Diseminasi Teknologi

Mengenal Hama Utama Tanaman Lada di Bumi Serumpun Sebalai

Rabu, 27 Nov 2019
Sumber Gambar : Berbagai sumber (IPC, Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung)

Pendahuluan

Lada merupakan salah satu tanaman yang sempat menjadi primadona bagi petani di Bumi Serumpun Sebalai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dikarenakan memiliki keunggulan rasa dan aroma yang khas serta harga jualnya yang relatif mahal sehingga sangat menguntungkan untuk dibudidayakan. Namun beberapa tahun terakhir minat petani untuk berusaha tani lada mengalami penurunan, hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya harga jual lada yang semakin murah, pengelolaan kebun lada masih dilakukan secara tradisional, juga dikarenakan serangan hama dan penyakit yang sulit untuk diatasi oleh petani.

Serangan hama dan penyakit menjadi salah satu faktor penyebab turunnya produksi lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penerapan teknologi budidaya lada ramah lingkungan dan berkelanjutan secara tepat dan benar mutlak diperlukan guna menekan serangan hama dan penyakit tanaman tersebut. Umumnya kerusakan tanaman lada akibat penyakit lebih besar dibandingkan dengan serangan hama. Namun serangan hama pada tanaman lada tidak bisa dianggap sepele karena dapat menurunkan produksi lada dan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Mengenal jenis hama yang menyerang tanaman lada merupakan salah satu cara atau tindakan guna mengetahui selanjutnya penanganan yang tepat untuk pengendalian hama tersebut sehingga pengendalian hama akan lebih tepat sasaran dan efisien. Ada tiga jenis hama utama yang sering menyerang tanaman lada di Bumi Serumpun Sebalai yaitu penggerek batang, penghisap bunga dan penghisap buah.

Hama Penggerek Batang

Penggerek batang merupakan hama jenis serangga yang paling merugikan dikenal dengan sebutan kumbang moncong lada (Lophobaris piperis). Hama ini menyerang bagian batang, bunga, buah, daun muda dan pucuk tanaman lada. Larva yang hidup akan menggerek bagian dalam sulur panjang/batang dan menyebabkan gejala layu pada bagian atas tanaman, kemudian mengering dan mudah patah. Pada buah serangan akan menyebabkan buah gugur  atau ukuran buah menjadi tidak normal. Larva akan lebih banyak dijumpai pada musim hujan dan akan berkurang pada musim kemarau. Pada saat pembungaan dan pembuahan maka populasi kumbang dewasa akan semakin meningkat yang terjadi pada akhir musim hujan. Kumbang dewasa akan terlihat pada pagi dan sore hari, sedangkan pada siang hari biasanya kumbang akan bersembunyi di dalam kanopi tanaman lada karena menghindari matahari.

Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai teknik diantaranya

1. Secara mekanik.

Yaitu dengan cara memotong dan memusnahkan batang atau cabang yang terinfeksi. Bekas potongan pemangkasan ditutup dengan lilin atau dioles insektisida.

2. Secara Kultur Teknik

Dengan memangkas tajar hidup dan pengaturan naungan.

Mencari dan memusnahkan kumbang dewasa pada pagi dan sore hari.

Menanam tanaman penutup tanahPembersihan/penyiangan rumput secara terbatas hanya disekeliling tanaman lada.             

3. Secara Kimiawi.

Yaitu dengan mengaplikasikan insektisida berbahan aktif dimethoate 0.05% atau berbahan aktif cypermetrin (EC 16%).

4. Secara Hayati.

Yaitu dengan pemanfaatan musuh alami hama penggerek batang yaitu serangga Spathius piperis, serangga Eupelmus curcullionis dan Aplikasi jamur Beauveria bassiana

5. Penggunaan varietas toleran.

Hama Pengisap Bunga

Kehilangan hasil akibat serangan hama penghisap bunga di Bumi Serumpun Sebalai berkisar antara 7 – 37 % (IPC, 2013). Biasanya hama ini disebut dengan enduk enduk kapal terbang. Hama ini menyerang buah, bunga dan daun tanaman lada. Bunga yang sudah dihisap oleh hama ini akan menyebabkan gejala berwarna coklat kehitaman dan akan mengakibatkan kegagalan pembentukan buah, selanjutnya bunga mengering dan gugur. Serangan hama ini akan terjadi selama masa pembungaan tanaman lada.

Pengendalian dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu

1. Secara mekanik

Dengan melakukan pemangkasan tajar hidup secara teratur untuk mengurangi serangan hama

2. Secara kimiawi

Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif carbaryl 0.2 % atau diazionon 0.2 %.

3. Secara hayati

Dengan pemanfaatan musuh alami yaitu aplikasi Beauveria bassiana dengan kosentrasi 10 g/l dan atau aplikasi ekstrak tanaman nimba.

Hama Pengisap Buah

Di Provinsi Bangka Belitung serangga hama ini lebih dikenal dengan sebutan simunyung, dengan bagian tanaman yang diserang adalah buah. Serangga dewasa berwarna hijau kecoklatan dengan ukuran panjang 12-13 mm dan dapat hidup selama ± 3 bulan. Hama ini merusak buah dengan cara menghisap cairan buah sehingga menyebabkan buah menjadi hampa/kosong, dan akhirnya menjadi kering dan gugur. Serangan pada buah muda akan mengakibatkan tandan buah menjadi banyak yang kosong, dan serangan pada buah yang tua menyebabkan buah menjadi kering.

Pengendalian dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu

1. Secara kultur teknik

    Yaitu dengan menanam tanaman penutup tanah dan melakukan penyiangan secara terbatas hanya pada sekeliling tanaman.

2. Secara kimiawi

    Penyemprotan dapat dilakukan menggunakan insektisida yang sama dengan hama penghisap bunga. 

3. Secara hayati

Dengan pemanfaatan musuh alami yaitu aplikasi Beauveria bassiana dan pemanfaatan musuh alami yaitu serangga Anastatus dasyni, Gryion sp. dan Oencryrtus malayensis.

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook