Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI PENGENDALIAN WERENG COKLAT DAN VIRUS KERDIL PADA TANAMAN PADI

Senin, 10 Feb 2020
Sumber Gambar : http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/publikasi/booklet-leaflet-poster/pengendalian-wereng-coklat-dan-virus-kerdil

Pendahuluan

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Biasanya wereng coklat menyerang tanaman padi berumur 15 hst dan hama wereng bisa membentuk dua generasi, sedangkan jika menyerang tanaman padi sekitar umur 30 hst maka dia hanya mampu hidup satu generasi. Populasi wereng satu generasi akan mencapai puncak saat satu bulan setelah terjadinya serangan.

Wereng coklat merupakan hama global bukan saja menyerang pertanaman padi di indonesia,tetapi juga menyerang pertanaman padi di cina, Thailand, Vietnam, India, Bangladesh, Malaysia, Filipina, Jepang dan korea.

Wereng coklat merusak tanaman padi dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga tanaman menjadi kering seperti terbakar dan biasa disebut hopperburn. Wereng coklat merupakan hama r-strategis; dapat berkembang biak dengan cepat, dan cepat menemukan habitatnya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. Selain itu, hama ini menularkan juga penyakit virus kerdil hampa (VKH), virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-1) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2). Pada saat vegetatif VKH menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak, atau bergerigi, terkandang berwarna putih, tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8-66,9% tertekan, keluar malai di perpanjang sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal (tidak keluar penuh), daun bendera terjadi distori. Saat pematangan buah tidak mengisi dan menjadi hampa

Pengendalian Wereng Coklat

1. Tanam padi secara serentak

Tanam padi secara serentak dalam areal yang luas tidak di batasai oleh batas administrasi. Wereng coklat imigran terbang bermigrasi tidak tidak dapat dibatasi oleh sungai atau lautan. Bila suatu daerah panen atau puso maka wereng makroptera (bersayap panjang) akan terbang bermigrasi mencari tanaman muda dalam populasi tinggi, hinggap (landing) dan berkembang biak pada tanaman padi muda. Bila areal tempat migrasi sempit, maka populasi imigran akan padat.

2. Penggunaan Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan disusaikan dengan keberadaan biotipe wereng coklat yang ada dilapangan. Saat ini, biotipe wereng coklat yang berkembang dilapangan di dominasi oleh biotipe 3 dan dibeberapa tempat telah ada biotipe 4 sehingga memerlukan varietas unggul baru (VUB) yang memiliki ketahanan terhadap biotipe tersebut. Badang litbang pertanian telah menyediakan beberapa VUB yang tahan terhadap biotipe tersebut, yaitu inpari 13, inpari 31 dan inpari 33.

3. Perangkap lampu (Light Traps)

Wereng yang pertama kali datang di persamaian atau pertanaman adalah wereng makroptera betina/jantang imigran. Pasang lampu perangkap sebagai alat untuk menentukan kapan datangnya wereng imigran. Alat ini penting untuk mengetahui kehadiran wereng imigran dan dapat menangkap wereng dalam jumlah besar. Lampu perangkap di pasang pada ketinggian 150-250 cm dari permukaan tanah. Hasil tangkapan ekor/malam. Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu: a). Wereng-wereng yang tertangkap di kubur; b). Keringkan pertanaman padi sampai retak; c). Segera setelah dikeringkan, Kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasi.

4. Waktu Persamaian Padi

Penetapan waktu persamaian ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap     lampu perangkap. Bila datangnya wereng imigran tidak tumpang tindih antara generasi maka persamain hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran. Bila datangnya wereng dari generasi yang tumpang tindih, maka akan terjadi bimodal (dua puncak). Persamaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2

5. Tuntaskan Pengendalian Pada Generasi 1

Catat waktu puncak populasi imigran awal sebagai generasi nol (G0), maka pada 23-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng  coklat generasi ke-3.

Pengendalian wereng yang baik yaitu: a). Pada saat ada imigran makroptera generasi nol [G0] Dan saat generasi ke-1 (G1) Yaitu nimfa-nimfa yang muncul dari wereng imigran; b). Gunakan insektisida dengan bahan aktif pymetrozine, dinotefuran, sebaiknya satu jenis insektisida tidak digunakan terus menerus dalam jangka waktu lama; c). Pengendalian wereng harus seleai pada generasi ke 1 atau pada lambat pada generasi ke 2

6. Pengamatan Wereng coklat di pertanaman

Pengamatan atau monitoring wereng coklat pada 1-2 minggu sekali. Ambil contoh 20 rumpun arah diagonal. Hitung jumlah wereng coklat pada minggu ke-i (A) dan musuh alami laba-laba + paederus + Ophlonea

7. Penggunaan Insektisida

Penggunaan insektisida harus memperhatikan berbagai faktor, antara lain: a). Keringkan areal sawah sebelum aplikasi insektisida baik yang semprotan atau butiran; b). Aplikasi inteksida dilakukan saat aur embun tidak antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai batang padi; c). Tepat dosis dan jenisnya yaitu yang berbahan aktif pymetrozine, dinotefuran; d). Tepat air peralut 350-500 liter air per ha.

8. Pengendalian double cover

Bila insektisida semprotan di gunakan tidak atau kurang manjur maka pengendalian wereng coklat perlu didobel dengan memberikan insektisida sistematik melalui akar.

Pengendalian penyakit virus kerdil

Sampai saat ini belum ada virusida atau bahan lain yang dapat dipakai untuk mengendalikan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput (Gambar 3). Usaha yang dapat dilakukan adalah: a). Kendalikan wereng coklat terutama makroptera/bersayap sampai populasi serendah mungkin; b). Hindari kontak inokulum penyakit dengan weren coklat; c). Cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput.  

 

Oleh : Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BPTP Balitbangtan Sulawesi Barat)

Sumber Bacaan : Leaflet Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)

 

PENGUNJUNG

26235

HARI INI

29820

KEMARIN

2157491

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook