antara 0-200 cm. Walaupun demikian jambu air masih dapat bertahan hidup  pada daerah berpasir dan berbatu kapur dengan kandungan bahan organik yang sangat rendah. Di India tanaman ini ditanam di sepanjang aliran sungai.

 

HAMA DAN PENYAKIT JAMBU AIR SERTA PENGENDALIANNYA

Selain ketersediaan bibit, hal penting yang perlu dilakukan dalam pengembangan jambu air adalah pengendalian hama penyakit. Dengan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu diharapkan panen Jambu Air petani dapat maksimal. Mengenal gejala dan pengendalian hama dan penyakit menjadi kewajiban bagi setiap petani Jambu Air. Berikut ini disajikan hama dan penyakit tanaman Jambu Air yang selalu menjadi masalah bagi petani yang membudidayakannya.

 

1.   Ulat kupu-kupu gajah

Ciri: panjang 12 cm, warna hijau muda kebiru-biruan, bertubuh gemuk dan lunak, tertutup lapisan lilin keputih-putihan. Gejala serangan :Telur-telurnya berwarna merah muda, ditaruh di tepi daun, 2-3 butir bersama-sama. Kepompong berada di antara beberapa daun atau di sebelah bawah daun. Larva akan memakan daun dengan sangat rakus.

Pengendalian: dengan cara mengumpulkan telur, ulat, dan kepompong untuk dimusnahkan.

 

2.   Kutu perisai hijau

Ciri-ciri: panjang kutu 3-5 mm, warna hijau (kadang agak kemerahan). Kutu tersebut melekat pada bagian- bagian pohon yang hijau dan di bagian bawah daun, menyebabkan terjadinya cendawan hitam seperti jelaga.

Pengendalian: secara alami dimakan oleh beberapa macam kepik (merah tua, panjang 5 mm dan biru panjang 6 mm) dan ulat (warna merah muda, panjang 13 mm). Kutu ini di musim penghujan bisa musnah oleh serangan beberapa macam cendawan

 

  1. Lalat buah (Dacus pedestris dan Bactrocera albistrigata )

Serangannya pada buah. Lalat ini meletakkan telurnya pada daging buah, sehingga setelah menetas larvanya memakan buah jambu air.

 

Pengendalian: dengan insektisida Diazinon atau Bayrusil yang disemprotkan ke pohon, daun, dan buah yang masih pentil dengan dosis sesuai anjuran. Disamping itu dapat juga dikendalikan dengan pemasangan alat perangkap yang diberi zat penarik lalat jantan methyl eugenol yang dapat menurunkan populasi.

 

4.   Penggerek batang

Pengendalian: dengan cara menyumbatkan kapas yang telah direndam insektisida Diazinon atau Bayrusil kedalam lubang batang yang digerek.

 

  1. Hama penggulung daun (Apoderus sp)

Serangga dewasa meletakkan telur di permukaan daun. Setelah menetas larva merobek ujung daun kemudian menggulungnya dari arah pinggir, sehingga gulungan daun tampak menggantung. Intensitas serangan yang tinggi terjadi pada musim kemarau. Pengendalian: pada serangan ringan dapat dilakukan dengan cara mengambil gulungan daun dan memusnahkan serangga hama, sedangkan pada populasi tinggi dilakukan penyemprotan dengan insektisida.

 

  1. Kutu putih (Pseudococcus sp)

Kutu putih biasanya melekat pada tangkai buah dan daun. Hama ini menghisap cairan buah sehingga pertumbuhan buah terhambat.

Pengendalian : dengan musuh alami semut hitam atau dengan penyemprotan akarisida.

 

7.   Gangguan pada akar

Pemupukan yang kurang hati-hati pada jambu air yang sedang berbuah dapat menyebabkan akar tanaman luka, maka bunga atau buah jambu air bisa rontok. Semua ini terjadi karena tanaman tidak mendapat suplai air dan zat makanan sebagaimana mestinya akibat rusaknya akar tersebut. Selain itu tanah yang berlebihan suplai air juga dapat merontokkan bunga/buah, sebab air yang menggenang membuat akar susah bernafas dan mengundang cendawan yang bisa membusukkan akar.

 

8.   Kanker bercak

Penyebab : Pythium palvimora, terutama menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebarannya oleh spora secara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air. Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 12-35 ºC. Gejala: kulit batang jambu air yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap;

Pengendalian: perbaikan drainase agar air hujan tidak mengalir di permukaan tanah dan untuk batang yang sakit, dilakukan pemotongan kulit yang sakit sampai ke kayunya yang sehat dan potongan tanaman yang sakit harus dibakar, sedangkan bagian yang terluka diolesi fungisida, misalnya difolatan 4 F 3%.

 

9.   Gangguan pada buah

Penyebab : ulat dan lalat buah serta sejenis cendawan yang mengakibatkan buah rontok, dan busuk. Serangga ini    langsung    menyerang    buah    dengan    ciri noda berwarna kecoklatan atau kehitaman pada permukaan buah.

Pengendalian : melakukan pembungkusan buah dengan dibungkus kertas bekas/koran/plastic bekas pada putik buah yang baru muncul.

 

 

PENUTUP

 

Penerapan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu dapat menekan kerugian petani. Oleh karena itu pengenalan ciri dan karakteristik setiap serangan HPT harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya diperlukan pengetahuan yang tepat mengenai pengendalian Hama dan Penyakit yang munyerang tanaman Jambu Air tersebut.

 

Ditulis Oleh             : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)

Sumber Bacaan       :

  • Badan Pusat Statistik. 2019. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dalam Angka. Halaman 192-195.
  • Kuswandi. 2008. Petunjuk Teknis Produksi Benih Jambu Air Secara Klonal. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
  • Feriadi, at.,al. 2013. Laporan Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari Kabupaten Belitung Timur. BPTP Babel

 

Sumber Foto           : banten.litbang.pertanian.go.id

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook