Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI BUDIDAYA KOPI

Senin, 30 Des 2019
Sumber Gambar :

Kopi merupakan komoditas unggulan di Provinsi Bengkulu, khususnya di Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong yang merupakan kawasan kopi. Dalam pengembangan kawasan kopi ditemui beberapa permasalahan antara lain penggunaan klon asalan, serangan penggerek buah kopi dan produktivitas dann kualitaskopi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diterapkan teknologi budidaya kopi yang dianjurkan..

 BENIH

Bahan tanam yang digunakan berpengaruh terhadap produktivitas, mutu, dan citarasa kopi yang dihasilkan. Oleh karena itu, bahan tanam yang digunakan hendaknya menggunakan varietas/klon unggul anjuran. Namun demikian, dalam pemilihan varietas/klon unggul anjuran perlu dipertimbangkan kesesuaian lahan untuk masing-masing varietas/klon tersebut agar dapat diperoleh produktivitas, mutu, dan citarasa yang optimal.

Benih kopi bersertifikat spesifik lokasi untuk Kabupaten Kepahiang adalah  untuk batang atas BP308 dan untuk batang bawah Sehasen, Sintaro 1, Sintaro 2, Sintaro 3, BP30, BP534, BP42, BP936 (Klon kopi Robusta anjuran sesuai dengan ketinggian tempat dan tipe iklim)

PERSIAPAN TANAM

Pengajiran

Pengajiran dilakukan untuk mengatur jarak tanam di lapangan, .mempermudah pembuatan lubang tanam, dan membantu agar benih yang ditanam membentuk garis lurus.

 Pembuatan Lubang Tanam

  1. Ukuran lubang tanam 60 cm x 60 cm x 40 cm, berbentuk trapesium.
  2. Lokasi pembuatan lubang tanam pada ajir yang telah ditentukan sesuai dengan jarak tanam.
  3. Lubang tanam sebaiknya dibuat 6 bulan sebelum penanaman.
  4. Tanah galian lapisan atas dan bawah dipisahkan.
  5. Tiga bulan sebelum tanam, lubang tanam ditutup 2/3 bagian dengan tanah lapisan atas dicampur dengan bahan organik/pupuk kandang/kompos.

Penanaman Penaung

Tanaman penaung tetap yang dianjurkan, yaitu lamtoro (Leucaena spp.), gamal (Gliricidia sepium), dadap (Egthrina sp.) dan sengon (Paraserianthes falcataria).

Lamtoro tidak berbiji dapat diperbanyak dengan atau okulasi, ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m, setelah besar secara berangsur-angsur dijarangkan menjadi 4 m x 5 m.

 PENANAMAN

  1. Benih ditanam setelah pohon penaung berfungsi baik.
  2. Digunakan benih yang sudah siap salur.
  3. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, hindari penanaman pada waktu panas terik.
  4. Sebelum penanaman lubang tanam dipadatkan, kemudian tanah dicangkul sedalam ± 30 cm.
  5. Akar tunggang yang terlalu panjang dipotong, sedangkan untuk benih dalam polybag dilakukan dengan memotong bagian dasar polybag ± 2-3 cm dari bawah.
  6. Benih ditanam sebatas leher akar.
  7. Penutupan lubang tanam dibuat cembung agar tidak terjadi genangan air.
  8. Tanaman yang mati segera dilakukan penyulaman selama musim hujan

 PEMUPUKAN

Pemupukan tanaman hasil penyambungan bertujuan untuk memenuhi unsur hara pada tanaman. Dosis pemupukan tanaman hasil penyambungan sebagai berikut ;

  1. Umur tanaman 1 tahun membutuhkan 20 g Urea, 25 g SP-36, 15 g KCl dan 10 gr Kiserit per tahun
  2. Umur tanaman 2 tahun membutuhkan 50 g Urea, 40 g SP-36, 40 g KCl dan 15 gr Kiserit per tahun
  3. Umur tanaman 3 tahun membutuhkan 75 g Urea, 50 g SP-36, 50 g KCl dan 25 gr Kiserit per tahun
  4. Umur tanaman 4 tahun membutuhkan 100 g Urea, 50 g SP-36, 70 g KCl dan 35 gr Kiserit per tahun
  5. Umur tanaman 5-10 tahun membutuhkan 150 g Urea, 80 g SP-36, 100 g KCl dan 50 gr Kiserit per tahun
  6. Umur tanaman > 10 tahun membutuhkan 20 g Urea, 25 g SP-36, 15 g KCl dan 10 gr Kiserit per tahun

(Sumber : Puslit Kopi dan Kakao Jember)

 Untuk pupuk organik/kompos spesifik lokasi di Kabupaten Kepahiang 5 – 10 kg/batang. Dianjurkan penggunaan pupuk hayati Pakuwon Biofertilizer sebanyak 50 gr/pohon/tahun yang berfungsi untuk mematangkan buah kopi secara serentak.

 PEMANGKASAN

Pemangkasan bertujuan untuk menjaga agar pohon tetap rendah sehingga mempermudah pemeliharaan tanaman, membentuk cabang-cabang produksi yang baru, mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama penyakit. Pemangkasan dapat dilakukan bersamaan pada saat panen sambal menghilangkan cabang-cabang yang tidak produktif, cabang liar maupun cabang yang sudah tua. Berdasarkan tujuannya, pemangkasan tanaman kopi dapat dilakukan menjadi 3 jenis yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi dan pemangkasan peremajaan (rejuvinasi). Pemangkasan bentuk bertujuan untuk membentuk kerangka tanaman yang kuat dan seimbang. Pemangkasan  produksi (pemeliharaan) bertujuan untuk menjaga keseimbangan kerangka tanaman yang telah diperoleh melalui pemangkasan bentuk. Sedangkan pemangkasan peremajaan dilakukan apabila produksi rendah tetapi keadaan pohon masih cukup baik.  

 PENGENDALIAN GULMA

Pengendalian gulma pada pertanaman kopi yang dianjurkan adalah selalu bersih dari gulma terutama sekitar daerah perakaran (piringan tanaman). Pengendalian gulma di luar daerah perakaran bisa dilakukan dengan menanami tanaman penutup tanah. Apabila gulma tetap tumbuh, bisa disiang dengan menggunakan cangkul atau disemprot dengan menggunakan herbisida.

 PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT

Hama utama kopi yang dapat menurunkan produksi dan mutu kopi adalah : penggerek buah kopi oleh Hypothenemus hampei Ferr. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara : 1) petik semua buah yang masak awal, biasanya dilakukan pada 15-30 hari menjelang panen raya, 2) lakukan lelesan, 3) racutan/rampasan,   4) pemangkasan dan 5) penyemprotan dengan agensia hayati, yaitu dengan pemanfaatan jamur Beauveria bassanian dengan dosis 2,5 kg bahan pada per ha setiap kali aplikasi.

Hama pada batang dan dahan biasanya berupa larva dari beberapa jenis kumbang seperti penggerek merah Zeuzera coffe, dengan ciri fisik pada bulatan kuning dibagian dada dan perut. Ciri tanaman yang terserang antara lain 1) adanya lubang di atas batang (pucuk) dan dibagian yang tebal, 2) kayu dan kulit pohon rusak, 3) kayu dan batang menjadi patah. Cara pencegahan dan pengendaliannya:   1) lakukan pemangkasan pada cabang yang terserang, 2) buang pohon yang telah mati,  3) kurangi pohon naungan.

PANEN DAN PASCA PANEN

Tanaman kopi pada umur 2,5 – 3 tahun biasanya telah mulai menghasilkan. Panen dilakukan jika dalam satu brondolan buah sudah masak sempurna (petik merah) atau dengan cara memilih/sortir yang sudah masak sempurna.

(Sri Suryani M. Rambe dan Robiyanto)

PENGUNJUNG

1793

HARI INI

17699

KEMARIN

1600012

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook