Materi Penyuluhan

INTEGRASI TANAMAN PADI DENGAN SAPI POTONG BERBASIS ZERO WASTE

Jum'at, 29 Nov 2019
Sumber Gambar : Republika.co.id

Pola integrasi antara tanaman dan ternak sangat menunjang  program penyediaan pupuk kandang di lahan pertanian. Pola semacam ini biasa disebut juga peternakan tanpa limbah, karena limbah peternakan digunakan untuk pertanian. Ciri utama dari integrasi ini adalah adanya keterkaitan dan hubungan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Integrasi ini mampu memperbaiki kesuburan tanah, sehingga hasil dari kedua sektor bisa lebih optimal. Pola integrasi ini bisa menjadi solusi untuk pembangunan pertanian di wilayah pedesaan. Petani bisa memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk untuk tanamannya, kemudian memanfaatkan limbah pertanian untuk digunakan sebagai pakan ternak.

Petani mampu mengatasi permasalahan ketersediaan pangan dengan limbah tanaman seperti jerami, limbah kacang–kacangan, dan lain sebagainya. Terlebih jika musim kering, limbah yang dihasilkan bisa menyediakan pakan sebesar 33,3% dari total rumput yang diberikan. Itu berarti limbah akan semakin banyak, yang artinya pakan untuk ternak akan semakin melimpah. Disamping mampu menghemat biaya untuk pembelian pupuk bagi tanaman yang dikelola, sistem ini juga menghemat tenaga kerja yang digunakan untuk mencari rerumputan untuk ternak. Dengan  adanya kotoran ternak yang berfungsi sebagai pupuk, biaya yang digunakan untuk pembelian pupuk bisa digunakan untuk keperluan lain.

Tanaman yang diintegrasikan dengan ternak sapi mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman untuk pakan ternak dan sebaiknya ternak sapi dapat memberikan bahan baku tanaman yang kaya akan unsur hara. Jika program semacam ini bisa dilaksanakan maka petani dan peternak akan untung sekaligus. Program ini sekaligus meningkatkan hasil panen, daging, susu, sehingga pendapatan petani akan naik.

Untuk dapat dimanfaatkan, hasil limbah pertanian diolah terlebih dahulu. Produk diolah dengan pencacahan, fermentasi atau amonisasi sebelum diberikan kepada ternak agar disukai ternak. Produk samping padi berupa jerami mempunyai potensi yang besar untuk pakan ternak. Produksi jerami tanaman padi rata – rata mencapai 4 ton/ha dan setelah melewati proses fermentasi bisa menyediakan pakan untuk sapi sebanyak 2 ekor pertahun. Jerami yang dibutuhkan juga berbeda tergantung dari ukuran ternak yang ada.

Kotoran sapi berupa feses, urine, dan sisa pakan diolah menjadi pupuk organik padat ataupun cair untuk diberikan pada tanaman, atau bisa juga untuk dijual agar pendapatan bertambah. Seekor sapi misalnya, mampu menghasilkan kotoran sebanyak 8 – 10 kg perhari, urine 7 – 8 liter perhari dan bila diproses menjadi pupuk organik dapat menghasilkan 4 – 5 kilogram pupuk. Itu artinya, seekor sapi dapat menghasilkan sekitar 7,3 – 11 ton pupuk organik pertahun. Pupuk itu dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1,8 – 2,7 hektar dengan dua kali tanam dalam setahun. Kotoran sapi ini bisa digunakan untuk pupuk padi, sayuran, tanaman buah, jagung, dan lain sebagainya. Jika kotoran ternak bisa dimanfaatkan dengan baik maka kebutuhan banyak jenis tanaman akan terpenuhi.

Interaksi yang terjadi dalam sistem pertanian berkelanjutan adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan pakan ternak dapat diperoleh dari rumput dan tanaman pangan seperti padi dan jagung;2) Kotoran ternak dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik bagi kebutuhan tanaman pangan dan sayuran, sehingga petani tidak menggunakan pupuk kimia; dan 3) Tanaman konservasi dapat mencegah terjadinya erosi tanah, demikian pula tanaman konservasi dapat bermanfaat sebagai sumber pakan ternak dan pupuk hijau.

Seperti halnya pengembangan sistem usahatani tanaman-ternak perlu diimbangi dengan peningkatan manajemen sebagai upaya pemanfaatan semua produk tanaman, sehingga tercapai pola zero waste atau tidak ada bagian yang terbuang dan tersedianya sumber pakan dengan biaya murah (zero cost). Ciri utama integrasi tanaman ternak adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanamannya, kemudian memanfaatkan limbah pertanian sebagai ternak.

Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem integrasi usahatani padi-sapi memberikan keuntungan bagi petani. Secara sosial ekonomi sistem integrasi tanaman dan  ternak memberikan beberapa kegunaan bagi petani di antaranya : 1) sumber pendanaan dan pendapatan usahatani lebih beragam (hasil penjualan ternak, kompos, POC, dan padi), 2) tabungan dan modal usaha lebih terjamin, 3) konsumsi rumah tangga dapat terpenuhi (beras, biogas, kompos), 4) dukungan terhadap budidaya tanaman (kompos digunakan pada tanaman).

Ciri utama dari pengintegrasian tanaman dengan ternak adalah terdapatnya keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dengan ternak. Keterkaitan tersebut terlihat dari pembagian lahan yang saling terpadu dan pemanfaatan limbah dari masing-masing komponen. Saling keterkaitan berbagai komponen sistem intgrasi merupakan faktor pemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan masyarakat tani dan pertumbuhan ekonomi wilayah yang berkelanjutan. Dengan katan lain, sistem integrasi tanaman ternak mengemban tiga fungsi pokok yaitu memperbaiki kesejahteraan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan memelihara keberlanjutan lingkungan. Model integrasi padi dan ternak sapi berbasis zero waste meningkatkan pendapatan petani sebesar 20,25% dengan nilai R/C Ratio 1,8 yang berarti usaha ini layak untuk dikembangkan

Pola integrasi tanaman – ternak memerlukan kerjasama antara petani, peternak dan pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk mendorong pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak dapat berupa strategi agresif dan diversifikatif. Pemerintah juga perlu memberikan bantuan modal, penyuluhan, bibit, ternak, pelatihan dan introduksi. Pengembangan integrasi ini bisa dilakukan dengan pendekatan kelompok. Dengan cara ini pemerintah dapat mengintensifkan komunikasi antara anggota kelompok dengan pemerintah agar program ketahanan pangan berkelanjutan bisa terlaksana. . (Suwarna- Penyuluh Pusat)

 

Sumber :

  1. Kallo Repelita, Lade Nely dan Sariubang,M, 2018, Prospek Pengembangan Sistem Integrasi Tanaman Padi dengan Ternak Sapi Pada Program Pembangunan Pertanian Perdesaan melalui Inovasi di Kabupaten Barru, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. IAARD Press.
  2. Ismail dan Djajanegara. 2004. Kerangka Dasar Pengembangan SUT Tanaman Ternak (Draft).   Proyek      PAATP: Jakarta 
  3. -Kariyasa. 2003. Hasil Laporan Pra Survei Kelembagaan Usaha Tanaman-Ternak Terpadu dalam    Sistem dan Usaha Agribisnis. Proyek PAATP, Departemen Pertanian, Jakarta
  4. https://kelompokempatdpkp.blogspot.com/ Diunduh tanggal 04 Nopember 2019
  5. Republika.co.id
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook