Diseminasi Teknologi

TUMPANGSARI TANAMAN JAGUNG DAN KEDELAI (TURIMAN JALE) SUPER

Selasa, 12 Mei 2020
Sumber Gambar : BPTP Kalimantan Barat, 2019

        Tumpangsari merupakan salah satu bentuk pertanaman campuran yang melibatkan lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan pertanian dengan jumlah populasi tetap 1 ha.  Pada saat yang lalu telah disampaikan tentang tumpangsari Jagung dan padi gogo (Jago) super yang memiliki populasi yang padat atau 200% dari pertanaman monokultur. Selain jagung dan padi gogo, jagung juga dapat ditumpangsari dengan berbagai tanaman, seperti dengan tanaman kedelai. Pada tumpangsari jagung dan kedelai (Jale) Super yang ditanam dilahan 1 ha, juga akan diperoleh populasi jagung 1 Ha dan populasi kedelai 1 Ha, sehingga dalam 1 ha lahan akan diperoleh populasi 2 Ha. Jika tumpangsari padi gogo dan jagung ditanam bersama-sama, tapi pada tumpangsari jagung dan kedelai, tanaman kedelai ditanam lebih awal 3 minggu sebelum tanaman jagung. Hal ini dimaksudkan, pada saat pertumbuhan vegetative, tanaman kedelai dapat menerima cahaya penuh.          

       Keuntungan tumpangsari Jagung dan kedelai (Jale) super ini  adalah efisien dalam penggunaan lahan, mengurangi biaya pengolahan lahan dan pemeliharaan tanaman, tanaman kedelai dapat memanfaatkan residu pupuk dari tanaman jagung, bintil akar kedelai dapat meningkatkan kandungan Nitrogen dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman jagung serta dapat mengurangi serangan OPT dan mendapatkan hasil panen lebih dari satu jenis tanaman.

Tahapan Pelaksanaan

Varietas Unggul

        Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu upaya berperan penting dalam peningkatan produktivitas tanaman jagung dan kedelai. Varietas unggul yang akan digunakan disesuaikan dengan agroekosistem yang ada serta selera konsumen, potensi hasilnya, ketahanan terhadap hama penyakit serta umur tanaman. Varietas jagung yang dapat digunakan varietas Nasa 29, Bima 2 dan JH 27, sedangkan varietas kedelai yang dapat digunakan adalah Dena 1, Dena 2, Grobogan.

Persiapan Lahan

     Persiapan lahan dapat dilakukan dengan tanpa olah tanah ataupun dengan olah tanah sempurna menggunakan hand traktor atau traktor roda 4.

Penanaman

  • Penanaman kedelai dilakukan tiga minggu sebelum tanam jagung
  • Penanaman kedelai diantara tanaman jagung dilakukan sebanyak 7 baris. Penanaman kedelai dilakukan 2 biji/lubang tanam, dengan Jarak tanam 120 cm (30 cm x 15 cm x 30 cm), jumlah tanaman antar baris 233 dan jumlah dalam baris 667 tanaman, sehingga populasi tanaman per ha 310.000. Kebutuhan benih per ha sebanyak 40 kg.
  • Penanaman jagung diantara tanaman kedelai dilakukan sebanyak 2 baris tanaman dengan jarak tanam 240 cm (60 cm x 12,5 cm x 30 cm). Jumlah tanaman antar baris 67 dan jumlah dalam baris 800 tanaman, sehingga jumlah populasi per ha 110.000 tanaman. Penanaman jagung dilakukan 2 biji/lubang tanam, kemudian ditutup dengan pupuk
  • Untuk mencegah penyakit bulai pada tanaman jagung, lakukan juga perlakukan benih dengan menggunakan fungisida berbahan aktif Isoprotiolan, Trisiklazol,  Dimetomorf 200 g/l atau metalax

Pemupukan

  • Pemupukan dilakukan berdasarkan spesifik lokasi, bisa berdasarkan hasil analisis tanah, PUTK atau rekomendasi umum
  • Pemupukan kapur dan pupuk kandang dilakukan sebelum tanam minimal 2 minggu dengan dosis 3-5 ton pupuk kandang dan kapur 1-2 ton/ha
  • Dosis pemupukan jagung 450 kg NPK 15:15:15 (450 kg/ha), Urea 150 kg/ha dan TSP/Sp36 (150 kg/ha). Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pemupukan dasar umur 10-15 hst dengan dosis pupuk NPK 200 kg/ha, Urea 50 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, pemupukan pertama sebaiknya diaplikasikan dengan cara tugal dan sedangkan pemupukan kedua dilakukan pada umur 28-35 HST dosis NPK 15:15:15 (200 kg/ha), urea 100 kg/ha dilakukan secara tebar.
  • Pemupukan kedelai dilakukan hanya sekali saja pada umur 10 -14 hst dengan dosis NPK 15:15:15 (90-120 kg/ha) dan TSP/SP-36 (60-90 kg/ha). Pemupukan dilakukan dengan cara larikan atau tugal 5 cm dari tanaman atau dilakukan secara sebar merata di lahan pada saat lahan dalam kondisi lembab.

Pengendalian Gulma

  • Gulma merupakan tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya, karena gulma menjadi masalah yang besar dan serius pada pertanaman di lahan kering
  • Pertumbuhan gulma dilahan kering dengan kondisi basah kering lebih cepat dan lebih banyak, sehingga pengendalian sebaiknya dilakukan sebelum gulma berkembang atau beberapa hari setelah tanaman utama tumbuh
  • Untuk menekan pertumbuhan gulma, maka sebelum tanam benih dilakukan penyemprotan dengan herbisida
  • Pengendalian gulma pada tanaman jagung dilakukan dengan penyemprotan herbisida selektif bahan aktif glifosat, paraquat, Atrazin 500 gr/l dan Mesotrion 50 gr/l pada umur 10- 15 hst. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua atau pada umur 21-30 hst, dengan tujuan agar tanaman lebih kuat dan kokoh sehingga tidak mudah rebah, serta untuk mengemburkan tanah sehingga perakaran tanaman berkembang dengan baik
  • Penyiangan kedelai sebanyak 1-2 kali, pada umur 10-15 hst dan umur 30-40 hst atau tergantung banyaknya gulma. Penyiangan dapat dilakukan menggunakan kored atau cangkul kecil atau dapat juga menggunakan herbisida.

Pengendalian Hama Penyakit

  • Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) dilakukan dengan menggunakan pestisida organic (nabati), namun jika populasi diatas ambang batas maka dapat dilakukan dengan pestisida anorganik (kimia).
  • Hama yang seringkali merusak tanaman jagung antara lain lalat bibit, pengerek batang dan penggerek tongkol. Lalat bibit umumnya menyerang tanaman pada awal pertumbuhan tanaman. Pengendalian dapat dilakukan dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung atau tanaman serempak serta perlakuan benih dengan insektisida berbahan aktif karbufuron. Untuk penggerek batang, pengendaliannya dapat dilakukan dengan waktu tanam yang tepat, pemotongan sebagian bunga jantan dan jika diperlukan dapat menggunakan insektisida berbahan aktif karbufuron, krotofos.  Penyakit utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai yang disebabkan oleh jamur. Kendalikan penyakit dengan perlakuan benih (seed treatment) yaitu mencampur benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan dosis 2 gr/kg benih.
  • Hama utama yang biasa menyerang tanaman kedelai adalah hama lalat bibit, ulat grayak, penggerek polong dan pengisap polong, serta penyakit karat daun dan Hawar daun. Pada daerah endemik lalat bibit, sebaiknya dilakukan perlakuan dengan insektisida berbahan aktif corbusulfan. Berdasarkan pengalaman dibeberapa daerah sentra pertanaman kedelai di Kalimantan Barat, hama yang paling utama pada tanaman kedelai adalah ulat grayak. Pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan penanaman serentak, menanam varietas yang tahan seperti Ijen (berbiji kecil) serta melakukan sanitasi lingkungan dan jika diperlukan dapat digunakan penyemprotan dengan insektida berbahan aktif permetrin, dekametrin, sipermetrin, sihalotrin dan klorfluazinon.

Panen dan Prosesing hasil

  • Pada saat tanaman jagung berumur 60-70 hst dilakukan pemangkasan daun tanaman di bawah tongkol. Kemudian pada umur 80-90 hst dilakukan pemangkasan pucuk tanaman. Pemangkasan tanaman bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan tongkol, mengurangi kanopi yang saling menaungi sehingga sinar matahari lebih optimal diterima oleh tanaman sela agar proses fotosintesis berjalan optimal. Hasil pemangkasan berupa biomas segar dapat digunakan sebagai pakan ternak potensial
  • Panen sebaiknya dilakukan pada cuaca cerah, pada saat tanaman sudah masak fisiologis yang ditandai dengan dengan daun/kelobot sudah kering, berwarna kekuning-kuningan, kadar air biji ± 30%, biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam (black layer) minimal 50% disetiap barisan biji
  • Selanjutnya tongkol yang sudah dipanen segera dijemur. Jika selama pengeringan kadar air ±20%, jagung telah siap untuk dipipil dengan alat pemipil. Setelah itu biji yang telah dipipil dijemur kembali sampai kadar air 14% dan siap untuk dipasarka
  • Panen kedelai dilakukan setelah semua daun tanaman sudah tua atau berwarna kuning atau telah gugur. Panen dapat menggunakan sabit gerigi atau sabit
  • Setelah dipanen, polong kedelai yang masih melekat dibatangnya segera dijemur. Kemudian biji dirontok dengan cara dipukul atau menggunakan mesin perontok bila tersedia. Setelah dirontok, biji segera dijemur atau dikeringkan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering

 

Sumber

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008. Pengelolaan Tanaman  Terpadu Jagung. Jakarta

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008. Pengelolaan Tanaman  Terpadu Kedelai. Jakarta

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat, 2018. Tumpangsari Tanaman Jagung-Padi-Kedelai (Turiman Jagole). Pontianak

 

Penyusun : Ir. Sari Nurita (Penyuluh BPTP Kalimantan Barat)

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook