Materi Lokalita
JAMBI > KABUPATEN MUARO JAMBI > JAMBI LUAR KOTA

MENGATASI KERITING DAUN CABAI

Sabtu, 09 Nov 2019
Sumber Gambar : Internet

Mengatasi Keriting Daun Cabai Disebabkan Hama

Keriting daun cabai adalah salah satu keadaan pada daun cabai yang menjadi keriting, kuning, kurus dan rontok. Keadaan daun seperti ini menyebabkan nutrisi tidak bisa diproses secara sempurna, tanaman tidak bertumbuh lebat, produktivitas tanaman menurun dan pada kasus terparah bisa terjadi gagal panen.

Penyakit keriting daun pada cabai dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti kekurangan air, kurang perawatan, kondisi benih dan bibit selama pembibitan dan hama. Keriting pada daun cabai bisa disebabkan oleh serangan hama atau disebut organisme pengganggu tanaman (OPT) yang bukanlah virus, jamur ataupun bakteri. Ada beberapa jenis hama yang bisa menyebabkan keriting daun ini. Hama tersebut tergolong dalam jenis kutu-kutuan, yakni thripstungau dan aphids.

Gejala dan cara penanganan terhadap hama-hama ini juga berbeda. Berikut penjelasan mengenai hama dan cara penanganan keriting daun pada tanaman cabai.

  1. Hama Thrips

Gejala fisik yang terlihat pada tanaman cabai adalah adanya bercak-bercak putih atau keperak-perakan/ kekuning-kuningan terutama pada permukaan bawah daun cabai. Bercak-bercak awalnya tampak dekat dengan tulang daun kemudian menjalar ke tulang daun hingga seluruh permukaan daun menguning. Serangan berat daun menjadi berwarna coklat, mengeriting, menggulung sampai akhirnya menjadi kering. Pada akhirnya pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan tidak dapat menghasilkan bunga.

Pencegahan

  • Bibit tanaman cabai yang akan ditanam berasal dari varietas yang tahan terhadap hama thrips.
  • Menjaga kebersihan lingkungan tanaman dengan melakukan penyiangan gulma.
  • Usahakan menyiram tanaman dengan menggunakan springkler, agar daun-daun tanaman ikut tercuci.
  • Jauhkan tanaman cabai dari tanaman-tanaman yang menjadi inang bagi hama thrips seperti terong-terongan, semangka dll.

Pengendalian

  • Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan memotong daun yang terserang hama atau mencabut tanaman jika belum terjadi serangan yang banyak. Tetapi jika sudah terjadi serangan pada seluruh tanaman apalagi adanya serangan virus yang akut mau tidak mau harus dilakukan pencabutan dan pembakaran untuk mencegah serangan hama pada periode tanam mendatang.
  • Pengendalian secara teknis dengan memberikan jeda pada periode tanam berikutnya dengan tidak menanami lahan dengan tanaman yang sejenis.
  • Pengendalian secara biologis, yaitu menyemprotkan biopestisida nabati dari larutan daun antawali, kapur dan kunyit.
  • Pemulihan tanaman yang telah sembuh dari serangan hama thrips yang dapat dilakukan dengan pemupukan dan penyemprotan zat perangsang tumbuh seperti GA3, Atonik, atau pupuk daun.
  • Adapun cara pengendalian hama penyebab daun keriting setelah terjadi serangan adalah melakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, karbosulfan, fipronil atau imidakloprid.
  1. Hama Tungau

Hama tungau yang biasa menyerang tanaman cabe ialah tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah (Tetranycus sp.). Serangan tungau selalu dimulai dari pucuk daun / tunas muda. Serangan ditandai dengan munculnya bintik kuning di permukaan daun yang lama-kelamaan melebar lalu berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya menghitam. Daun yang terserang mengalami perubahan bentuk dan pertumbuhan tunas terhenti. Bagian bawah daun berwarna seperti tembaga dan terdapat benang-benang putih halus. Pada serangan parah, daun-daun cabai berguguran hingga tidak tersisa sama sekali, tunas menghitam kecoklatan dan mati.

Pencegahan

Tanam cabai pada tempat yang jauh dari tanaman cabai terserang.

  • Jangan tanam cabai secara terus menerus pada tempat yang sama.
  • Rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup hama tungau.
  • Menjaga kebersihan kebun, hama tungau bersifat polifag yaitu memiliki banyak tanaman inang termasuk gulma atau rumput liar.
  • Monitoring atau pengamatan rutin untuk memantau perkembangan tanaman dan serangan hama tungau.

Pengendalian

  • Manfaatkan musuh alami, diantaranya cendawan Entomophthora fresenii, tungau Phytoseiulus persimilis, kumbang Stethorus gilvifrons, dan thrips Scolothrips sexmaculatus.
  • Semprotkan insektisida nabati dengan ekstrak tembakau, bawang putih yang dicampur sedikit deterjen. Interval penyemprotan setiap 2 hari sekali dan dilakukan pada pagi atau sore hari.
  • Semprotkan insektisida kimia apabila pestisida nabati tidak mampu lagi mengendalikan hama tungau.
  • Gunakan 2 jenis bahan aktif akarisida atau lebih secara bergantian untuk menghindari kekebalan hama tungau terhadap bahan aktif tertentu.
  • Interval penyemprotan 2-3 hari sekali atau disesuaikan dengan tingkat serangan. Semprotkan pada pagi atau sore hari dengan dosis yang sesuai.
  1. Hama Aphids (Kutu Daun)

Gejala serangan aphids hampir mirip dengan serangan tungau. Akibat cairan daun yang dihisapnya, daun menjadi melengkung ke atas, keriting (kadang memelintir ke samping), dan belang-belang. Daun seringkali menjadi layu, menguning, dan akhirnya rontok. Berbeda dengan tungau, kutu aphids memiliki kemampuan berkembang biak sangat cepat, karena selain dapat memperbanyak diri dengan perkawinan biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa pembuahan.

Pencegahan
Menjaga kebersihan lahan.

  • Tidak menanam pada lahan bekas tanaman cabai atau bekas lahan tanaman kacang panjang.
  • Tidak menanam pada lahan dekat tanaman kacang panjang.

Pengendalian

  • Secara mekanis, cabut dan bakar daun yang sudah terinfeksi kutu daun.
  • Gunakan pestisida alami dengan bahan dasar tembakau, bawang putih dll. Cara pembuatanya dengan merendam segenggam tembakau dalam 5 (lima) liter air deterjen selama satu malam, selanjutnya disaring dan dapat diaplikasikan di tanaman yang terserang. Semprotkan dalam waktu 3 hari sehari, hingga kutu tidak menyerang tanaman lagi.
  • Gunakan pestisida kimia jenis akrisida. Beberapa cotoh akrisida yang dapat dibeli di pasaran adalah Demolish, Rotraz, Samite, Agrimec, Omite, Bamex dan lain-lain. Aplikasikan pestisida sesuai dosis yang dianjurkan.

Sumber : https://8villages.com/full/petani/article/id/59701e3794cdb42c17669605

Oleh: Siti Maisaroh

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook