Materi Lokalita
JAWA TENGAH > KABUPATEN SEMARANG > PRINGAPUS

Metode Budidaya Padi Sistem Intensifikasi Padi (system Of Rice Intensification - Sri)

Rabu, 04 Des 2019
Sumber Gambar : www. agritech.tnau.ac.id

Cara Menghasilkan Lebih Banyak Produksi Padi dengan Lebih Sedikit Masukan (input/sarana produksi)

Petunjuk Pelaksanaan di Lapangan

Karma Lhendup, Faculty of Agriculture, College of Natural Resources Royal University of Bhutan

 

Sistem Intensifikasi Padi (SRI) adalah metode baru dan menjanjikan dengan penghematan sumber daya untuk pertumbuhan padi irigasi ataupun tadah hujan. Studi di sejumlah negara telah menunjukkan peningkatan hasil panen yang signifikan, dengan substansial penghematan biji (80-90%), air (25-50%), dan biaya (10-20%) dibandingkan dengan metode konvensional. SRI bukan sebuah teknologi, tetapi seperangkat ide dan prinsip sederhana yang membantu menghasilkan tanaman yang lebih produktif dan kuat. Ide-ide tersebut adalah:

  1. Tanam bibit yang sangat muda, dengan persemaian yang tidak tergenang (kering /dapog).
  2. Penanaman dengan hati-hati dan dangkal.
  • Tanam dengan bibit tunggal dan jarak tanam yang lebih luas dari sekarang.
  1. Menerapkan pengairan minimum - tidak ada penggenangan air secara terus menerus.
  2. Pengendalian gulma dengan aerasi tanah aktif.
  3. Mengandalkan sebanyak mungkin materi organik untuk pemupukan tanah.

Langkah 1 sampai 7 menunjukkan metode SRI.

Langkah 1.

Persiapan pembibitan menggunakan metode dan sarana yang tersedia. Benih direndam dalam air selama 24 jam dan diinkubasi (peram) dalam lap (kain) selama 24 jam sebelum disemai di persemaian kering (dapog), pembibitan seperti taman ini membantu biji berkecambah lebih cepat. Menabur benih dapat dilakukan dengan berbaris atau acak.

Langkah 2.

Bibit padi dengan 2-3 daun, siap ditanam. Cabut bibit dengan hati-hati beserta tanah / medianya dengan menggunakan sekop untuk menghindari trauma pada akar. Gunakan benda datar untuk membawa bibit ke lahan. Hindari kerusakan pada bibit yang masih lunak (lemah) dan akarnya saat mengangkut dan jangan dibiarkan kering.

Langkah 3.

Tanam bibit muda (tanaman dengan 2 daun memiliki potensi untuk mencapai 84 anakan) dan tunggal, lakukan ini dengan hati-hati dengan kedalaman dangkal (2-3 cm) dengan posisi sedikit miring tanpa menghilangkan partikel tanah yang menempel pada akar bibit ke dalam lahan yang berair dan datar tetapi tidak banjir (macak macak) (Gambar 5). Gunakan jarak di atas 25 x 25 cm antara bibit dengan menggunakan tali yang telah ditandai untuk mendapatkan jarak yang seragam. Ini bukan hanya akan menghemat jumlah benih yang dibutuhkan, tetapi juga mengurangi kompetisi untuk nutrisi, air dan sinar matahari. Ini akan memberikan banyak ruang untuk menyebar, menghasilkan banyak anakan dan penyiangan juga akan lebih mudah.

Langkah 4.

Setelah penanaman, biarkan lahan tetap dalam keadaan macak macak setidaknya selama 12-14 hari. Kondisi ini memungkinkan bibit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru mereka. Setelah itu, lakukan pengairan dengan pembasahan dan pengeringan secara bergantian (pengairan berselang) sampai tahap berbunga (lebih rinci di Langkah 5). Penampakan keragaan tanaman dilahan dengan metode SRI biasanya tampak mengerikan (memprihatinkan, karena tanam tunggal) sekitar satu bulan atau lebih. Tetapi setelah itu akan berhasil.

Langkah 5.

Di lahan sawah yang tergenang, akar tanaman mati karena kekurangan oksigen. Jadi SRI merekomendasikan serangkaian siklus pembasahan dan pengeringan sampai akhir tahap vegetatif. Ini dapat dilakukan dengan menggenangi lahan selama 3-6 hari, dan kemudian membiarkannya kering untuk jumlah hari yang sama, atau kurang tergantung pada kondisi cuaca, sampai permukaan tanah terlihat retak (kecuali tanah lempung, yang perlu dijaga setidaknya lembab). Proses membasahi dan mengeringkan ini memungkinkan akar tanaman tumbuh dengan baik dengan mengakses air dan udara yang memadai. Ini akan menghemat air dibandingkan dengan metode konvensional dan menghasilkan pertumbuhan tanaman dan akar yang lebih baik. Di tahap reproduksi, setelah berbunga, air harus dijaga dengan ketinggian sekitar 3-5 cm sampai 2 minggu sebelum panen, meskipun untuk pertumbuhan akar yang lebih baik, pengairan berselang dapat dilanjutkan.

Langkah 6.

Lakukan penyiangan pertama pada umur 12-14 hari setelah dengan menggunakan rotary weeder ataupun landak jika memungkinkan. Alat ini tidak hanya mengaerasi tanah tetapi juga mengendalikan gulma dengan mengubahnya menjadi tanah. Penyiangan selanjutnya harus dilakukan pada interval sekitar 2 minggu, sampai kanopi menutup.

 Langkah 7.

SRI merekomendasikan penggunaan pupuk organik atau kompos yang terbuat dari biomassa terdekomposisi (jerami, dll.). Aplikasi pupuk organik tidak hanya memperbaiki struktur tanah tetapi juga meningkatkan jumlah dan keragaman organisme tanah yang berguna di lahan. Metode ini untuk memperbaiki kesuburan tanah dalam mendukung pertanian organik, memperbaiki kesehatan tanah, memperhatikan masalah kualitas lingkungan, dan mengurangi biaya budidaya.

Sistem perakaran yang lebih luas, tanaman yang lebih besar dan lebih sehat, anakan yang banyak dari satu bibit, dan akhirnya menjadi kompensasi hasil panen untuk petani SRI. Terlepas dari manfaat ini, aspek positif lainnya dari SRI adalah:  tenaga mesin penggilingan lebih tinggi (sekitar 15%), gabah yang lebih berkualitas, lebih tahan terhadap hama dan penyakit, lebih toleran terhadap kekeringan, dan mengurangi waktu pemasakan gabah (padi) 1-2 minggu. Teknik SRI, meskipun dari definisi istilahnya hanya untuk tanaman padi, tetapi di India diadaptasi untuk  meningkatkan hasil panen lainnya seperti gandum, millet jari, tebu dan mustar.

Tidak ada yang ajaib tentang SRI; meskipun demikian, ia menghasilkan "Lebih Banyak Keluaran (Produksi) dengan Lebih Sedikit Masukan (Sarana Produksi)." Oleh karena itu, SRI ini adalah metode/teknik produksi padi dengan penghematan sumber daya yang baik untuk petani, konsumen, dan lingkungan.

(Sariyatun, SP / PP Muda Kec. Pringapus Kab. Semarang)

 

Diterjemahkan dari :

Lhendup, P. 2008. System of Rice Intensification (SRI) method of Rice Cultivation. Faculty of Agriculture, College of Natural Resources, Royal University of Bhutan. Bhutan.

PENGUNJUNG

1528

HARI INI

17699

KEMARIN

1599747

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook