Materi Penyuluhan

penanganan pasca panen bawang merah sesuai standard operasional (sop) hasilkan produksi melimpah

Jum'at, 11 Okt 2019
Sumber Gambar : internet

bawang merah (allium sp) merupakan sayuran rempah yang dipanen bagian umbinya dan memiliki berbagai kegunaan diantaranya sebagai bumbu penyedap masakan, mengobati luka, obat maag, masuk angin dan menurunkan kadar gula dan kolesterol serta memiliki nilai ekonomi tinggi. kebutuhan bawang merah relatif stabil sepanjang tahun bahkan cenderung semakin meningkat sehingga potensi jika dijadikan usaha komersial agribisnis. bawang merah merupakan salah satu produk sayuran yang setelah panen masih melakukan aktivitas metabolisme, sehingga bila tidak ditangani dengan segera akan mengalami kerusakan fisik dan kimiawi. sifat sayuran yang mudah rusak (perishable) mengakibatkan tingginya susut pascapanen serta terbatasnya masa simpan setelah pemanenan dan timbulnya serangan organisme pengganggu yang dapat menurunkan mutu. perubahan setelah panen dan pascapanen tidak dapat dihentikan, namun dapat diperlambat sampai batas tertentu. penanganan teknologi pascapanen bawang merah oleh petani sayuran saat ini masih dilaksanakan secara tradisional sehingga kehilangan hasil cukup tinggi, karena itu perlu upaya perbaikan dan penyempurnaan penerapan teknologi penanganan pascapanen bawang merah bertujuan agar hasil bawang merah tersebut dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan.

perhatian para pelaku utama dan pelaku usaha komoditas bawang merah terhadap penanganan pasca panennya masih rendah, untuk itu dalam rangka pengembangan usaha  bawang merah yang berdaya saing dan bermutu baik, serta berorientasi pasar, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk memfasilitasi hal tersebut adalah dengan mengeluarkan buku panduan sop (standard operasional ) pascapanen bawang merah. bagi para pelaku utama dan pelaku usaha yan bergerak dalam bidang agribisnis bawang merah maka penanganan pascapanen yang sesuai standart operasional (sop) perlu menjadi prioritas sehingga hasilnya optimal  yaitu : ukuran bawang sesuai permintaan pasar, bentuk sesuai deskripsi varietas, bawang merah tidak cacat, tidak terkontaminasi benda lain maupun residu pestisida, menghasilkan bawang merah yang bermutu, menekan tingkat kehilangan hasil < 10 %, meningkatkan efisiensi usaha agribisnis serta dapat mempertahankan umur simpan.  beberapa hal yang perlu dapat perhatian dalam penanganan panen dan pasca panen bawang merah yang sesuai standart operasional (sop) antara lain pada saat :   penentuan waktu panen dan penanganan panen, pengeringan dan pengikatan, pembersihan, sortasi dan grading, pengeringan lanjutan dan peyimpanan, pengemasan, dan distribusi (pengangkutan / penyimpanan berjalan).

standar operasional penentuan waktu panen dan penanganan panen. penentuan waktu panen secara visual dengan melihat perkembangan fisik tanaman berdasarkan peruntukannya jika untuk konsumsi (daun mulai menguning, daunnya rebah, umbinya tampak menonjol dari permukaan tanah, warna umbi terlihat kemerahan) sedangkan jika untuk tujuan bibit (daun tanaman total rebah lebih 30% menguning).  panen untuk konsumsi dilakukan pada pagi hari setelah tidak ada embun dan tidak pada saat turun atau menjelang hujan, sedang  panen untuk bibit dilakukan pada siang hari, sehari sebelum panen jangan dilakukan penyiraman. setelah panen segera dilakukan  pengikatan, pengumpulan, penjemuran awal (curing/pemulihan) sampai leher umbi menyempit, untuk mengurangi kerusakan yang dapat terjadi setelah panen dan menghasilkan bawang merah yang berkualitas baik dan daya simpan panjang. sasaran penentuan waktu panen dan penanganan panen untuk menghasilkan panen bawang merah yang baik, kering dan memiliki daya simpan lama.

standar operasional pengeringan dan pengikatan. pengeringan dan pengikatan dalah penjemuran lanjutan bawang merah untuk menurunkan kadar air umbi sehingga umur simpannya panjang.pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air bawang merah yang sudah diikat agar sesuai untuk konsumsi dan bibit. standar pengeringan yaitu : 1) penjemuran dilakukan langsung setelah curing, untuk konsumsi selama sekitar 7 8 hari, penjemuran untuk bibit hari, pada malam hari ditutup memakai plastik;  2) penggedengan 4 ikatan roji dijadikan 1, kemudian dilakukan penjemuran dengan membalik bagian umbi ke atas sekitar 3 jam. penjemuran dengan posisi umbi diatas ini dilakukan jangan terlalu lama untuk menghindari umbi matang; 3) penjemuran untuk konsumsi dianggap cukup bila kulit paling luar umbi sudah mengelupas dan bunyinya mengeresek (susut sekitar %) dan untuk bibit warna umbi merah cerah dan melekat pada umbinya (penyusutan 17 22% );  4) dilakukan pembalikan setiap hari bila hari panas agar keringnya merata. sasaran dihasilkan bawang merah yang kering sesuai dengan tujuan pasar maupun untuk bibit dalam bentuk ikatan.

standar operasional pembersihan. pembersihan adalah proses menghilangkan kotoran yang menempel pada umbi bawang merah, bertujuan menghilangkan kotoran yang masih menempel pada umbi bawang merah supaya umbi terlihat menarik. standar pembersihan yan harus dilakukan antara lain : 1) memotong daun kering diatas leher umbi, 2) memotong akar; 3) membersihkan umbi bawang merah dari kulit kering dan kotoran yang menempel. sasaran bawang merah yang bersih dan tampak menarik.

standar operasional sortasi dan grading. kegiatan sortasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan mutu yang baik dengan cara memilah-milah antara produk yang baik dengan yang rusak. produk yang baik adalah produk yang bebas dari cacat atau kerusakan fisik akibat kegiatan panen maupun serangan hama penyakit. produk yang rusak adalah produk rusak fisik akibat panen maupun kena serangan hama penyakit. setelah dilakukan pemisahan kedua kelompok produk tersebut dilakukan proses pengkelasan (grading) sesuai dengan standar mutu, standar nasional indonesia (sni), atau kesepakatan lainnya. grading adalah pengkelasan/penggolongan kubis berdasarkan kualitas seperti keseragaman bentuk, kebersihan, kepadatan, bebas penyakit dan kerusakan serta ukuran berat, panjang, diameter. tujuan untuk mendapatkan mutu yang baik dengan cara memilah-milah antara produk yang baik dengan yang rusak dan sekaligus melakukan proses pengkelasan (grading) berdasarkan kualitas siung yang baik dengan yang tidak baik, siung yang seragam dalam ukuran sesuai dengan mutu standar nasional indonesia (sni) kubis atau kesepakatan lainnya. c. standar sortasi dan grading 1. sortasi dan grading berdasar ukuran siung. kelas mutu i, siung diameter 3 4 cm kelas mutu ii, diameter 2-3 cm. kelas mutu iii, siung dengan diameter 2 cm. siung memiliki tekstur keras, tidak, berwarna normal, permukaan cukup rata, tidak cacat dan tidak terinfeksi hama penyakit. 2. siung yang rusak dan terluka dipisahkan karena mudah terkena infeks mikrobia pembusuk 3. sortasi dan grading dilakukan oleh tenaga kerja yang berpengalaman. sasaran untuk memisahkan bawang merah yang akan dijadikan benih atau yang akan dipasarkan dalam bentuk konsumsi.

standar operasional pengeringan lanjutan dan peyimpanan. pengeringan adalah proses penjemuran bawang merah dibawah sinar matahari langsung. penyimpanan adalah proses menyimpan hasil panen sebelum dipasarkan. tujuannya untuk mengurangi resiko busuk dengan pengeringan di atas para-para hingga menunggu saat pemasaran yang tepat. standar pengeringan dan penyimpanan : 1) pengeringan di bawah sinar matahari langsung di tempat terbuka, dan pengeringan selanjutnya dilakukan di atas para-para; 2) penyimpanan di dalam gudang/ruang yang teduh atap sebaiknya dari seng agar ada penerangan dapat digunakan atap dari fiber glass dan tertutup,ventilasi ruangan cukup baik, suhu o c dan kelembaban %; 3) gudang penyimpanan dan rak-rak/ para-para yang akan digunakan harus bersih. penyimpanan bawang merah untuk konsumsi maksimal 2 bulan, sedangkan untuk benih 2-3 bulan. sasaran mendapatkan hasil bawang merah yang kering untuk disimpan di para-para dengan tujuan menunggu waktu pemasaran.

standar operasional pengemasan, adalah proses perlindungan komoditas bawang merah dengan cara mengepak dari gangguan faktor luar yang dapat mempengaruhi masa simpannya dengan memakai media (wadah/tempat dengan bahan tertentu) untuk dikirim sebelum dipasarkan karena hanya komoditas yang baik yang dikemas. tujuan untuk melindungi komoditas bawang merah dari kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memberikan nilai tambah produk bawang merah tersebut dan memperpanjang umur simpan. standar pengemasan : 1) jenis kemasan yang digunakan untuk umbi bawang merah harus dapat melindungi dan mempertahankan mutu bawang merah dari pengaruh luar dan kerusakan fisik; 2) bahan kemasan terbuat dari bahan yang aman dan tidak merusak buah bawang merah; dan 3) kemasan yang umum digunakan keranjang plastik, keranjang bambu, kantung plastik, kantung jaring/net.yynnnnnmm. sasaran untuk melindungi bawang merah dari kerusakan mekanis.

standar operasional distribusi (pengangkutan / penyimpanan berjalan), distribusi adalah proses memindahkan umbi bawang merah dari produsen ke pasar. tujuan untuk mendistribusikan umbi bawang merah sampai ke pasar dengan aman. standar pendistribusian dalam pendistribusian harus diketahui tujuan tempat, jumlah dan tanggal pengiriman. alat transportasi yang digunakan dalam pendistribusian harus layak dan aman untuk sasaran mengangkut dan memasarkan bawang merah harus disesuaikan dengan alat transportasi sehingga sampai di produsen dengan kondisi baik. (lilik winarti, penyuluh pertanian pusat)

sumber : internet (https://docplayer.info/31257210-konsep-sop-penanganan-pascapanen-bawang merah%202018.html)

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook