Materi Penyuluhan

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Budidaya Cabai Merah

Selasa, 03 Sep 2019
Sumber Gambar : www.google.com

Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L) adalah tumbuhan perdu dengan rasa buah pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Agar dapat berhasil dengan baik, budidaya cabai merah diupayakan untuk memenuhi persyaratan teknis optimal sehingga dapat diproduksi secara teratur sepanjang tahun dengan produksi dan mutu yang optimal. Sebagai tanaman semusim yang diperlukan setiap hari, budidaya cabai merah perlu dilakukan secara teratur dengan areal tanaman yang relatif tetap sepanjang tahun.

Tanaman cabai merah dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, drainase dan aerasi tanah cukup baik dan air tersedia selama pertumbuhannya dan perkembangan tanaman. Tingkat kemasaman (Ph) tanah yang sesuai adalah 6-7. Menghindari munculnya berbagai masalah dalam budidaya cabai merah, terutama terhadap keamanan produk dan lingkungan, perlu dilakukan usaha budidaya cabai merah secara benar termasuk dalam pengendalian OPT.

Kegiatan pengendalian OPT dilakukan dengan sistem terpadu untuk menurunkan populasi OPT atau intensitas serangan sehingga tidak merugikan secara ekonomis dan aman bagi lingkungan

 

Prosedur Pelaksanaan

Langkah-langkah dalam pelaksanaan pengendalian OPT adalah: 1) Melakukan pengamatan OPT secara berkala (seminggu sekali) dengan mengambil contoh untuk mengetahui jenis hama dan populasinya; 2) Mengenali dan identifikasi gejala serangan, jenis OPT, dan musuh alaminya, 3) Perkiraan OPT yang perlu diwaspadai dan dikendalikan; 4) Melakukan konsultasi kepada kepada petugas PHP/POPT atau petugas dinas pertanian setempat; dan 5) Mencatat setiap kegiatan yang dilaksanakan.

 

Jenis-Jenis Hama dan Pengendaliannya

  1. Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Gejala serangan, hama berkembang pesat di musim kemarau, dan pada musim hujan populasinya berkurang karena banyak hama thrips mati akibat tercuci air hujan. Hama ini menghisap cairan permukaan bawah daun terutama daun muda. Serangan ditandai bercak-bercak putih/keperak-perakan. Daun yang terserang berwarna coklat tembaga, mengeriting, keriput dan mati. Serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pucuk menggulung kedalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuknya menjadi mati.

Pengendalian:

  1. Kultur teknis, menggunakan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap. Cara ini efektif untuk menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur tanaman 14 HST. Cara ini juga dapat mencegah infeksi kutu daun dan mencegah thrips mencapai tanah untuk berpupa, Sanitasi dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang hama trhips dan tidak menanam tanaman inang
  2. Fisik mekanis, menggunakan perangkap likat biru atau putih sebanyak kira-kira 40 buah/ha atau 2 buah/500m2, dipasang sejak tanaman umur 2 minggu. Perangkap dibuat dari potongan paralon diameter 10 cm dan panjang 15 cm, di cat putih atau biru dan digantung di atas tanaman cabai. Lem kayu diencerkan, dan dipasang di setiap seminggu sekali
  3. Hayati, pemanfaatan musuh alami seperti predator kumbang Coccinellidae, tungau, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan pathogen Entomophthora sp.
  4. Pestisida, digunakan bila populasi hama telah mencapai ambang pengendalian. Pengendalian dapat juga dilakukan dengan menggunakan pestisida alami contohnya yang berasal dari gadung (Diascorea hispida)

 

  1. Tungau Kuning (Polyphagotarsonemus latus Banks)

Gejala serangan, hama menghisap cairan tanaman dan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal, akibatnya daun menebal, warna daun menjadi tembaga/kecoklatan, terpluntir, menyusut keriting dan tunas dan bunga gugur. Pada awal musim kemarau, serangan sering bersamaan dengan serangan thrips dan kutu daun

Pengendalian:

  1. Kultur teknis, menggunakan sanitasi dengan memusnahkian tanaman yang terserang hama
  2. Hayati, menggunakan musuh alami (predator Amblyseius cucumeris)
  3. Kimiawi, dapat diaplikasikan dengan pestisida efektif dan terdaftar dan bila berdasarkan haril pengamatan intensitas serangan ≥ 15% per tanaman

 

  1. Lalat Buah (Bactrocera sp)

Gejala serangan, buah cabai yang terserang  ditandai adanya lubang titik hitam di pangkal buah, tempat serangga betina meletakkan telur. Larva membuat saluran dalam buah dengan memakan daging buah dan menghisap cairan buah dan menyebabkan terjadi infeksi oleh OPT lain sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum larva berubah menjadi pupa. Serangan berat terjadi pada musim hujan, disebabkan bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi bakteri hingga buah yang terserang busuk dan jatuh ke tanah

Pengendalian:

  1. Fisik mekanis, dengan cara tanah dicangkul sehingga kepompong lalat buah yang ada dalam tanah akan mati terkena sinar matahari atau dengan cara mengumpulkan buah yang terserang hama untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.
  2. Hayati, dengan cara: 1) menggunakan perangkap atraktan, misalnya Metal Eugenol (ME) atau petrogenol 1 ml/perangkap. Jumlah perangkap yang dibutuhkan 40 buah/ha atau 2 buah/500m2. Perangkap dipasang saat tanaman umur 2 minggu sampai akhir panen, antraktan diganti setiap 2 minggu sekali, 2) melepaskan serangga jantan mandul yang telah diradiasi dalam jumlah besar sehingga diharapkan mengurangi keberhasilan perkawinan dengan lalat fertile dan akhirnya populasi lalat buah dapat berkurang, 3) memanfaatkan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama lalat buah, misalnya parasitoid larva dan pupa (Biosteres sp, Opius sp), predator semut, laba-laba, kumbang dan cocopet

Penggunaan varietas tahan, misalnya Tombak 1, Tombak 2, Nenggala1 dan Cemeti 1. Varietas ini agak tahan terhadap serangan hama lalat buah.

  1. Kimiawi, dilakukan bila cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama sehingga digunakan pestisida yang efekti, terdaftar dan sesuai anjuran.

 

  1. Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz)

Gejala serangan, tanaman yang terserang menjadi keriput, pertumbuhan kerdil, warna daun kekuningan, teruntir, layu dan akhirnya mati. Serangan besar terjadi pada musim kemarau. Hama ini hidupnya berkelompok dan berada di bawah permukaan daun, menyerang tanaman dengan menghisap cairan daun muda dan pucuk. Cairan yang dikeluarkan kutu daun ini mengandung madu yang dapat mendorong tumbuhnya cendawan jelaga pada daun sehingga menghambat fotosintesis tanaman cabai merah.

Pengendalian:

  1. Kultur Teknis, dengan cara: 1)melakukan eradikasi gulma dan bagian yang terserang hama dibakar, 2) tumpang sari cabai merah dengan bawang daun, dapat menekan serangan hama ini sebab bawang daun bersifat pengusir hama kutu daun persik, 3) menanam tanaman perangkap misalnya sayur caisin yang disukai hama ini daripada tanaman cabai merah.
  2. Fisik Mekanis, menggunakan kain kasa pada bedengan persemaian atau di sekitar pertanaman. Cara lain dengan menggunakan perangkap air berwarna kuning. Perangkap yang dibutuhkan sebanyak 40 buah/ha atau 2 buah/500m2 yang dipasang pada saat tanaman berumur 2 minggu
  3. Hayati, menggunakan musuh alami yang potensial menyerang kutu, misalnya parasitoid Aphidius sp, predator kumbang Coccinella transversalis, Menocvhillus sexmaculata, larva Microphis lineate, Veranius sp dan pathogen Entomopthora sp
  4. Kimiawi, bila jumlah kutu lebih dari 7 ekor/daun contoh atau kerusakan tanaman lebih 15% per tanaman contoh maka digunakan pestisida efektif, terdaftar dan sesuai anjuran. Penyemprotan dilakukan pada sore hari.

 

  1. Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Gejala serangan, ditandai dengan timbulnya lubang yang tidak beraturan di permukaan buah. Pada serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan ulat ini biasanya pada musim kemarau. Larva instra 1 dan 2 merusak daun dan buah dengan meninggalkan sisa-sisa epidermin daun bagian atas dan yang tinggal hanya tulang daun dan terkadang larva ini dapat menyerang buah cabai.

Pengendalian:

  1. Kultur teknis, melakukan: 1) sanitasi lahan dengan membersihkan gulma dan sisa tanaman yang dapat menjadi sumber infeksi, 2)mengolah lahan yang intensif dan saluran air yang baik, 3)eradikasi selektif dilakukan terhadap kelompok telur Spodoptera sp yang dijumpai pada pertanaman cabai merah.
  2. Fisik mekanis, dengan cara: 1)memusnahkan kelompok telur, larva/pupa dan bagian tanaman yang terserang, 2) menggunakan perangkap feromonoid seks untuk ngengat Spodoptera litura sebanyak 40 buah/ha atau 2 buah/500m2. Pemasangan perangkap dilakukan sejak tanaman umur 2 minggu
  3. Hayati, dengan pemanfaatan pathogen SI, NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus)Sl, BX 9, cendawan cordisep, Nematoda strinerma, predator Sycanus sp, parasitoid Apanteles sp, Telenomus Spodopterae dan Peribeae sp.
  4. Kimiawi, bila kerusakan akibat serangan hama ini mencapai ≥ 12.5%/tanaman contoh, maka pertanaman cabai disemprot dengan pestisida sesuai anjuran.

 

  1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Gejala serangan, berupa bercak nekrotik, akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Sekresi yang dikeluarkan kutu kebul dapat menimbulkan serangan jamur jelaga yang berwarna hitam dan menyerang  berbagai stadia tanaman

Pengendalian:

  1. Pemanfaatan musuh alami, misalnya: predator Menochilus sexmaculatus (mampu memangsa larva Bemisia tabaci sebanya 200-400 larva/hari), Coccinella septempunctata, Scymus syriacus, Chrysoperla carnea, Scymus syriacus,Chrysoperla canea, Scrangium parcesetosum, Orius albidipennis. Parasitoid yang diketahui efektif menyerang tabaci adalah Encarcia adrianae (15 species), E.tricolor, Eretmocerus corni (4 species), sedangkan jenis pathogen yang menyerang B. tabaci, antara lain: Bacillus thuringiensis, Paecilomyces farinorus dan Eretmocerus.
  2. Penggunaan perangkap likat, dapat dipadukan dengan pengendalian secara fisik/mekanik dan penggunaan insektisida secara selektif.
  3. Penggunaan “Companion planning”, dimana beberapa tanaman digunakan mengurangi serangan kutu kebul, antara lain tumpangsari antara cabai merah dengan tagetes, penanaman jagung di sekitar tanaman cabai merah
  4. Penggunaan pestisida secara selektif, antara lain Permethrin, Amitraz, Fenoxycarb, Imidacloprid, Bifenthrin, Deltamethrin, Buprofezin, Endosulphan dan asefat

 

Susi Deliana Siregar

Daftar Pustaka:

Standar Operasional Prosedur (SOP), 2017, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook