Materi Penyuluhan

PENGELOLAAN LIMBAH MULSA PLASTIK

Sabtu, 09 Nov 2019
Sumber Gambar : internet

Tidak dapat dipunkiri bahwa peningkatan intensitas penggunaan mulsa plastik untuk produksi tanaman sayuran berpotensi untuk menimbulkan persoalan lingkungan apabila limabh plastic atau sisa bekas mulsa plastik tidak dapat dikelola dengan benar. Karena sifat yang sulit terurai maka penggunaan mulsa plastik untuk produksi sayuran harus dilakukan secara bijak. Upaya penggunaan ulang mulsa plastik yang telah digunakan pada musim sebelumnya dan pengelolaan tumpukan limbah plastik dengan baik merupakan kegiatan yang harus senantiasa diperhatikan oleh petani agar kerusakan sumber daya lahan dapat dikurangi. Menurut hemphill, penggunaan ulang mulsa plastik dan mengurangi berat mulsa plastik yang digunakan merupakan alternative yang paling mungkin untuk dilakukan. Selanjutnya, dikatakan bahwa pendauran sisa mulsa plastik, pembakaran dan menggunakan mulsa plastik yang terurai dilahan merupakan jenis – jenis teknologi yang mungkin dapat dikembangkan untuk mengurangi tumpukan limbah mulsa plastic di alam.

Salah satu upaya untuk mengurangi laju penumpukan limbah plastik di alam ini adalah dengan cara memperpanjang masa penggunaan mulsa plastik untuk produksi tanaman sayuran, tidak hanya terbatas untuk satu tanaman sayuran selama satu musim saja, tetapi juga untuk beberapa tanaman sayuran dan beberapa musim tanam. Sifat polietilen yang merupakan komponen penyusun utama dari mulsa plastik yang digunakan untuk produksi tanaman sayuran adalah memiliki daya tahan yang cukup baik untuk menghadapi deraan lingkungan, baik suhu, cahaya matahari dan air. Karakteristik yang demikian memungkinkan mulsa plastik tersebut dapat digunakan secara berulang – ulang karena usia tanaman sayuran paling lama tiga atau empat bulan, sedangkan mulsa plastik secara umum dapat bertahan berada dilahan selama satu sampai satu setengah tahun. Jika petani merawat tanaman dan memanen tanamannya dengan hati – hati maka kerusakan fisik mulsa plastik tidak akan rusak secara permanen.

Upaya lain yang dikembangkan produsen mulsa plastik adalah mengembangkan mulsa plastik  yang secara alami dapat terdegradasi. Produsen mulsa plastik mengembangkan palstik secara alami dapat terurai di alam dengan bantuan mikroorganisme tanah, atau yang disebut dengan biodegradable plastic mulches. Teknologi lain yang juga dikembangkan adalah photodegradable plastic mulches, jenis mulsa yang dapat secara alami terurai dengan bantuan cahaya matahari. Stabilitas produk baru ini masih menjadi persoalan, dimana kecepatan degradasimulsa plastik masih belum dapat sejalan dengan baik sesuai siklus pertumbuhan tanaman sayuran. Selain itu juga, meskipun plastik tersebut telah terurai, tetapi sebenarnya tidak pernah terurai karena ikatan etilen penyusun plastik tersebut tetap berada didalam tanah. Meskipun belum secara komersial tersedia di pasar, perkembangan teknologi plastik yang  dapat terurai secara alami ini akan mampu mengurangi laju penumpukan limbah plastik di alam.

Limbah mulsa plastik dalam jumlah yang sangat besar sebenarnya dapat dibakar untuk menghasilkan energy panas. Namun, teknologi masih harus dikembangkan lebih lanjut untuk mendapatkan desain mesin pengolahan yang efisien. Persoalan lain adalah kotoran yang melekat pada mulsa plastik, terutama debu dan butiran tanah, mempersulitproses pemanfaatan limbah sebagai bahan baku untuk menghasilkan energy panas. Meskipun pemanfaatan limbah mulsa plastic masih mengalami kekurangefektifan, tetapi paling tidak menggunakan limabah plastik sebagai sumber panas sudah dapat mengurangi jumlah limbah plastic di alam.

Materi Cyber, tanggal 7 Nopember 2019,

Oleh, M. Ali Nurdin

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook