Gerbang Daerah
JAWA BARAT > KABUPATEN CIREBON > ASTANAJAPURA

BUDIDAYA TANAMAN TEBU

Jum'at, 10 Jan 2020
Sumber Gambar :

I.  Syarat Tumbuh

Tebu tumbuh baik pada daerah beriklim panas tropika dan subtropika disekitar khatulistiwa sampai garis isotherm 20 derajat C, yakni kurang lebih diantara 39 derajat LU sampai 35 derajat LS.  Tanaman tebu banyak diusahakan di dataran rendah dengan musim kering yang nyata.  Tebu dapat ditanam dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1000 m di atas permukaan laut.  Di dataran tinggi yang suhu udaranya rendah, tanaman tebu lambat tumbuh dan berendemen rendah.  Di Asia Tenggara, batas maksimum elevasi untuk pertumbuhan normal tebu adalah 600 – 700 m di atas permukaan laut.  Pada elevasi yang lebih tinggi siklus pertumbuhan akan lebih panjang dari 14 – 18 bulan.

Temperatur optimum untuk perkecambahan tebu adalah 26 - 33 derajat C dan 30 – 33 derajat C untuk pertumbuhan vegetatif.  Selama pertumbuhan tanaman sedang mengalami fase kemasakan, temperatur malam yang relatif rendah (dibawah 18 derajat C) berguna untuk pembentukan kandungan sukrosa yang tinggi.  Secara kuantitatif, tebu merupakan tanaman berhari pendek.  Rata-rata curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal tanaman tebu adalah sekitar 1800 – 2500 mm per tahun.  Dan jika curah hujan tidak mencukupi, lahan tebu harus diberi aliran irigasi.

Di samping itu, tebu memerlukan kesuburan dan sifat fisik tanah yang baik. Tebu dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah.  Namun, kondisi tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tebu dengan baik adalah kondisi tanah yang gembur, berdrainasi baik, memiliki pH 5-8, kandungan nutrisi serta senyawa organik yang banyak, dan kemampuan menahan kapasitas air yang baik.

Pertumbuhan terbaik bagi tanaman tebu adalah pada tanah lempung liat dengan solum yang dalam, lempung berpasir, dan lempung berdebu.  Pada tanah berat juga dapat ditanami oleh tanaman tebu, namun memerlukan pengolahan tanah yang khusus.  Beberapa kultivar tebu dapat tumbuh pada tanah yang berkadar garam relatif tinggi dan tergenang dalam waktu yang lama, terutama bila air mengalir. Pada pertumbuhannya, tebu menghendaki perbedaan nyata antara musim hujan dan kemarau (kering).  Selama masa pertumbuhannya tebu membutuhkan banyak air, sedangkan menjelang tebu masak untuk kemudian dipanen, tanaman tebu membutuhkan keadaan kering tidak ada hujan yang menyebabkan pertumbuhan terhenti.  Apabila hujan terus turun, maka kesempatan masak tanaman tebu terus tertunda yang mengakibatkan hasil rendemen menjadi rendah.

 

II. Penyiapan Benih

Benih harus dihasilkan dari kebun benih yang dikelola dengan baik dan dilakukan secara berjenjang. Benih yang dihasilkan dapat melalui perbanyakan secara konvensional (stek) dan asal kultur jaringan (laboratorium). Jenjang kebun benih tebu konvensional, meliputi Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU), Kebun Bibit Pokok (KBP), Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Datar (KBD). Penyediaan benih melalui konvensional membutuhkan waktu antara 30 - 40 bulan.

Perbanyakan benih tebu melalui kultur jaringan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat terutama untuk varietas-varietas unggul yang baru dihasilkan. Pada tanaman tebu dari satu pucuk batang tebu umur 4 - 6 bulan mampu menghasilkan sekitar 20.000 tanaman semai dalam waktu 6 bulan. Tingkat multiplikasi kultur meristem tunas tebu dapat mencapai 200.000 kali dalam waktu 6 bulan. Sedangkan secara konvensional tingkat perbanyakan di lapangan hanya mampu memberikan tingkat perbanyakan 8 - 12 kali dalam waktu yang sama. Perbanyakan kultur jaringan dilakukan melalui laboratorium sampai aklimatisasi di lapangan (G0 sampai G2) membutuhkan waktu antara 17 - 19 bulan.

Bibit tanaman hasil perbanyakan melalui kultur jaringan/meristem mempunyai keunggulan antara lain sehat, seragam dan secara genetik sama dengan induknya. Serangan penyakit pembuluh (Ratoon Stunting Disease/RSD) tidak terdapat pada tanaman tebu asal kultur jaringan sampai dengan keprasan kedua. Benih G0 yang dihasilkan dari laboratorium kultur jaringan, dapat ditangkarkan menjadi benih G1. Benih G1 ditangkarkan lagi menjadi G2 yang selanjutnya dapat ditanam atau ditangkarkan untuk Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Datar (KBD). Proses produksi benih G0 dilakukan di laboratorium, sementara proses produksi benih G1 dilakukan di Pembibitan dan G2 dilakukan di lapangan. Benih harus berasal dari kebun benih yang telah berumur 6 - 8 bulan untuk setiap jenjang kebun benih.

Bibit konvensional biasanya diambil dari bagian tanaman tebu bibit umur 6 - 7 bulan,  bentuknya beragam mulai dari pucuk, bagal (mata 3, 2 atau 1), rayungan, topstek, budset, planlet, bud chip, hingga bentuk-bentuk lainnya, termasuk  salah satu metoda pembibitan yang saat ini sedang naik daun  disebut single bud planting (SBP). Bibit konvensional tidak bisa terbebas dari serangan hama dan penyakit karena proses produksi dilakukan sepenuhnya di lapang.

Sebaliknya, bibit kultur jaringan  bisa terbebas dari penyakit sistemik dan hama sehingga lebih sehat dan produktif. Dengan teknik kultur jaringan atau kultur in-vitro, bagian tanaman seperti protoplas, sel, jaringan dan organ, ditumbuhkan dan diperbanyak dalam media buatan dengan kondisi aseptik dan terkontrol.

Benih yang bermutu harus memenuhi kriteria sebagai berikut: standar daya kecambah > 90%, ukuran batang dengan panjang ruas normal (tidak ada gejala hambatan pertumbuhan/kerdil), mata tunas masih dorman, benih tebu tidak kering, keriput dan berjamur. Standar benih tebu yang sehat berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan kriteria sebagai berikut serangan hama penggerek batang < 2 % dari jumlah ruas, penggerek pucuk < 5 % dari jumlah ruas, hama lain < 5 %, benih harus diusahakan tidak terserang penyakit sistemik seperti RSD, mosaik dan blendok.

Untuk mencegah hama dan penyakit pada tanaman, benih sebelum ditanam diperlakukan dengan perawatan air panas (HWT) pada suhu 500C selama 2 jam untuk pengendalian penyakit RSD, luka api, pengendalian spora jamur, serangga, dan kutu.

 

III. Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan tanam tebu disini termasuk adalah kegiatan pembajakan dengan tujuan pembalikan tanah guna membunuh gulma dan penyakit yang ada pada permukaan tanah. Dalam penyiapan lahan ini juga terkadang juga terdapat upaya penambahan nutrisi dan perbaikan sifat tanah dengan cara penambahan BO dari pupuk kandang dan ini dilakukan biasanya sebelum proses pembajakan. Kemudian setelah itu melakukan pembuatan bedengan bedengan atau guludan guludan, dimana bedengan tersebut disesuaikan dengan jaarak tanam tebu.

 

IV. Penanaman

Di dalam proses penanaman tebu ini memiliki dua tujuan yaitu tanam guna memperoleh bibit dan tanam  untuk tebang tebu giling. Tanam untuk memperoleh bibit adalah kegiatan menanam dimana tebu ini akan diudidayakan untuk nantinya dijadikan bibit tebu. Pelaksanaan tanam tebu bibit ini dilakukan pada bulan Desember-Januari dimana pada bulan tersebut merupakan musim hujan, dengan tujuan pada tanam tebu bibit ini tersedia cukup air untu memecah nutrisi yang tersimpan untuk membentuk tunas. Masa tanam tebu bibit ini hanya 6 bulan saja sehingga tebu bibit dapat dipanen pada bulan Juni-Juli bertepatan masa tanam tebu tebang giling.

Tebu tebang giling adalah usaha budidaya tebu yang dilakukan untuk diperoleh nira atau air gula nya guna diolah untuk menjadi gula. Untuk tebu tebang giling dimulai pada bulan Juni-Juli dimana pada bulan tersebut bertepatan pada musim kemarau. Tebu tebang giling memiliki usia 10-12 bulan. Tanam tebu tebang giling ini dapat dilakukan dengan menanam bibit baru atau menggunakan hasil keprasan usaha budidaya tebu tebang giling musim tanam sebelumnya/ tahun sebelumnya.

Jarak tanam tebu ini adalah menggunakan system PKP yaitu system jarak tanam dari pusat ke pusat dimana dari pusat kepusat memiliki jarak antara 100-120cm.

  1. Pemeliharaan
  2. Pemberian Air

Pemberian air merupakan kegiatan menaambahkan air pada media tanam guna air dapat diserap tanaman untuk membantu setiap proses metabolisme tanaman. Pemberian air paada budidaya tanaman tebu dapat menggunakan air waduk dengan cara pengairan teknis, tadah hujan dengan cara sirat, atau dengan air sumur bor / pompanisasi menggunakan system leb. Pengairan atau pemberian air dalam praktek budidaya tebu dilakukan pada massa setelah tanam dan setiap setelah dilakukan pemupukan guna melarutkan pupuk/ unsure hara tambahan ke dalam tanah guna dapat diserap oleh akar-akar tanaman.

V. Penyiangan

Penyiangan adalah kegiatan membersihkan media tanam sekitar tanaman pokok dari taaman tanaman pengganggu ( gulma ). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mencabuti, menimbun tanaman pengganggu ( turun tanah), gulud atau bumbun. Penyiangan ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan persaingan antara tanaman utama denga tanaman pengganggu untuk mendapatkan air, unsure hara, cahaya, oksigen, dan ruang tumbuh dan penyiangan ini juga bertujuan mengurangi bahaya serangan hama dan penyakit tanaman. Penyiangan dapat juga menggunakan bentuan Herbisida tanpa membunuh tanaman utama. Namun dalam prinsip PHPT penggunaan herbisida kimia dapat menimbulkan residu yang berbahaya bagi media tanam (tanah) mapun residu bagi tanaman yang membahayakan bagi manusia yang mengonsumsinya.

 

VI. Pemupukan

Pemupukan adalah usaha memberikan unsure hara tambahan yang dibutuhkan tanaman guna membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang optimal. Dalam konsep budidaya tanaman yang sehat dan berkelanjutan pemberian pupuk harus sesuai dengan anjuran peberian dan sesuai dosis yang telah ditentukan.

Pemupukan pertama dilakukan pada masa penyiapan lahan yaitu dengan pemberian pupuk organic (pupuk kandang/kompos). Pemberian pupuk I dilakukan pada usia 20-30hst yaitu dengan pemberian pupuk ZA dan Phonska dengan dosis  100kg/ha dan 140kg/ha. Dan pemupukan ke II dilakukan pada usia 2-3hst dengan memberikan ZA dan Phonska  dengan dosis masing-masing 400kg/ha dan 300kg/ha.

 

VII. Bumbun/Gulud/Ipuk

Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 – 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput-rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.

Pembumbunan ke – 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.

 Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.

 

VIII. Klentek

Yaitu melepaskan daun kering, harus dilakukan 3 kali, yaitu sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang. Kletek Perempalan daun. Kegiatan perempelan daun bertujuan untuk membersihkan daun-daun yang sudah kering pada tanaman tebu sehingga kelihatan bersih, mudah untukpengamatan , pengontrolan, menghindari kebakaran dan memudahkan pemeliharaan selanjutnya.

Cara melakukan perempelan daun tebu Daun-daun yang sudah kering dilepaskan menggunakan sabit tajam/sabit bergigi dari tanaman tebu, kemudian daun diikat sesuai dengan kemampuan, kemudian di kumpulkan disisi sisi jalan untuk memudahkan pengangkutan.

Daun-daun tersebut dikumpulkan menggunakan kendaraan Truk/Gerobag di suatu tempat, kemudian dapat diolah menjadi silase makanan ternak maupun diolah menjadi pupuk kompos.

Perempalan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 4 bulan setelah tanam dan yang kedua ketika tebu berumur 6-7 bulan. Sehingga ruas-ruas tebu nampak bersih dari daun tebu kering.

 

IX. Pengelolaan Hama dan Pentyakit Terpadu

Hama dan penyakit dalam budidaya tanaman merupakan hal yang perlu menjadi perhatian karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi apabila serangan hama melebihi ambang ekonomi. Agar tidak terjadi ledakan serangan hama dan penyakit, maka perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman tebu mulai umur tanaman 1 bulan. Penggerek pucuk dan batang merupakan hama-hama utama di beberapa pabrik gula khususnya di Jawa dan Sumatera. Hama penggerek pucuk Triporyza nivela intacta menyerang tunas umur 2 minggu hingga saat tebang. Pucuk tebu yang terserang akan mati atau membentuk siwilan.

Hama penggerek yang menyerang batang tebu adalah Proceras sacchariphagus (penggerek bergaris), Chilo auricilia (penggerek berkilat), eucosma scistaceana (penggerek abu-abu), Chilotraea infuscatela (penggerek kuning), Sesamia inferens (penggerek jambon) dan Pragmataesia castanea (penggerek raksasa). Kerugian akibat serangan penggerek berupa batang-batang yang mati tidak dapat digiling dan penurunan bobot tebu atau rendemen akibat kerusakan pada ruas­ruas batang. Kerugian gula akibat serangan penggerek pucuk ditentukan oleh jarak waktu antara saat penyerangan dan saat tebang

. Menurut Wiriotmodjo (1970), kehilangan rendemen dapat mencapai 50 % jika menyerang tanaman tebu umur 4-5 bulan dan 4 – 15 % pada tebu yang berumur 10 bulan. Hasil pengamatan Wirioatmodjo (1973), pada tingkat serangan ruas sebesar 20 %, penurunan hasil gula dapat mencapai 10 %.

Pengendalian hama penggerek dengan cara mekanis dan kimiawi semakin mahal dan sulit dilakukan. Oleh karena itu pengendalian secara terpadu (PHT) merupakan alternatif yang terbaik. Kegiatan PHT dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan berbagai macam cara pengendalian yang meliputi pengendalian secara mekanis, kultur teknis, biologis, dan kimiawi.

Pengendalian secara mekanis yang dilakukan di antaranya tangkap kupu-telur, klentek, dan roges. Pengendalian kultur teknis meliputi penanaman dengan menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit, dan penggunaan blok sistem dalam tebang. Pengendalian hama secara biologis dengan menggunakan parasitoid dan predator seperti Trichogamma chilonis, Cotesia flavipes, Sturmiopsis inferens, Tetrastichus scoenobii, dan Elasmus zehteneri. Pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi carbofuran dengan Microband dan spray pesawat untuk hama penggerek pucuk dan kutu bulu putih.

Pengendalian penyakit Pembuluh dengan perawatan air panas 50° C selama 2 jam terhadap bibit tebu dapat mengembalikan hasil yang hilang sebesar lebih kurang 10 %, tetapi kendala yang dihadapi adalah ketiadaan tangki air panas di pabrik gula ­pabrik gula.

 

X. Pemanenan

Pemanenan adalah kegiatan akhir dari setiap siklus penanaman tebu, dimana kegiatan pemanenan meliputi Tebang, Muat dan Angkut, yang bertujuan: memungut tebu dalam jumlah yang optimal dari setiap petak tebang, mengangkut tebu dari petak tebangan ke pabrik dan mempertahankan hasil gula yang secara potensial berada pada tanaman tebu. Kegiatan tebang muat angkut (TMA) adalah kegiatan yang sangat komplek, karena bukan saja merupakan rangkaian dari tiga kegiatan yang saling mempengaruhi, tapi juga karena sangat ketat dibatasi oleh waktu. Apabila terjadi kendala di salah satu kegiatan, maka kegiatan lainnya akan terganggu. Seluruh kegiatan pertanaman akan ditentukan hasilnya dalam kegiatan TMA, bahkan hasil kinerja perusahaan akan ditampilkan dari kegiatan TMA. Kinerja manajemen seolah-olah dipertaruhkan dalam kegiatan ini. Secara garis besar tujuan dari TMA adalah mendapatkan tebu giling yang masak segar bersih (MSB) sebanyak-banyaknya sejak ditebang hingga digiling dalam tempo secepatnya.

Pelaksanaan pemanenan dan pengiriman tebu ke pabrik menggunakan 3 (tiga) sistim tebang yaitu:

  1. Penebangan Tebu Sistem Tebu Ikat (Bundled Canet-BC)

Tebangan dengan sistem Bundled Cane adalah sitem tebangan yang dalam pelaksanaan tebang serta pemuatannya (loading) dilaksanakan dengan tenaga manusia (manual), sedangkan transportasi tebu dari petak tebang ke pabrik dilaksanakan dengan mengunakan truck. Karakteristik tebangan Bundled Cane mempunyai keunggulan: hanya memerlukan investasi yang relatif kecil, dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, resiko terhadap kerusakan petak relatif kecil, dapat beroperasi walaupun dalam kondisi cuaca basah, kapasitas pengiriman ke pabrik relatif besar. Di samping itu tebangan Bundled Cane mempunyai kekurangan: kualitas tebangan berfluktuasi dan tergantung dari intensitas pengawasan di lapangan, sangat rentan terhadap faktor eksternal (faktor sosial), memerlukan tenaga tebang dalam jumlah besar, dan hal ini seringkali sulit didapatkan.

      2. Penebangan Tebu Sistem Tebu Urai (Loose Cane-LC)

Sistem penebangan Loose Cane (LC) adalah sistem penebangan di mana tebang dan ikat tebu dilakukan secara manual sedang pemuatannya (loading) dilakukan dengan menggunakan Grab Loader, dan pengangkutan tebu dari petak tebang ke pabrik dilakukan dengan truck (Losse Box) ataupun diangkut dengan trailer. Keunggulan penebangan Loose Cane: kapasitas pengiriman relatif besar, penyelesaian penebangan dan transportasi relatif cepat, dapat digunakan sebagai balancing atau penyeimbang terhadap permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul dari Bundled Cane. Sementara itu untuk kekurangannya: diperlukan investasi yang relatif besar untuk pembelian peralatan seperti traktor, trailer, grab loader, dan sebagainya, dalam kondisi areal basah seringkali kesulitan dalam operasional loading maupun transportasi tebunya, resiko kerusakan areal lebih besar dibandingkan dengan sistem manual (Bundled Cane).

      3. Penebangan Tebu dengan Mesin (Cane Harvester)

Penebangan dengan menggunakan mesin pada hakekatnya hanya untuk penyangga atau membantu untuk memenuhi quota pengiriman tebu. Hal ini mengingat dengan peralatan tersebut diperlukan investasi awal yang besar serta dengan biaya operasional yang relatif mahal. Akan tetapi pada kondisi tertentu penebangan tebu harus dibantu dengan menggunakan peralatan mesin tebang tersebut.Kondisi dimana mengharuskan penebangan dengan cane harvester: pada saat jumlah tenaga tebang menurun, sehingga quota pengiriman tebu ke pabrik tidak terpenuhi dari sistem Bundled Cane maupun Loose Cane, diperlukan pengiriman tebu ke pabrik dalam waktu yang cepat, agar dapat memenuhi quota pengiriman tebu ke pabrik, untuk membantu/menopang pengiriman tebu ke pabrik agar dapt menggiling tebu secara kontinyu. Sementara itu untuk pengoperasian Cane Harvester secara optimal diperlukan persyaratan-persyaratan antara lain: kondisi areal relatif rata, kondisi tebu tidak banyak yang roboh, kondisi areal bersih dari sisa-sisa kayu/tunggul, kondisi areal tidak banyak mengandung tanaman merambat (Mikania), petak tebang dalam kondisi utuh sekitar 10 ha, kondisi petak tebang tidak basah/becek.

 

 

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook