Diseminasi Teknologi

Tips Mengendalikan Penyakit Kresek atau Hawar Daun Bakteri (HDB) Pada Tanaman Padi

Rabu, 20 Nov 2019
Sumber Gambar : Dok. Religius Heryanto

Salah satu pemicu meningkatnya serangan OPT saat ini adalah adanya perubahan iklim. Perubahan iklim global telah membawa dampak nyata pada sektor pertanian dalam bentuk pergeseran musim. Dampak dari perubahan Iklim adalah meningkatnya kejadian iklim ekstrim, berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut. Perubahan itu otomatis merubah pola tanam padi di Indonesia dan memicu perubahan pola hidup OPT (organisme penganggu tanaman) yang dapat menyebabkan ledakan hama penyakit tanaman padi.

Saat ini petani sering diresahkan dengan pertanaman padinya yang terserang penyakit hawar daun bakteri. Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) atau yang lebih akrab didengar petani dengan sebutan Kresek.  Penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada musim hujan. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang tinggi sangat memicu perkembangan penyakit ini. Selain itu pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri.

Gejala Serangan; Bila serangan terjadi pada fase awal pertumbuhan/persemaian kelihatannya tanaman layu dan akhirnya mati, gejala ini disebut kresek. Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tanaman vegetative.  Sedangkan pada tanaman dewasa penyakit  hawar daun bakteri meninmbulkan gejala hawar (Blight). Baik gejala kresek maupun hawar, gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering.  Penyakit ini juga dapat menyebabkan tanaman mudah rebah sehingga sangat mengganggu proses pengisian gabah. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Pada kondisi tersebut kehilangan hasil dapat mencapai 50-70%.

Faktor yang Mempengaruhi Penyakit; Penyakit hawar daun bakteri (HDB) ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae. Bakteri patogen ini biasa disebut juga dengan patogen Xoo. Serangan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae tersebut dapat mengakibatkan kerusakan tanaman dan menurunkan produksi. Bahkan, dalam serangan berat, dapat mengakibatkan terjadinya puso. Serangan penyakit ini dapat terjadi pada fase bibit, tanaman muda dan tanaman tua. Penyebab penyakit (pathogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Bakteri penyebab kresek berasal dari jerami atau benih padi yang telah terinfeksi sebelumnya. Selain itu gulma dapat menjadi sumber berkembangnya bakteri ini. Sel-sel dari bakteri Xanthomonas melekat pada permukaan daun dengan membentuk butir-butir embun pada pagi hari. Penularan penyakit dapat menyebar karena terbawa air, angin dan benih dan infeksi terjadi melalui stomata. Perkembangan penyakit hawar daun bakteri (BLB) / kresek sangat dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah (20 ? 220C). Itu sebabnya pada musim hujan yang hari-harinya tertutup awan, penyakit berkembang sangat baik.

Pengendalian penyakit hawar daun bakteri sebaiknya dilakukan dengan teknik budidaya dan penggunaan varietas tahan.

a. Teknik Budidaya

  1. Penanaman benih dan bibit sehat; Patogen penyakit HDB dapat tertular melalui benih maka sangat dianjurkan pertanaman yang terinfeksi penyakit HDB tidak digunakan sebagai benih. Bibit yang sudah terinfeksi/bergejala penyakit HDB sebaiknya tidak ditanam.
  2. Memperbaiki cara tanam; penggunaan system tanam jajar legowo dan sistem pengairan secara berselang (Intermitten Irrigation) sangat dianjurkan untuk memberikan ondisi lingkungan yang tidak mendukung perkembangan penyakit HDB. Kedua system tersebut akan mengurangi kelembaban disekitar anopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagi media penularan pathogen.
  3. Pemupukan berimbang; Hawar daun bakteri juga berkembang pada tanaman padi yang dipupuk dengan pupuk Nitogen dengan dosis yang tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium. Pupuk Nitrogen yang tinggi akan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman namun tanaman kurang tahan terhadap infeksi bakteri patogen Xoo. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan hawar daun bakteri ini harus pemupukan tanaman padi harus dilakukan secara berimbang. Pupuk Nitrogen yang diaplikasikan harus diimbangi dengan aplikasi pupuk Kalium;
  4. Sanitasi Lingkungan; Pathogen dapat bertahan pada inang alternative dan sisa-sisa tanaman. Salah satu usaha yang dianjurkan adalah membersihkan sisa jerami tanaman yang telah terinfeksi HDB dengan mengomposkan serta menjaga kebersihan lingkungan pertanaman dari gulma

b.  Menanam varietas tahan; Penggunaan varietas tahan HDB merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit hawar daun bakteri. Namun teknologi ini dihambat oleh adanya kemampuan bakteri pathogen membentuk patotie baru yang menyebabkan ketahanan varietas tidak mampu bertahan lama. Hal ini dapat menyebabkan suatu varietas dapat tahan disuatu saat namun menjadi rentan disaat yang lain atau rentan disuatu wilayah namun tahan di wilayah lain.

Untuk daerah endemik penyakit HDB disarankan menanam varitas padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit HDB. Pencegahan penyebaran penyakit perlu dilakukan dengan cara antara lain tidak menanam benih yang berasal dari pertanaman yang terserang penyakit, mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak melakukan pemotongan bibit dan menghindarkan pertanaman dari naungan.

Ditulis Oleh               : Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BPTP Balitbangtan Sulawesi Barat)

Sumber Bacaan         : Leaflet Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)

Sumber Foto             : Dokumentasi Religius Heryanto, S.ST

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook