Gerbang Daerah
JAWA TENGAH > KABUPATEN KUDUS >

PERAN PETANI DALAM MENJAGA KETAHANAN PANGAN LOKAL DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA

Jum'at, 24 Apr 2020
Sumber Gambar : Setyawan Farm Dokumen

Pandemi virus corona hingga saat ini masih terus menghantui masyarakat Indonesia. Cepatnya penyebaran dan bahaya dampak yang ditimbulkannya membuat pemerintah harus melakukan tindakan pencegahan dengan menyarankan masyarakat untuk melakukan social distancing. Bagi mereka yang mengalami gejala sakit (demam lebih dari 380C, batuk kering, sesak nafas, rasa lelah dan diare) setelah bepergian dari luar kota terutama daerah pandemik atau melakukan kontak langsung dengan seseorang, dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri dan tidak keluar rumah selama 14 hari. Pemerintah menghimbau agar menghindari tempat kerumunan dan pertemuan massal sampai situasi dinyatakan aman.

Namun demikian, kebutuhan pokok seperti pangan yang merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat harus tetap terpenuhi. Pada saat inilah peran petani sebagai garda terdepan menjaga ketahanan pangan sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Di tengah terpaan pandemi Covid-19, para petani khususnya yang berada di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus tetap berjuang memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di tingkat lokal. Memasuki musim panen raya yang berlangsung pada awal Maret hingga April 2020, para petani siap menjaga stok beras di tengah isu terkini yang sedang merebak di tengah masyarakat.

Sesuai dengan Surat Edaran Bupati Kudus Nomor: 440/0920/38.00/2020 tanggal 16 Maret 2020 tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Resiko Penularan Infeksi Corona Virus (Covid-19) di Kabupaten Kudus dan hasil rapat ketersediaan Pangan di Kabupaten Kudus menghadapi Covid-19 tanggal 20 Maret 2020 maka Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus dibawah pimpinan Catur Sulistiyanto, S.Sos, MM memberikan himbauan kepada para petani melalui Gapoktan/Poktan agar musim tanam pertama ini tidak menjual seluruh hasil panennya, namun ada sebagian yang disimpan untuk memenuhi kebutuhan/ cadangan pangan di tingkat lokal. Menanggapi himbauan tersebut seluruh petani siap menjalankan perintah dengan memperhatikan anjuran dari PPL setempat untuk menjaga ketahanan pangan dengan proses penanganan pasca panen padi yang baik dan benar.

Salah satunya yaitu di Desa Blimbing Kidul, Gamong, dan Sidorekso Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus yang sudah memulai musim panen padi pada musim tanam pertama (MT-I) dengan luas tanam sekitar 320 Ha sampai saat ini (Kamis, 26 Maret 2020) luas kawasan yang sudah dipanen mencapai 312 Ha dan sisa luas yang belum dipanen untuk ketiga desa tersebut yakni sekitar 8 Ha. Harga di tingkat petani untuk Gabah Kering Panen (GKP) sekitar Rp. 4.000,00 – Rp. 4.300,00 per Kg sedangkan untuk Gabah Kering Giling (GKG) sekitar Rp. 5.000,00 – Rp. 5.400,00 per Kg. Produktivitas padi  yang diperoleh sekitar 6,3-8 ton/ Ha untuk berbagai varietas padi baik Ciherang, Inpari 32, Mekongga, dan IR 64.

Penanganan pascapanen adalah tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada tahapan pascapanen agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen dan atau diolah lebih lanjut oleh industri ( Anonim, 1986). Penanganan pascapanen hasil pertanian meliputi semua kegiatan perlakuan dan pengolahan langsung terhadap hasil pertanian yang karena sifatnya harus segera ditangani untuk meningkatkan mutu hasil pertanian agar mempunyai daya simpan dan daya guna lebih tinggi. Sesuai dengan pengertian tersebut, kegiatan pascapanen meliputi kegiatan pemungutan hasil (pemanenan), perawatan, pengawetan, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan, penggundangan dan standardisasi mutu ditingkat produsen. Tahapan – tahapan yang dilakukan pada saat penanganan pasca panen padi antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Penumpukan dan Pengumpulan

Ketidak-tepatan dalam penumpukan dan pengumpulan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengangkutan padi menggunakan alas. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0,94 – 2,36 %.

  1. Perontokan

Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara.

Pengeringan gabah secara alami hendaknya dilakukan di atas lantai yang terbuat dari semen, yang dalam hal ini lantai hendaknya bersih dan tidak ada genangangenangan air. Gabah dihamparkan di atasnya setebal 3 – 5 cm pada pagi hari (sekitar jam 08.00) kalau keadaan udara cerah. Sekiranya lapisan atas gabah telah kering lakukan pembalikan baik dengan menggunakan kaki atau sekop, pembalikan hendaknya dilakukan secara berulang-ulang. Sore hari sekitar jam 16.00 dilakukan pengumpulan gabah dengan bantuan alat penggaruk sehingga membentuk  gunungan kecil, kemudian gunungan kecil ditutup dengan lembaran plastik yang lebar, sehingga tidak ada bagian yang terbebas, untuk melindunginya kalau-kalau turun hujan dan dari pengaruh embun. Tetapi sekiranya jumlah yang dikeringkan tidak terlalu banyak, angkutlah gabah ke tempat penyimpanan sementara. Lakukan pengeringan seperti di atas selama 2 sampai 3 hari, setelah itu lakukan pengujian dengan alat moisture tester apakah kadar air gabah telah turun sampai 12% atau belum, kalau belum lakukan penjemuran lagi sampai persentase kadar air tersebut tercapai. Kalau alat moisture tester tidak ada pengujian dilakukan dengan cara menggenggam dan melepaskan sekumpulan gabah atau menggosok-gosoknya dan apabila suaranya gemeresik tandanya gabah telah kering. pengujian selanjutnya dilakukan dengan cara menggigit gabah atau memutarnya di atas lantai dengan tumit dan apabila gabah patah dengan kulit terkelupas, yakinlah gabah telah kering setingkat dengan yang dikendaki.

  1. Penyimpanan Gabah Kering

Gabah kering yang telah dikemas dalam karung ditempatkan secara teratur dalam ruang penyimpanan, secara kelompok disusun secara selang seling melintang dan membujur. Di bagian bawah tiap kelompok susunan karung diberi pengalas kayu yang disusun horisontal (melebar) di atas balok-balok dengan ukuran 10-15 cm, dengan demikian tidak terjadi kontak antara karung dengan lantai. Kayu untuk alas dan balok untuk pengganjal harus kering sebab yang agak basah dapat merangsang pertumbuhan jamur. Dengan tidak terjadinya kontak antara karung dengan lantai dapat tercegah pengaruh kelembaban lantai gudang. Tiap tumpukan karung sebaiknya ditutup dengan kain terpal yang maksudnya untuk mencegah perpindahan air dari lapisan gabah yang satu ke lapisan lainnya sehubungan dengan pengaruh temperatur luar, ada baiknya pula kalau ruang penyimpanan dilengkapi dengan aerator, dengan demikian maka keseragaman kadar air gabah dapat tetap dipertahankan

  1. Penggilingan

Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Pemisahan ada dua cara  yaitu secara tradisional menggunakan alat sederhana (lesung dan alu) dan secara modern atau dengan alat penggiling yaitu Hulle.

 

Teruntuk Saudaraku para pejuang pangan dimanapun kalian berada, saat inilah momentum kita bersama untuk memperkuat ketersediaan pangan bagi hajat hidup orang banyak, tetaplah semangat untuk terus meningkatkan produksi. Sektor Pertanian menjadi ujung tombak dalam kondisi wabah Covid-19 seperti saat ini.

 

OK SETYANTO SETYAWAN, S.P.

Penyuluh Pertanian Pertama

DPD Perhiptani Kudus- Bidang Kaderisasi

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook