Materi Lokalita
JAWA TIMUR > KABUPATEN PROBOLINGGO > PAITON

Strategi Pendekatan Terpadu Mengantisipasi Ancaman Kekeringan Tanaman Padi Musim Kemarau

Kamis, 15 Agu 2019
Sumber Gambar : pribadi

Kekeringan adalah fenomena alam yang memiliki dampak langsung yang luas terhadap pertanian, seperti penurunan produktivitas dan produksi pangan, terutama padi, mengganggu ketahanan pangan dan stabilitas perekonomian pada suatu wilayah hingga tingkat nasional. Cekaman kekeringan semakin sering terjadi seiring dengan cepatnya perubahan iklim global. Respon tanaman padi terhadap cekaman kekeringan diawali dengan respon fisiologis berupa pengurangan laju transpirasi untuk penghematan air dengan cara menutup stomata dan memperkecil luas permukaan daun dengan penggulungan daun.

Hingga bulan Juli 2019 Kementerian Pertanian mencatat lahan padi yang gagal panen atau puso akibat kekeringan mencapai 31 ribu hektar. Luasan ini merupakan yang tertinggi dibanding kejadian yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Kementerian Pertanian cq Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana telah melakukan upaya perbaikan jaringan irigasi dan pengadaan pompa air. Namun gejala kekeringan berakibat puso di beberapa wilayah tetap tidak bisa dihindari.

Mengingat gejala kekeringan merupakan kejadian yang berulang dan kemungkinan akan terus berlanjut di masa mendatang dengan potensi tingkat cekaman yang lebih tinggi, maka diperlukan upaya-upaya strategis dengan pendekatan terpadu :

Upaya di lini hulu

Jaminan ketersediaan air irigasi tidak terlepas dari konsep pengelolaan tangkapan air hujan di wilayah hulu pada suatu daerah aliran sungai (DAS). Karena itu identifikasi kebutuhan perbaikan, revitalisasi, maupun pembangunan baru prasarana jaringan seperti waduk, jaringan irigasi seluruh kelas mendesak untuk dilakukan. Tindakan konservasi hutan lindung wilayah hulu merupakan item kegiatan yang wajib masuk prioritas utama kebijakan nasional, regional, maupun lokal.

Upaya di wilayah lokal

Pengadaan air dengan pompanisasi sejatinya merupakan upaya alternatif yang bersifat substitusi ketika air irigasi yang berasal jaringan pengairan tidak menjangkau suatu wilayah. Dalam hal ini bantuan pompa air dari Kementerian Pertanian perlu diprioritaskan dan diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki catatan tradisi tanam padi musim kemarau (MK1).

Pendekatan praktek bercocok tanam berwawasan lestari

Tanah merupakan media tumbuh tanaman yang secara alami digunakan paling luas dalam dunia pertanian, termasuk usaha tani padi. Material tanah terdiri dari dua komponen utama penyusunnya yaitu komponen mineral dan komponen bahan organik. Sumber bahan organik tanah berasal dari bahan-bahan hasil fotosintesa tanaman bagian atas tanaman yaitu daun-daun baik yang berasal dari tanaman utama yang diusahakan maupun gulma.

Keberadaan bahan organik tanah sangat mempengaruhi sifat biologis, sifat kimia, maupun sifat fisik tanah. Dalam hal sifat fisik tanah, bahan organik mampu menciptakan struktur tanah lebih remah dan meningkatkan kemampuan tanah mengikat atau menahan air.

Karena itu tindakan pengembalian hijauan seperti jerami ke lahan tanaman padi sangat positif dampaknya untuk memperkecil resiko gagal panen akibat ancaman kekurangan air.

Pendekatan pemilihan varietas padi toleran kekeringan

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang) telah merilis sejumlah varietas unggul padi yang toleran terhadap dampak perubahan iklim. Varietas unggul padi yang telah teruji toleransinya terhadap kekeringan adalah Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20 untuk lahan sawah irigasi teknis dengan potensi hasil 8,0 – 9,5 ton/ha dan Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 8, dan Lipigo 4 untuk padi gogo dengan potensi hasil 6,2 – 8,4 ton/ha.

Dalam hal ini penting untuk melakukan sosialisasi masif yang mengarahkan petani untuk menentukan dan memilih varietas padi yang sesuai kondisi musim tanam.

Penulis : Ir. NUR SAMSU – PPL BPP Kecamatan Paiton

PENGUNJUNG

3014

HARI INI

2695

KEMARIN

410850

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook