Materi Penyuluhan

PEREMAJAAN KARET RAKYAT

Jum'at, 31 Jan 2020
Sumber Gambar : www.google.com

Produktivitas perkebunan karet rakyat sangat rendah hanya mencapai 883 kg/ha/tahun, sedangkan produktivitas karet pada perkebunan negara dan swasta jauh lebih tinggi masing-masing mencapai 1.266 kg/ha/tahun dan 1.465 kg/ha/tahun. 

Beberapa penyebab rendahnya produktivitas karet rakyat antara lain perkebunan karet rakyat diusahakan dalam skala kecil, menggunakan klon unggul masih rendah (35%), penerapan teknologi masih sederhana dan tingginya presentase jumlah tanaman karet yang sudah berumur tua (30%).

Peningkatan produktivitas karet rakyat dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, melaksanakan teknik produksi anjuran, menggunakan bibit klon unggul dan melakukan peremajaan.  Peremajaan dilakukan dengan menebang tanaman tua dan menanam kembali secara total dengan klon unggul.  Beberapa model peremajaan karet rakyat yang dapat diterapkan antara lain :

1. Penebangan secara total

Peremajaan cara ini dilakukan dengan menebang semua tanaman tua dan meremajakannya.  Semua sisa tanaman, batang, cabang, ranting dan daun termasuk perakaran karet tua dibuang ke luar lahan pertanaman.  Tanah kemudian diolah dan sisa-sisa perakaran dibersihkan.  Selanjutnya ditanam tanaman baru, yang benihnya berasal dari klon unggul. 

Beberapa klon unggul komoditas karet antara lain :

a.  Klon Penghasil Lateks

Klon yang tergolong dalam kelompok ini memiliki potensi hasil lateks tinggi sampai sangat tinggi, sedangkan potensi kayunya kecil sampai sedang. Klon ini sangat cocok ditanam jika tujuannya adalah untuk mendapatkan produksi lateks yang tinggi, biasa digunakan oleh perusahaan-perusahan besar yang beorientasi pada hasil lateks untuk keperluan pabriknya, contohnya antara lain : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260.

b.  Klon Penghasil Lateks - Kayu

Klon kelompok ini dicirikan dengan potensi hasil lateks yang sedang sampai tinggi dan hasil kayunya juga tinggi. Klon jenis ini sangat dianjurkan untuk petani karena selain untuk mendapatkan produksi lateks yang tinggi juga dapat diambil kayunya, contohnya antara lain : AVROS 2037, BPM 1, RRIC 100, PB 330, PB 340, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR 118.

c.  Klon Penghasil Kayu

Klon kelompok ini mempunyai potensi kayu yang sangat tinggi sedangkan potensi lateksnya rendah. Biasanya klon jenis ini tumbuh tinggi – besar, sehingga potensi kayunya sangat tinggi. Klon ini bisa menjadi pilihan jika tujuan penanamannya untuk penghijauan dan untuk diambil kayunya, contohnya antara lain: IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78.

2. Peremajaan secara underplanting

Peremajaan cara ini dilakukan dengan menanam tanaman bagu di bawah pohon tanaman lama yang sengaja tidak ditebang pada saat penanaman tanaman baru (re-planting).  Pohon lama dibiarkan hidup dan terus disadap lateksnya sampai tanaman muda berumur 3 tahun.  Tanaman baru ditanam di antara gawangan tanaman tua, setelah dibuat lubang dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm.  Jarak tanam disamakan dengan jarak tanam tanaman tua. 

Keuntungan dari cara peremajaan ini adalah penyadapan lateks pada tanaman tua masih bisa digunakan sebagai sumber pendapatan petani dan penebangan karet tua pada saat umur tanaman muda 3 tahun dapat dihasilkan kayu yang dapat digunakan sebagai sumber pendapatan juga.  Sedangkan kerugian dari peremajaan ini adalah TBM tanaman lebih panjang (> 7 tahun) dan tanaman muda akan mudah terserang penyakit akar putih terutama pada lahan yang pernah terserang cendawan ini.

3. Peremajaan secara tebang bertahap

Peremajaan tebang bertahap adalah cara peremajaan dengan melakukan penebangan dan peremajaan pada sebagian tanaman dalam areal yang sama, sehingga masih menyisakan tanaman yang belum ditebang. 

Peremajaan secara tebang bertahap ini mempunyai keuntungan antara lain : biaya peremajaan lebih murah karena dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan petani, lahan hanya sebagian yang terbuka sehingga dapat diintroduksi dengan tanaman sela jagung dan kacang tanah serta pendapatan petani masih tetap terjamin selama kegiatan peremajaan berlangsung.

Peremajaan secara tebang bertahap terdiri dari beberapa modal, yaitu :

a. Tahap penebangan 50 – 25 – 25% selang seling menurut baris tanaman

Peremajaan cara ini dilakukan dengan menanam tanaman baru di bawah pohon tanaman lama setelah 50% tanaman tua ditebang selang seling setiap satu baris.  Penebangan selanjutnya dilakukan pada tahun kedua sebanyak 25% dan tahap ketiga sisanya. 

Penanaman tanaman peremajaan dilakukan diantara bekas penebangan tanaman tua didalam baris.  Jarak tanam sama dengan jarak tanam tanaman lama.  Peremajaan cara ini memerlukan waktu 3 tahun.  Masa TBM tanaman panjang dan bertingkat sesuai dengan waktu penanaman, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan peremajaan model underplanting.

b. Tahap penebangan 50 – 50% total lahan

Peremajaan cara ini dilakukan dengan menanam tanaman baru setelah 50% baris pohon tanaman lama ditebang dan dibersihkan.  Penebangan dan penanaman selanjutnya dilakukan pada tahun kedua.  Penanaman cara peremajaan ini dilakukan diantara tanaman dalam baris, jarak tanaman sama dengan jarak tanam lama. 

Banyak pilihan yang dapat dilakukan dalam melakukan peremajaan tanaman karet rakyat yang perlu dipertimbangkan dengan kondisi petani, ketersediaan dana dan pengetahuan petani terhadap budidaya tanaman semusim di antara tanaman perkebunan.

Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan)

Sumber :

Rusli dan Yulius Ferry, 2014.  Model Peremajaan Karet Rakyat dan Implikasinya.  Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri.  Volume 20 (3), Desember 2014.

Mengenal Jenis-Jenis Karet Unggul. http://budidayakaretunggul.blogspot.com/2015/12/mengenal-jenis-jenis-karet-unggul.html

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook