Diseminasi Teknologi

upaya pelestarian sumber daya genetik langsat lokal sulawesi barat

Kamis, 03 Okt 2019
Sumber Gambar : koleksi pribadi: religius heryanto

langsat (lansium domesticum) merupakan salah satu jenis buah tropis yang banyak dibudidayakan di kabupaten majene, dan memiliki potensi untuk dikembangkan secara terus-menerus.  berdasarkan data bps tahun 2016 banyaknya tanaman langsat  yang sudah menghasilkan di kabupaten majene adalah 31.200 pohon dengan produksi sebanyak 1.202,5 ton (bps kab. majene, 2016).

kabupaten majene sulawesi barat sendiri memiliki langsat lokal yaitu lasse’ bambang  yang merupakan salah satu buah legendaries yang terdapat di desa tande, kecamatan banggae. popularitas buah tersebut terekam dalam lagu dengan kutipan “lasse bambangna to tande”.

konon katanya asal usul nama lasse’ bambang itu berasal dari nama turunan seorang raja.  dahulu  kalah di desa tande, kecamatan baggae, kabupaten majene dikenal ada 7 keturunanan dengan warnah darah (cera’) yang berbeda-beda, diantaranya: 1. cera’ maputih (darah putih); 2. cera’ mamea (darah merah); 3. cera’ magabu’ (darah biru); 4. cera’ malotong (darah hitam); 5. cera’ mariri (darah kuning); 6. cera’ mekkurarra’ (darah hijau); 7. cera’ majingga (darah jingga).

ambang merupakan anak keturunan dari cera’ maputih yang meninggal saat masih bayi. ambang memiliki kulit yang putih dan halus. tidak berapa lama setelah dikuburkan, tumbuhlah 2 pohon langsat dikuburannya. langsat tersebut rasanya manis, buah besar dan agak lonjong, serta biji yang jarang ditemukan, atau biji biasanya kempes. dari situlah langsat tersebut berkembang yang akhirnya diberi nama lassekna ambang (langsatnya ambang). jadi nama lasse’ bambang sebenarnya adalah lasse’ ambang.

tanaman lasse bambang tersebut masih ditemukan di dusun purrau, desa tande kecamatan banggae, kabupaten majene pada posisi s:0349816-0710982 dengan ketinggian 45-123  m dpl.  tanaman langsat ini sudah mulai punah karena pengaruh faktor alam (kemarau berkepanjangan), sulit dikembangkan dengan biji (karena tidak/jarang mempunyai biji) maupun dengan cangkok atau tempel mata tunas.  selain itu, juga kalah bersaing dengan komoditas bernilai ekonomis tinggi, seperti kakao.

di kabupaten majene, konservasi belum menjadi hal yang utama bagi masyarakat. selain karena tanaman buah yang lain masih banyak dijumpai di daerah tersebut, ada beberapa permasalahan yang diperoleh saat melakukan survei antara lain tanaman induk lasse’ bambang sudah tua dan bahkan sudah tidak berproduksi,  susah diperbanyak dengan biji karena sulitnya ditemukan biji dalam setiap buah bahkan tidak ada biji/kempes, sedangkan untuk perbanyakan secara vegetatif  keberhasilannya sangat kecil.

saat ini kepunahan lasse’ bambang menjadi isu bagi masyarakat dan dikawatirkan akan tinggal nama. pada umumnya masyarakat setempat menyadari apabila tidak dijaga, tanaman kebanggaan tersebut akan berkurang dan bahkan punah. tanaman induk lasse’ bambang yang masih diyakini masyarakat  sebenarnya masih ada sekitar 3 pohon, meskipun sudah tua dan sudh lama tidak berproduksi. berdasarkan informasi dari masyarakat, di desa lain juga masih ditemukan jenis lasse’ bambang, namun sebagian masyarakat juga kurang yakin karena terdapat banyak biji dan penampakan buah yang berbeda dengan ciri lasse’ bambang yang sebenarnya yaitu lonjong dan tidak berbiji/kempes.

lasse’ bambang tersebut merupakan salah sumber daya genetik (sdg) lokal yang perlu dilestarikan secara terus menerus. namun keberadaannya saat ini dikuatirkan akan punah karena tidak adanya upaya konservasi yang terkendala dengan berbagai faktor.   untuk mempertahankan sdg tanaman yang hampir punah perlu dilakukan usaha pelestarian plasma nutfah baik secara in situ maupun ex situ dalam bentuk kebun koleksi, visitor plot, dan pot-pot pemeliharaan.

sdg tanaman langsat lokal “lasse’ bambang” di kabupaten majene memiliki keunikan tersendiri yang disukai konsumen, yaitu manis dan biji kurang/kempes. untuk pengembangan lasse’ bambang  tersebut diperlukan strategi pengembangannya yang harus diformulasikan secara jelas di setiap sistem usaha.  hal yang sangat penting dalam strategi pengembangan adalah melakukan konservasi atau pelestarian yang bertujuan untuk memelihara dan mengelola sdg tanaman agar terhindar dari kepunahan untuk pemanfaatan lebih lanjut.

konservasi tanaman dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu secara ex situ dan in situ. in situ berarti melestarikan tanaman pada sebaran alamnya yang dapat dilakukan oleh petani, desa atau masyarakat setempat, sedangkan ex situ adalah kegiatan memperbanyak, evaluasi, pelayanan material untuk pemulia, peneliti dan pemakai yang lain. perbanyakan dapat dilakukan di kebun koleksi milik petani atau pemerintah. usaha pelestarian sdg tanaman lasse’ bambang dimulai dengan memberi pengertian kepada petani pemilik untuk tetap memelihara tanamannya meskipun sudah tidak berbuah lagi pada tanaman yang masih diyakini pohon induk, memonitor tanaman yang menurut masyarakat adalah turunan tanaman lasse bambang, konservasi secara ex situ dengan mengambil benih dan bibit di lokasi ditemukannya tanaman plasma nutfah tersebut kemudian di tanam dan diperbanyak di lokasi lain.

agar pengembangan sdg lasse’ bambang lebih memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi petani dan masyarakat pada umumnya, maka di sub sistem usaha tani hendaknya pemerintah daerah meningkatkan dukungannya agar prasarana dalam penyelamatan dan pengembangan sdg tersebut dapat terwujud, diantaranya adalah menyediakan panduan budidaya tanaman langsat, menyediakan sarana dan prasarana dalam perbanyakan benih, dan melakukan pembinaan petani. di tingkat pemasaran hendaknya dibangun kemitraan pemasaran dengan petani yang saling menguntungkan serta petani diberikan akses kemudahan untuk perbankan dalam upaya mendapatkan bantuan modal usaha. hal yang tidak kalah pentingnya adalah mendaftarkan petani pelestari dan memberikan insentif sebagai penghargaan dalam pelestarian sdg lokal, termasuk lasse’ bambang.

 

penulis: religius heryanto dan marthen p. sirappa (bptp balitbangtan sulawesi barat)

 

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook