Diseminasi Teknologi

PEMUPUKAN TANAMAN CABAI RAWIT

Rabu, 19 Feb 2020
Sumber Gambar : Koleksi Feriadi, SP

Pendahuluan

 

Cabai merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia karena dapat memengaruhi tingkat inflasi akibat fluktuasi harga yang sering terjadi dipasaran. Kegagalan usaha tani cabai umumnya disebabkan oleh kesalahan penentuan waktu tanam, budidaya petani konvensional, serta pengendalian hama penyakit yang tidak tepat. 

Cabai rawit atau  cabai  kecil  (Capsicum frutescens) termasuk dalam famili Solanaceae dan merupakan tanaman berumur panjang (menahun),  dapat  hidup sampai  2-3  tahun  apabila  dipelihara  dengan   baik dan kebutuhan haranya tercukupi.  Terdapat  beberapa macam cabai rawit antara lain rawit  kecil,  sedang  dan besar. Umumnya cabai rawit kecil rasanya sangat pedas. Cabai rawit digunakan untuk sayur, bumbu masak, asinan dan obat. Budidaya cabai rawit  secara  umum  tidak berbeda nyata dengan  budidaya  cabai  merah.  Namun yang harus diperhatikan adalah jarak tanam dan pemupukannya. Karena umurnya yang panjang, pemupukannya lebih banyak. Umumnya tanaman  cabai rawit lebih tahan terhadap penyakit dibanding cabai yang lainnya.

 Cabai rawit dapat ditanam di dataran  rendah  maupun di dataran tinggi, namun tanaman ini lebih cocok ditanam di ketinggian antara 0-500 m dpl. Produksi pada ketinggian di atas 500 m dpl tidak jauh  berbeda  namun waktu  panennya  lebih  panjang.    Tanaman   ini menghendaki  tanah  gembur,  kaya  akan  bahan   organik dan pH netral (6-7).

 

Sukses Budidaya Cabai Rawit Dengan PTT

 

Pengelolaan Tanaman Terpadu merupakan suatu pendekatan budidaya tanaman yang berdasarkan pada keseimbangan ekonomi dan ekologi, dengan tujuan utamanya adalah meraih keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, antara proses alami dan teknologi, dengan selalu mengingat keberlanjutan dari usahatani cabe.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala pada budidaya tanaman cabai rawit yaitu dengan menerapkan teknologi budidaya rendah input kimia dan teknologi budidaya konservasi yang diimplementasikan pada Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) cabai rawit.

Cabai rawit dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Cabai rawit tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Volume peredarancabe rawit di pasaran cukup besar, hal ini mengakibatkan harga cabai rawit sangat berpluktuatif. Mengamati pluktuasi harga komoditas cabai rawit menjadi bagian yang sangat menarik. Pada waktu-waktu tertentu (perubahan musim dan hari raya) harga cabai dapat melonjak tajam dan pada saat produksi melimpah harga drastis turun.

          Teknis budidaya cabai rawit dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu adalah tahapan menuju sukses dalam budidaya tanaman cabai bagi petani. Adapun komponen teknologinya ialah sebagai berikut :

  • Persemaian
  • Penyiapan Lahan dan Penanaman
  • Pemeliharaan dan Pemupukan
  • Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT
  • Panen dan Pasca Panen

Pemupukan merupakan salah satu komponen teknologi yang sangat mempengaruhi hasil bagi petani cabai sehingga komponen pupuk ini harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh petani dalam usaha taninya.

 

 

Pupuk Dasar Tanaman Cabai Rawit

Pemupukan cabai rawit disesuaikan dengan kondisi lahan spesifik lokasi.  Kebutuhan  pupuk  meliputi  pupuk  kandang   10- 30  ton/ha,   urea  200-300  kg/ha,  SP-36  200-300  kg/ha dan KCl 150-250 kg/ha. Pemberian pupuk kandang dan kapur pertanian  dilakukan  saat  pembuatan  bedengan. Khusus untuk pupuk kandang jika dikonversikan pertanaman mendapatkan 0,5 -1,5 Kg/tanaman dengan asumsi populasi tanaman 20.000/ha.

Pupuk  buatan  sebagai pupuk  dasar   diberikan   dengan cara membuat larikan  berjarak  25-30  cm  dari  tepi bedengan dan jarak antar larikan  70  cm,  kemudian  taburkan pupuk secara merata pada larikan tersebut. Pemberian pupuk  dasar  ini  dilakukan  sebelum  pemasangan mulsa sebanyak setengah dosis.

 

Pupuk SusulanTanaman Cabai Rawit

 

Pemupukan susulan bertujuan untuk memenuhi hara pada tanaman pada fase vegetative hingga generative awal dengan cara dicairkan terlebih dahulu. Pencairan pupuk ini bertujuan agar hara yang dibutuhkan pada tanaman cabai menjadi cepat tersedia dan cepat pula diserap oleh tanaman sehingga pertumbuhan tanaman akan menjadi baik dan sehat. Pemupukan susulan diberikan   pada   saat tanaman berumur 1-4 minggu, menggunakan sisa  pupuk dasar. Pemupukan susulan ini bisa dberikan dengan cara dicor/dikocor, setiap tanaman disiram dengan 150-250 ml larutan pupuk.   Larutan   pupuk   dibuat dengan  mengencerkan  1,5- 3 kg pupuk buatan per 100 liter air.

Pemupukan susulan yang digunakan adalah NPK bila dikonversikan maka konsentrasi yang digunakan adalah sebanyak 15-30 gram / 1 liter air. Pupuk yang dilarutkan kemudian diaplikasikan dengan cara dikocor atau dicoretkan ke tanah di sekitar tanaman. Pemupukan susulan  dilakukan dengan pemberian larutan pupuk NPK, dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 7 hst. Pemupukan selanjutnya dilakukan 2 minggu sekali.

 

Ditulis Oleh             : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)

Sumber Bacaan       :

  • Balai Penelitian Tanaman Sayuran. 2011. Folder Petunjuk Teknis Budidaya Cabai Rawit.
  • http://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-terbaru/768-bimtek-budidaya-dan-perbenihan-cabai . Balista. Diakses tanggal 17 Februari 2020.
  • http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/739-penglolaan-terpadu-budidaya-cabai-rawit di akses tanggal 17 Februari 2020

 

Sumber Gambar : Koleksi Feriadi, SP

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook