Diseminasi Teknologi

PENGELOLAAN SAWAH BUKAAN BARU ( TANTANGAN DAN HARAPAN )

Rabu, 04 Sep 2019
Sumber Gambar : koleksi pribadi Sugito,SP

PENDAHULUAN

Penduduk Indonesia dari tahun ke tahun semakin bertambah dengan pertumbuhan sekitar 1,5 % per tahun, sehingga mendorong permintaan pangan terus meningkat. Sementara lahan pertanian khususnya lahan sawah, yang luasnya mencapai 7,7 juta ha (BPS, 2005) ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan pangan Indonesia terutama beras, jagung dan kedelai, sehingga perlu ditambah dengan impor yang pada dekade terakhir jumlahnya meningkat.

Lahan sawah merupakan penghasil utama beras dan palawija, sebagai gambaran pada tahun 2003 dari luas total panen seitar 11,5 juta ha dengan produksi padi sebesar 52,1 juta ton. Telah terjadi konversi lahan sawah produktif ke lahan non –pertanian (pemukiman, perkotaan dan infrastruktur, serta kawasan industri). Pada mulanya lahan sawah yang terkonversi tersbut merupkan lahan sawah beririgasi teknis atau setengah teknis dengan produktivitas tinggi.

Dalam jangka panjang perluasan areal lahan sawah mutlak diperlukan secara terkendali dan bijaksana, terutama untuk mengganti lahan-lahan sawah produktif yang dikonversi. Salah satu upaya untuk mengganti kurangnya lahan sawah, maka mau tidak mau harus melakukan percetakan sawah baru ditempat-tempat yang mempunyai potensi. Lahan sawah bukaan baru adalah lahan sawah yang dikonversi dari lahan kering dengan lapisan tapak bajak belum terbentuk (Didi Ardi dan Wiwik hartatik, 2004). Lapisan tapak bajak adalah lapisan yang terbentuk dibawah lapisan olah dan terbentuk sebagai akibat adanya proses-proses oksidasi dan reduksi yang bergantian serta pelarutan atau pencucian (eluviasi) bahan-bahan kimia besi dan angan yang kemudian diendapkan pada horizon di bawahnya (iluviasi). Lapiasn tapak bajak memerlukan waktu yang lama tergantung pada sifat kimi tanah tersebut.

Tanah baru di Indonesia umumnya dicetak di daerah lahan basah yang selalu tergenang air seperti lahan pasang surut, lahan rawa lebak, lahan alluvial dan lahan kering yang dikonversikan menjadi lahan sawah dengan cara diairi. Sesuai dengan sifat tanah asalnya lahan kering atau lahan basah, terdapat perbedaan yang mendasar atas kedua jenis tanah sawah bukaan baru. Perbedaan tersebut terutama Nampak pada sifat morfologi, fisika, kimia dan komposisi mineralnya. Perbedaan yang signifikan setelah percetakan sawah baru adalah tersedianya air untuk tanaman dan terciptanya lingkungan untuk pertumbuhan tanaman padi.

 

Permasalahan Lahan Sawah Bukaan Baru

Lahan sawah bukaan baru umumnya dicetak pada lahan marjinal jenis Ultisols dan Oxisols yang mengnadung Al dan Fe tinggi yang dapat meracuni tanaman, kahat hara P dan K, sehingga produktivitasnya masih rendah. Selain itu percetakan sawah baru tidak dibarengi dengan pembuatan saluran irigasi yang baik dan jalan usaha tani, sehingga menghambat produktivitas lahan karena pengelolaannya kurang maksimal.

Menurut (Nursyamsi et al, 1996), pembukaan sawah baru akan menghadapi beberapa masalah antara lain; (a) Jumlah air yang dibutuhkan untuk pelumpuran cukup banyak; (b) produktivitas tanah masih rendah; dan (c) perubahan proses fisikokimia yang sedang berlangsung akibat penggenangan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, seperti keracunan besi dan mangan. Produktivitas tanah yang rendah berkaitan dengan kemasaman tanah antara lain ; (a) konsentrasi toksik AL dan Mn; (b) kekahatan Ca dan Mg; (c) mudahnya K tercuci; (d) jerapan P, S, dan Mo; (e) pengaruh buruk dari H+; serta (f) hubungan tata air dan udara. Konduksi reduksi akan meningkatkan ketersediaan besi fero dalam tanah yang dalam konsentrasi tertentu bersifat racun terhadap tanaman. Tanaman dapat mengalami keracunan Fe bila kandungan Fe pada tanah melebihi 2.00 ppm.

 

Penerapan Inovasi Teknologi

Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas pada lahan sawah bukaan baru adalah dengan menerapkan paket inovasi teknologi antara laian; (a) pembuatan tata kelola air yang baik; (b) Pemberian bahan amelioran; (c) Pemupukan berimbang; (d) pemakaian varietas yang toleran.

Air mutlak dibutuhkan untuk petumbuhan tanaman pada sawah bukaan baru, akan tetapi , ketersediaan air yang belum dikelola dengan baik dapat menyebabkan pertumbuhan atanaman terhambat dan sampai gagal panen. Permasalahan lain yang timbul akibat cepatnya laju kehilangan air tanah pada lahan sawah bukaan baru adalah efisiensi pemupukan rendah akibat pencucian (leaching) hara makro N, K, Ca, dan Mg. Kekeringan dan kebanjiran adalah permasalahan air di sawah bukaan baru daerah rawa, untuk itu pelu dibuat kanal-kanal dan polder serta pintu air untuk membuang air saat musim penghujan dan menampung air saat musim kemarau. Selain itu dibuat salauran draninase untuk memasukan dan membuang air ke petakan sawah dari kanal dalam pengairan intermitten, hal ini juga untuk membantu pencucian zat besi yang mercuni tanaman.

Perubahan sifat-sifat kimia tanah pada tanah marjinal yang baru disawahkan menjadi lahan sawah yang potensial memrlukan waktu > 5 tahun. Untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah bukaan baru dapat diupayakan pemberian bahan ameliorasi. Pemberian bahan amelirasi  berupa kapur dan bahan organik dapat menurunkan keracunan besi dan meningkatkan hasil padi.

Pada lahan sawah bukaan baru rekomendasi pemupukan diharapkan dapat mengacu pada peraturan Menteri Pertanian No.40/Permentan/OT.140/1/2007 dengan menitikberatkan masalh perbaikan kesuburan tanah dengan penambahan bahan pupuk anorganik setelah pemberian bahan ameliorant uji tanah dan analisis tanaman sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan berimbang sangat berperan untuk memperbaiki rekomendasi pupuk. Selain itu diupayakan memenuhi prinsip enam tepat (tempat, jumlah, jenis, harga, waktu, dan cara pemupukan) agar produktivitas tanah dan tanaman dapt optimal (Setyorini et al, 2004).

Pemakaian varietas padi yang adaptif di lahan sawah bukaan baru dengan cekaman abiotik kandungan Fe dan Al yang tinggi, maka perlu dilakukan. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Padi telah menghasilakn varietas unggul yang toleran terhadap cekaman Fe dan Al, seperti: Banyuasin, Dendang, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 5, Inpago 4, Inpago 6, dan Inpago 8.

 

Penutup

Potensi lahan untuk pengembangan atau perluasan lahan sawah bukaan baru di masa depan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional masih cukup luas yang terdiri dari lahan basah dan kering. Hambatan dan tantangan dalam pengelolaan lahan bukaan baru dapat diatasi dengan menerapkan inovasi teknologi yang tepat. Sehinnga harapan untuk bisa mengoptimalkan dan meningkatkan produktivitas akan tercapai, yang pada akhirnya kebutuhan pangan nasional dapat terpenuhi.

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook