Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI PRODUKSI KEDELAI DI LAHAN SAWAH

Kamis, 14 Mei 2020
Sumber Gambar : Koleksi Pribadi Sugito, SP

 

Pendahuluan

Kedelai merupakan komoditas yang sangat penting setelah beras, jagung  dan kebutuhannya tiap tahun terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, tetapi kebutuhan tersebut hingga saat ini belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri karena luas areal terus berkurang dan produksinya berfluktuasi. Penurunan areal tanam antara lain disebabkan oleh daya saing kedelai terhadap komoditas pertanian lainnya lebih rendah, sehingga petani beralih ke komoditas pertanian lain yang lebih menguntungkan.

Jumlah lahan yang murni untuk pengembangan  komoditas kedelai di Indonesia masih terbatas, sebingga untuk meningkatkan produksi masih sulit. Sebagai upaya lain adalah dengan memanfaatkan lahan sawah untuk bisa digunakan budidaya kedelai. Budidaya kedelai di lahan sawah pada umumnya dilakukan pada musim kemarau setelah pertanaman padi. Hal ini dilakukan karena ketersediaan air yang terbatas untuk tanaman padi, masih bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman kedelai.  Sebagai penunjang peningkatan produksi kedelai dilahan sawah, maka beberapa teknologi yang harus diterapkan supaya produkstivitas dapat maksimal.

 

 Penggunaan Varietas Dan Benih Unggul

 

 Varietas Unggul

  • Semua varietas unggul sesuai untuk lahan sawah seperti : Anjasmoro, Grobogan, Tanggamus, Argomulyo
  • Pilih varietas unggul ynag memenuhi sifat-sifat yang diinginkan (ukuran besar atau kecil)

 

 Benih

  • Benih murni dan bermutu tinggi merupakan syarat penting dalam budidaya kedelai, benih harus sehat, bernas dan daya tumbuh minimal 80 %.
  • Bila mungkin gunkan benih dari penangkar benih yang bersertifikat, bila menggunkan benih sendiri sebaiknya berasal dari pertanaman yang seragam.
  • Benih diberi perlakuan dengan insektida untuk mencegah serangan hama lalat bibit.
  • Kebutuhan benih berskisar 55-60 kg/ha untuk ukuran benih kecil, dan 65-75 kg/ha untuk benih ukuran besar.

 

Penyiapan Lahan

  • Tanah bekas tanaman padi tidak perlu dilakukan pengolahan lahan (tanpa olah tanah =TOT), tetapi jerami harus dipotong pendek.
  • Saluran drainase/irigasi dibuat dengan kedalaman 25-30 cm dan lebar 20 cm setiap 3-4 m. hal ini berfungsi untuk mengurangi kelebihan air saat masih ada hujan dan juga untuk aliran penyaraman tanaman.
  • Pada lahan yang baru pertama kali dilakukan penanaman, maka benih perlu dicampur dengan rhizobium, apabila tidak ada inokulan rhizobium, maka dapt menggunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman.

 

 Penanaman

  • Benih ditanam dengan cara ditugal kedalaman 2-3 cm
  • Jarak tanam : 40 cm x 10-15 cm, 2 biji /lubang
  • Untuk menghindari kekurangan air, sebaiknya kedelai ditanam tidak lebih dari 7 hari setelah tanaman padi dipanen.

 

  Pemupukan

  • Pada sawah yang subur atau bekas padi yang dipupuk dengan dosis tinggi tidak perlu tambahan pupuk NPK.
  • Pada sawah yang kesuburan sedang dengan tambahan jerami, perlu diberi pupuk Urea : 25 kg, Sp 36 : 50 – 75 kg, KCl: 75 kg
  • Pada sawah yang kesuburannya rendah dengan tambahan jerami, perlu diberi pupuk Urea : 50 kg, SP 36 : 75 -100 kg, KCl : 75 kg

 

 Penggunaan Mulsa Jerami Padi

  • Bila dianggap perlu gunakan jerami sebanyak 5 ton/ha sebagai mulsa dengan cara dihmaparkan merata, ketebalan
  • Mulsa bermanfaat untuk mengurangi pertumbuhan gulma, menekan serangan lalat bibit dan kehilangan air tanah.
  • Untuk daerah yang tidak banyak gangguan gulma dan tidak berpotensi menimbulkan kebakaran, maka jerami boleh dibakar sebahai sumber pupuk K. pembakaran jerami segera setelah kedelai ditugal, supaya dapat membantu keseragaman pertumbuhan awal kedelai.

 

 Pengairan

  • Pengairan tanaman kedelai diberikan pada fase-fase penting, yaitu awal pertumbuhan : umur 15-21 hari, saat berbunga : 25-35 hari, saat pengisian polong : umur 55-70 hari.

 

 Pengendalian Hama dan Penyakit

  1. Pengendalian Hama
  • Hama utama pada tanaman kedelai adalah lalat bibit (Ophiomya phaeoli), ulat grayak (Spodoptera litura) Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), ulat penggulung daun (Lamprosema indicate) Pengisap polong (Riptorus linearis) penggereng polong (Etiela zickenella), kutu kebul (Bemisia sp), dan kutu daun (Aphis glycines).
  • Pengendalian dapat dilakukan dengan secara biologis yaitu menggunakan musuh alami seperti Trichogramma untuk penggerek polong dan penggunaan feromon sek suntuk ulat grayak.
  • Penggunaan pestisida dilakukan berdasarkan hasil pemantauan, bila populasi hama telah melebihi ambang kendali. Pilih pestisisda sesaui sasaran dan gunkan sesuai prosedur.

 

      2. Pengendalian Penyakit

  • penyakit utama kedelai adalah karat daun Phakopsora pachyrhizi, busuk batang dan akar Schlerotium rolfsii.
  • Penyakit karat daun dikendalikan dengan fungisisda yang mengandung bahan aktif mancozeb
  • Penyakit busuk batang dan akr dikendalikan dengan jamur antagonis Thrichoderma harzianum
  • Penyakit oleh virus, kendalikan vektornya menggunka insektisida.
  • Waktu pengendalian disesuaikan dengan kondisi dipertanaman, umumnya pada umur 45 – 50 hari.

 

 Panen dan Pasca Panen

  • Panen dilakukan apabila 95 % polong pada batang utama telah berwarna kuning kecoklatan
  • Paen dpat dimulai pada pukul 09.00 pagi. Saat air embun sudah hilang.
  • Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan sabit. Hasil panen segera dijemur beberpa hari, kemudian dilakukan pengupasan.
  • Butir biji dipisahkan dari kotoran dan dijemur hinggga kadar air 10-12 % saat disimpan
  • Untuk keperluan benih, biji kedelai dikeringan hingga kadar air 9-10 %
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook