Diseminasi Teknologi

MENCARI TAHU CARA MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN TEKNOLOGI BAGI PENGEMBANGAN WILAYAH PERTANIAN

Kamis, 12 Mar 2020
Sumber Gambar : BPTP Gorontalo

Keberhasilan kegiatan penyuluhan pada akhirnya diukur dari terjadinya perubahan perilaku dari kelompok sasaran, terutama dalam adopsi teknologi yang telah diberikan di saat proses penyuluhan. Proses adopsi akan lebih cepat apabila teknologi yang diperkenalkan merupakan teknologi yang dibutuhkan dalam mengatasi masalah pertanian. Untuk itu pengenalan terhadap potensi wilayah, permasalahan pengembangan pertanian dan kebutuhan teknologi spesifik lokasi sangat penting dalam perencanaan kegiatan penyuluhan dan diseminasi.

Penyuluh pertanian pada saat ini dituntut memiliki peran yang aktif diantaranya sebagai agen pembangunan harus mampu untuk melakukan indentifikasi potensi wilayah secara partisipatif untuk merencanakan pembangunan pedesaan dalam rangka meningkatkan kemandirian petani dalam beragribisnis, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Identifikasi potensi wilayah diperoleh data primer di lapangan dari petani dan masyarakat, sedangkan data sekunder diperoleh dari monografi desa/ kecamatan/BPP dan atau dari sumber-sumber lain yang relevan.

Identifikasi data primer bisa dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan wawancara semi tersetruktur menggunakan teknik PRA, sedangkan identifikasi data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh data potensi wilayah dan agroekosistem dari data monografi desa/kecamatan/BPP dan sumber lain yang mendukung. Salah satu output dari identifikasi potensi wilayah ini adalah menentukan kebutuhan teknologi spesifik lokasi di suatu daerah. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah melalui Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP) yang merupakan bagian kecil dari kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA).

Prinsip Dasar KKP:

  1. Melibatkan partisipasi kelompok tani sejak awal dari saat perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi kegiatan yang akan dilaksanakan. Petani sebagai subjek memiliki peranan penting pada saat penggalian permasalahan.
  2. Pengggalian informasi sesuai dengan kemampuan petani dan didesain dengan praktis agar petani dapat mengerti dan bias mengeluarkan permasalahan yang dihadapi.
  3. Pengaturan pertemuan dibuat senyaman mungkin bagi petani (informal), bila memungkinkan dilaksanakan di dekat persawahan atau lahan petani.
  4. Menjunjung tinggi azas demokrasi pada saat pelaksanaan KKP, yaitu mendengar suara petani keseluruhan, hingga terungkap kebutuhan petani bersama seutuhnya. Seluruh petani memiliki hak bicara dan berpendapat.
  5. Pelaksanaan KKP dipimpin oleh ketua kelompok tani atau yang ditunjuk sebagai moderator.
  6. Menggali permasalahan yang paling mendasar dihadapi petani di wilayah tersebut, dan cara pemecahannya berdasarkan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan produksi, lebih efisien dalam usaha tani dan pada kahirnya memberikan kesejahteraan.
  7. Pelaksanaan KKP pada waktu yang disesuaikan dengan kehendak petani, di waktu petani senggang agar fokus pada pelaksanaan kegiatan.

 

Tahapan Pelaksanaan KKP

  1. Identifikasi potensi sumberdaya dan kondisi eksisting dan masalah dengan diskusi, bila perlu  lakukan pengamatan lapang 
  2. Kumpulkan permasalahan yang dialami setiap petani dan dikelompokkan,
  3. Penentuan prioritas masalah secara bersama oleh anggota kelompok tani.
  4. Tiap masalah prioritas dicarikan alternatif pemecahannya oleh semua peserta 
  5. Analisis kebutuhan dan peluang introduksi teknologi atas dasar permasalahan tersebut
  6. Narasumber membantu kelompok tani dalam memandu diskusi dan solusi pemecahan masalah

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook