Diseminasi Teknologi

POTENSI JEWAWUT ``TARREANG" DI SULAWESI BARAT

Selasa, 17 Mar 2020
Sumber Gambar : Dok. Religius Heryanto

Sumber daya genetik Indonesia yang sangat beragam memungkinkan untuk mendapatkan sumber daya pangan selain beras, salah satunya adalah jewawut Setaria italica (L.) Beauv. Jewawut merupakan salah satu tanaman serealia yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung program diversifikasi pangan.  Jewawut termasuk tanaman C4 yang dapat beradaptasi dengan baik di daerah kering dan semi kering (Zooleh et al. 2011). Tanaman ini juga dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis  tanah,  dari  tanah  berpasir sampai  tanah liat. Bahkan tanaman ini masih dapat tumbuh pada tanah-tanah berbatu di lereng bukit di Sulawesi Barat (Hasil Eksplorasi Tim SDG Tahun 2020).

Di Sulawesi Barat, “Bahasa Mandar “Jewawut dikenal masyarakat dengan nama Tarreang atau Bailo, khususnya di Majene dan Polewali Mandar. sedangkan beberapa daerah lain di Indonesia dikenal dengan berbagai nama lokal yang berbeda-beda seperti: nama ba’tan (Toraja); jawa (Palembang); jaba ikur (Batak); jaba ure (Toba); jelui (Riau); sekui (Melayu); sekuai, sakui, sakuih (Minangkabau); randau (Lampung); dan jawae (Dayak).

Monteiro et al. (1988) menyebutkan bahwa potensi biji tanaman jewawut sebagai bahan makanan pokok  yang memiliki kandungan gizi diantaranya karbohidrat sebesar 65,0% – 75,7%, lemak sebesar 4,7% – 6,3%, protein kasarnya (crude protein) berkisar antara 11,09% - 15,03%, kalsium sebesar 67,5 – 92,3 mg/100 g. Tirajoh (2015) juga melaporkan bahwa jewawut dari berbagai daerah di Indonesia mengandung karbohidrat sebesar 72% - 84,2%, protein 9,9% – 12,07%, lemak 2,38% - 4,90%, serat kasar 1,4% - 10,0%, dan beberapa mineral penting. Kandungan tersebut sedikit berbeda dengan jewawut atau tareang merah dan kuning asal Sulawesi   dengan   kandungan  protein   10,68-14,03%, lemak 3,12-5,49%, energy 4267-4440 kal/g   (Maryanto dkk. 2013) Kandungan gizi biji jewawut tersebut tidak jauh berbeda dengan kandungan gizi biji jagung. Bahkan, kandungan protein, lemak, dan serat dari jewawut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan beras. Kandungan vitamin B dan C biji jewawut juga relatif tinggi. Biji jewawut mengandung gluten yang elastis, kedap udara, sehingga tidak mudah putus jika tepung jewawut dibuat menjadi mie (Faesal 2013).

Berdasarkan hasil Survey Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang dilakukan oleh Tim BPTP Sulawesi Barat (Marthen P. Sirappa, dkk) Tahun 2014 dan 2015 keberadaan Jewawut di Kabupaten Majene ditemukan di dusun Takapa’, desa Lombang, kecamatan Malunda, pada posisi S:0709712 dan E:9667962, pada ketinggian 283 m dpl.  Sedangkan di Kabupaten Polman berada di Dusun Pambusuan, Desa Pambusuan, Kecamatan Balanipa, pada posisi S: 0731142 dan E: 9612789, pada ketinggian 14 m dpl.

Jenis Jewawut/Tarreang yang ditemukan di Kabupaten Polman ada 6 jenis yaitu Tarreang lasse’, Lelamun, Bulawan, Delima, The dan Putih. Sedangkan yang  ditemukan di Majene ada dua, yaitu gabah warna kuning, berbulu dan bagian ujung tidak bercabang (yang umum ditemukan di tempat lain) dan gabah warna coklat, berbulu dan bagian ujung malai bercabang banyak menyerupai tapak kaki. Menurut informasi dari petani pemilik, jewawut warna coklat tergolong jenis pulut. Di Majene, jewawut jenis coklat ini juga digunakan petani sebagai pelindung hama, terutama babi hutan sehingga banyak ditanam sebagai tanaman pinggiran di kebun petani.  Umur panen berkisar 70 hari setelah tanam dengan rata-rata tinggi tanaman dapat mencapai 180 cm.

Setelah dilakukan penulusuran kembali pada Bulan Februari Tahun 2020, yang masih  bertahan dan banyak dikembangkan adalah Tarreang Bulawan dengan luas pengembangan 50-60 ha yang tersebar di Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar.  Tarreang bulawan memiliki potensi hasil sekitar 3,5-4,5 ton per ha dengan ciri malai tidak berbulu.  Rata-rata panjang malai 29,20 cm. Harga jual dipasaran Rp 20.000 s/d Rp.30.000 per liter.   

Pemanfaatan jewawut di Sulawesi Barat masih sebatas dijadikan bubur, dodol dan diolah sebagai kue kering. Pada hal di beberapa daerah lain dapat dibuat wajik atau mie. Tanaman jewawut juga dapat diolah menjadi tepung untuk mensubtitusi tepung beras. Selain sebagai bahan makanan, Jawawut pun kerap dipergunakan sebagai pakan ternak (daunnya) dan sebagai pakan burung. Pemanfaatan seperti ini merupakan potensi bagi petani untuk terus dikembangkan.

Jewawut dapat ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang dari 125 mm selama masa pertumbuhan yang pada umumnya sekitar 3-4 bulan. Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan dan rentan terhadap periode musim kering yang lama. Di daerah tropis, tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi kering sampai ketinggian 2.000 m dpl. Tanaman ini menyukai lahan subur dan dapat tumbuh baik pada bebagai jenis tanah, seperti tanah berpasir hingga tanah liat yang padat, dan bahkan tetap tumbuh pada tanah miskin hara atau tanah pinggiran. Sedangkan pH yang cocok untuk tanaman ini adalah 4-8. (Grubben dan Partohardjono, 1996).

Jewawut/Tarreang yang ada di Sulawesi Barat merupakan salah satu plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya, jangan sampai terabaikan dan akhirnya punah. Olehnya itu perlu pelestarian atau konservasi baik secara insitu maupun exitu.

Oleh; Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh Pertanian BPTP Balitbangtan Sulbar)

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook