Materi Penyuluhan

Kopasus di Kostratani Harus Memperhatikan Hama Belalang dan Pengendaliannya pada Tanaman Padi

Jum'at, 20 Mar 2020
Sumber Gambar : 8villages.com

Belalang kembara (Locusta migratoria, L)   merupakan salah satu hama penting di Indonesia karena Hama ini merupakan salah satu faktor penghambat dalam program peningkatan produksi tanaman. Tanaman yang diserang adalah jagung, padi, sorgum atau spesies rumput lainnya. Kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan oleh hama belalang kembara sangat bervariasi diikuti dengan peningkatan populasi belalang  yang tinggi. ini cenderung untuk membentuk kelompok besar dan suka berpindah-pindah sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebar pada areal yang luas. Kelompok yang bermigrasi dapat memakan tumbuhan yang dilewatinya selama dalam perjalanan. Perilaku makan belalang kembara dewasa biasanya hinggap waktu sore hari dan malam hari sampai pagi hari sebelum terbang.  Kelompok nimfa yang bermigrasi dapat memakan tumbuhan di lokasi selama dalam perjalanan. Hama belalang kembara betina biasa meletakkan telurnya dalam bentuk paket telur di dalam tanah. Seekor betina mampu menghasilkan hingga 270 butir telur. Siklus hidupnya rata-rata 76 hari meliputi stadia telur (17 hari) dan stadia nimfa (38 hari) dan stadia praoviposisi (21 hari). Oleh karena itu kalau tidak kita waspadai bisa menyerang ke berbagai daerah. Untuk itu perlu dikendalikan.

Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) merupakan suatu metodologi yang mengandung prinsip-prinsip dasar yang menjadi pegangan para petani untuk  menciptakan kondisi yang optimal bagi lingkungan tanaman sehingga hama tidak menjadi masalah. PHT dapat mensinergiskan antara komponen pengendalian yang sesuai untuk lingkungan tertentu sehingga hasil pengelolaan menjadi lebih baik (cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada dasar pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai sasaran teknologi PHT adalah 1) produksi pertanian   tinggi, 2) Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, 3) Populasi OPT dan kerusakan tanaman tetap  secara ekonomi tidak merugikan dan 4) Pengurangan resiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.

Komponen pengendalian yang menjadi acuan dalam PHT salah satunya adalah pengendalian alami/hayati. Tujuan utama PHT pengendalian populasi hama agar tetap berada di bawah aras yang tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Strategi PHT adalah penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi   hewan dan manusia serta mikroorganisme lainnya  baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Budidaya padi yang dilakukan oleh petani selalu mendapat  tantangan dari berbagai aspek gangguan serangga terutama hama belalang kembara. Terkait dengan adanya gangguan tersebut perlu dilakukan tindakan Pengendalian Hama Terpadu, Banyak cara untuk membasmi hama belalang, diantaranya dengan cara kimiawi atapun secara alami. Cara kimiawi dapat membantu membasmi gangguan hama dengan tempo cepat dan tentunya praktis, namun cara ini kurang bersahabat serta menimbulkan efek negatif bagi lingukungan maupun kesehatan. Sebagai  contoh negatif yang dapat timbul dengan cara kimiawi antara lain residu, resistensi, resurgensi, ledakan hama sekunder, pencemaran, serta tak kalah penting adalah musnahnya musuh alami belalang. Pengendalian hama belalang bisa menggunakan bahan bahan alami seperti akar tuba dan daun mimba sebagai pestisida organik. Kedua bahan alami ini dipercaya dapat menghambat nafsu makan/antifedant, repellent, attractan, menghambat perkembangan serangga, menurunkan keperidian hingga berpengaruh langsung sebagai racun. Cara membuat pestisida organik dari akar Tuba dan daun Mimba: a. Terlebih dahulu siapkan akar tuba dan daun mimba secukupnya (contoh: 1kg untuk masing-masing bahan); b. Tumbuk akar tuba dan daun mimba secara terpisah hingga halus; c. Larutkan masing-masing bahan dalam air bersih (sekitar 20 liter); d. Aduk larutan dan diamkan dalam wadah jirigen selama kurang lebih 3 hari, e. Setelah 3 hari, pestisida organik siap untuk digunakan meskipun mempunyai fungsi yang terdengar mengerikan secara alami kedua zat aktif tersebut sangat aman digunakan, sebab keduanya dapat terurai dengan sendirinya, sehingga setelah dilakukan penyemprotan tidak ada zat yang tertinggal di permukaan daun dan berakumulasi menjadi racun berbeda halnya dengan persitisida kimiawi. Sebetulnya banyak alternatif bahan yang dapat dijadikan bahan membuat pestisida nabati seperti daun sirsak dan lainnya. Kalau Pestisida Organik Daun Sirsak: Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik adalah biji dan daun, daun sirsak mengandung senyawa bernama acetogenin diantaranya bulatacin, squamosin dan asimisin. Senyawa acetogenin pada konsentrasi tinggi mempunyai peran khusus sebagai anti-feedent atau penghambat nafsu makan. Sehingga belalang kehilangan gairah untuk memangsa bagian tanaman yang sudah diberikan pestisida ini. Apabila konsentrasi yang digunakan rendah, daun sirsak dapat menjadi racun perut sehingga bisa membuat belalang menjadi mati. Adapun bahan dan caranya sebagai berikut : a. Daun sirsak kurang lebih 50 lemba, .b.Daun tembakau kurang lebih 1 genggam., c.Deterjen 20 gr.d.Air kurang lebih 40 liter, .e. Semprotan, .f.Saringan. Untuk langkahnya sebagai berikut: .a. campurkan daun tembakau dengan daun sirsak kemudian tumbuk  hingga halus; b.Setelah sudah halus, masukkan air secukupnya lalu masukkan kedalam tempat yang memiliki penutup; c,Aduk dengan kekuatan sedang hingga adonan tercampur rata. Sembari itu perlahan-lahan masukkan atau tambahkan deterjen; d  diamkan dan endapkan campuran tersebut selama kurang lebih satu malam. Jangan lupa ditutup; e.Setelah satu malam, saring larutan yang sudah tercampur tadi menggunakan saringan. Ini berguna untuk memisahkan antara ampas dengan larutan. Jadilah pertisida organic; f.Kemudian untuk penyemprotan, encerkan larutan menggunakan air kurang lebih 40 liter, lalu semprotkan pada tanaman yang terserang hama belalang; g.Untuk mendapatkan hasil maksimal, semprotkan secara merata. Sebaiknya penyemprotan dilakukan pada posisi belalang masih kecil dan belum bisa terbang, hal ini bertujuan untuk mencegah hama belalang terbang saat dilakukan penyemprotan. Yulia Tri S

 

Email: yuliatrisedyowati@gmail.com

 

Pustaka:

https://media.neliti.com/media/publications

https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/teknologi/5547-mengatasi-serangan-hama-belalang

https://8villages.com/full/petani/article/id/5b9635d344cac84d257dac5b

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook