Gerbang Daerah
BALI > KOTA DENPASAR >

PERKENALKAN VARIETAS BENIH UNGGUL PADI MELALUI DEMONSTRASI AREA

Selasa, 03 Des 2019
Sumber Gambar : Pribadi

Demonstrasi area merupakan salah satu metode penyuluhan yang langsung dipraktekkan oleh petani. Dengan melakukan sendiri, petani lebih yakin dalam melanjutkan teknologi yang didemonstrasikan pada musim tanam berikutnya.

Dalam upaya memperkenalkan varietas unggul padi, Dinas Pertanian Kota Denpasar pun menggunakan metode demonstrasi area (demarea). Demarea dilakukan di empat kecamatan, Kecamatan Denpasar Timur seluas 10 ha, Kecamatan Denpasar Utara seluas 77 ha, Kecamatan Denpasar Barat seluas 20 ha, dan Kecamatan Denpasar Selatan seluas 93 ha, sehingga luas total 200 ha. Waktu pelaksanaan mulai bulan Juli/Agustus 2019 hingga Oktober/November 2019. Varietas unggul yang diujicobakan dengan metode demarea ini adalah tropiko, inpari 43, dan cibogo. Dengan mengenal ketiga varietas tersebut, maka petani memiliki lebih banyak pilihan saat melakukan pergiliran varietas. Pergiliran varietas penting dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi intensitas serangan hama dan penyakit. Sebab, penanaman satu jenis varietas dalam jangka waktu lama, menyebabkan varietas tersebut rentan serangan hama dan penyakit. Selain itu, penanaman satu varietas tanpa jeda berpotensi menurunkan produktivitas panen.

Setelah dilaksanakan pengambilan sampel ubinan di semua kecamatan, varietas Inpari 43 menempati hasil tertinggi yaitu berat ubinan 10,35 kg, provitas 142,45 kw/ha, produksi 14,24 ton 6 kg di Subak Dalem, Kecamatan Denpasar Utara. Posisi kedua Varietas Tropiko berat ubinan 8,85 kg, provitas 121,80 kw/ ha, produksi 12,18 ton di Subak Kerdung, Kecamatan Denpasar Selatan. Posisi ketiga Varietas Cibogo dengan berat ubinan 7,97, provitas 109,69 kw/ha, produksi 10,97 ton / ha di Subak Kerdung, Kec. Denpasar Selatan. Hasil perhitungan provitas dan produksi di atas masih dalam bentuk gabah kering panen (GKP), belum memperhitungkan kehilangan hasil akibat dari perlakuan pasca panen yang kurang tepat, serta belum memperhitungkan perbedaan tingkat rendemen.

Hasil yang tinggi dari sampel ubinan juga meningindikasikan  bahwa ketiga varietas yang diujicobakan cocok dikembangkan di Kota Denpasar. Secara umum, petani tertarik dengan varietas tropiko yang memiliki bulir paling besar di antara varietas pada demplot yang dilaksanakan. Inpari 43 juga diminati oleh petani, hanya yang menjadi kendala adalah harga jual tebasan (jual di pohon) lebih rendah dibandingkan tropiko dan cibogo. Petani kesulitan apabila memanen sendiri, sebab mereka mayoritas menghabiskan waktunya untuk bekerja di luar sektor pertanian, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk panen sendiri.

Beberapa kendala memang dihadapi dalam mendorong petani untuk melakukan pergiliran varietas. Ketersediaan varietas benih padi yang diminati petani belum tentu beredar massal di pasaran. Harga jual tebasan berpotensi dimainkan oleh para tengkulak dengan alasan varietas baru belum tentu kualitas beras sesuai selera konsumen. Walaupun demikian, dengan dilakukannya proses penyuluhan yang berlangsung terus menerus kepada petani, melakukan tes rasa di tingkat lapang, serta peningkatan koordinasi dengan produsen penyedia benih (penangkar benih), niscaya petani akan melakukan pergiliran varietas dengan sendirinya. Dengan pergiliran varietas, diharapkan produktivitas panen meningkat, sehingga produksi gabah di Kota Denpasar tidak berpotensi menurun, meskipun luas lahan sawah dari tahun ke tahun terus menurun akibat dari alih fungsi lahan ke non pertanian.

 

Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R., SP (PP Muda)

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook