Diseminasi Teknologi

TEKNIK SEMAI KERING PADA BUDIDAYA PADI SAWAH

Senin, 30 Sep 2019
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Fauziah YA

Teknik pesemaian padi sistem kering bukan cara baru dalam menyemai benih padi. Sistem ini sudah lama di lakukan oleh masyarakat atau petani namun hanya sedikit saja yang mengaplikasikanya, seperti sistem semai pada budidaya padi System Rice Intensification (SRI) dengan menggunakan nampan atau besek. Sistem semai kering kurang berkembang karena petani beranggapan sistem ini lebih rumit karena memerlukan alat seperti dapok/tray dan tambahan perlakuan. Berkembangnya anggapan tersebut disebabkan petani belum terbiasa dan belum mengetahui dan terampil dalam melaksanakan teknik semai kering. Padahal, sistem semai kering memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem semai basah (konvensional) pada budidaya padi sawah.

 

Keunggulan Sistem Semai Kering

  1. Pesemaian dapat diletakkan ditempat yang mudah diamati (pekarangan rumah), sehingga mempermudah perawatan dan bibit lebih terkontrol dari hama dan penyakit.
  2. Persemaian tidak memerlukan tempat yang luas dibandingkan dengan semai basah di sawah yang membutuhkan setidaknya 400 m2 untuk luasan 1 ha pertanaman padi sawah.
  3. Lahan bekas persemaian tidak mempengaruhi kualitas lahan pertanaman (pada persemaian basah/konvensional, pertumbuhan tanaman padi yang ditanam di lahan bekas persemaian menjadi lebih jelek)
  4. Praktis dalam pencabutan bibit, benih yang sudah tumbuh dan siap dipindahkan ke lahan pertanaman cukup digulung tidak perlu dicabut.
  5. Mengurangi biaya pencabutan bibit yang umumnya cukup tinggi
  6. Pertumbuhan tanaman dari benih semai kering lebih cepat dan tidak stress.
  7. Sistem ini dapat lakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengolahan tanah (semai culik) sehingga dapat mempercepat waktu tanam.

 

Teknik Persemaian Padi Sistem Kering

Bahan yang diperlukan meliputi benih Padi, pupuk organik, tanah, plastik, gembor/hand sprayer, rumput/Jerami/terpal.

 

Perlakuan Benih

  1. Benih direndam selama kurang lebih 24 jam
  2. Kemudian di peram selama 2 x 24 jam, tujuanya agar menghilangkan proses dormansi, di tandai dengan munculnya akar – akar kecil pada biji menandakan siap disemai
  3. Sebelum disemai benih diberi perlakuan dengan insektisida/fungisida

 

Persiapan Tanah dan Pupuk Organik

  1. Siapkan tanah dan pupuk kandang, kemudian ayak sehingga didapatkan ukuran yang kecil dan seragam.
  2. Pastikan pupuk organik tersebut benar-benar matang, jika tidak/kurang matang dapat mempengaruhi pertumbuhan bibit. Terdapat beberapa cara untuk memastikan kematangan pupuk organik antara lain:
  • Masukan pupuk kedalam ember kemudian tunggu sampai pupuk mengendap dan lihat jika air bening berarti pupuk organik itu sudah siap di gunakan.
  • Masukkan pupuk kedalam kantong plastik gula diikat kuat, biarkan sselama 24 jam, jika pada diding plastik timbul uap air maka pupuk tersebut belum matang

 

Persiapan Media Tanam

  1. Gunakan plastik sebagai alas dasar media tanam. Jenis plastik yang digunakan seperti terpal, plastik hitam, plastik innerback dll. Plastik benar-benar utuh/tidak cacat karena jika bocor air akan cepat habis.
  2. Hamparkan plastik seluas ukuran pesemaian 1 m X 5 m atau sesuai kebutuhan.
  3. Siapkan media semai berupa campuran tanah dan kompos yang telah diayak dengan perbandingan 2:1 atau 1:1 atau 4:1 (tergantung pada jenis tanah).
  4. Kemudian sebarkan dengan ketebalan 1,5 cm dan  

 

Penyebaran Benih

  1. Setelah media tanam disiapkan, benih disebarkan secara merata dan ditutup lagi dengan media tanam setebal 0,5 cm.
  2. Benih disebar dengan kepadatan 0,6 – 0,7 Kg/m2 media.
  3. Tutup dengan terpal atau jerami, kemudian siram dengan air secukupnya dengan kelembaban optimal.

 

Pemeliharaan Persemaian

  1. Setelah 3 hari benih ditebar, buka tutup terpal/jerami dan biarkan terkena cahaya (biasanya benih telah tumbuh sekitar 2 cm).
  2. Selanjutnya penyiraman dilakukan 1 hari sekali pada waktu sore (melihat kondisi cuaca) dengan menggunakan gembor/handsprayer.
  3. Jika pertumbuhan bibit (daun berwarna kekuningan), perlu disemprot dengan fungisida dan diberi pupuk N secukupnya.
  4. Bibit siap ditanam umur 10 – 14 hari.

 

Pemindahan Benih ke Lahan Pertanaman

  1. Bibit yang siap tanam cabut/dipanen dengan cara memotong hamparan bibit dengan lebar 50 cm, kemudian bibit digulung (seperti menggulung karpet) bisa langsung diangkut ke sawah.
  2. Setelah lahan siap tanam, sobek atau pecah-pecah persemaian bibit sesuai ukuran yang diperlukan.
  3. Penanaman bibit bisa di lakukan dengan manual atau bisa menggunakan mesin penanam padi.
  4. Disarankan penanaman dengan hati hati dan usahakan agar akar tidak menghadap ke atas, karena dengan akar menghadap ke atas, bibit membutuhkan tenaga yang lebih banyak untuk bisa kembali ke posisi normal.

 

 

Penyusun: Fauziah Y. Adriyani dan Kiswanto (Penyuluh BPTP Lampung)

Sumber bacaan: dari berbagai sumber.

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook