Diseminasi Teknologi

VIRUS KUNING : MUSUH PETANI CABAI

Rabu, 14 Agu 2019
Sumber Gambar : Koleksi Feriadi, SP

PENDAHULUAN

Cabai merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura 2011-2025 yang potensial untuk di usahakan oleh petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hasil pantauan di beberapa pasar tradisional di Pangkalpinang hari jum’at (9 Agustus 2019) harga cabai keriting melambung dari Rp. 75.000 menjadi Rp. 100.000/kg, sedangkan cabai rawit juga ikut mengalami kenaikan berkisar Rp.100.000 – 120.000/kg. Tentunya harga yang tinggi ini menjadi factor pendorong bagi petani untuk membudidayakan komoditas cabai ditengah-tengah tingginya resiko hama dan penyakit yang akan dihadapi oleh petani.

Hama dan penyakit utama yang sering dijumpai oleh petani dan kerap menimbulkan kerugian pada usahatani cabai adalah serangan penyakit virus kuning. Endemiknya serangan penyakit virus kuning pada tanaman cabai menyebabkan kerugian besar bagi petani di daerah-daerah sentra cabai. Hal ini juga dialami oleh petani-petani cabai di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Serangan penyakit kuning dapat menurunkan produksi cabai dengan signifikan. Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh virus kuning pada tanaman cabai dapat mencapai antara 20 – 90 %.

Upaya pengendalian penyakit ini yang paling utama ditujukan kepada serangga vektor penyakit virus pada tanaman cabai. Selama ini petani masih mengandalkan penggunaan pestisida kimia sintetis, namun bila pemakaiannya tidak bijaksana dikhawatirkan menimbulkan residu pestisida pada produk buah cabai relatif tinggi, biaya produksi meningkat, berbahaya terhadap kesehatan pekerja, juga menyebabkan pencemaran lingkungan hidup. Penyakit virus kuning ini tidak ditularkan melalui biji, tetapi dapat menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutu kebul.

KUTU KEBUL (Bemisia tabaci)

Kutu kebul (Bemisia tabaci) dapat menularkan virus gemini secara persisten (tetap; yaitu sekali menyerang tanaman yang mengandung virus, maka selamanya dapat menularkan virus). Salah  satu masalah dalam peningkatan produksi dan kualitas mutu cabai adalah adanya  serangan  organisme  pengganggu  tumbuhan (OPT). Apabila tanaman cabai terlihat kerdil, berdaun kuning, serta tidak menghasilkan buah, waspadalah terhadap serangan kutu kebul.

Gejala serangan virus ini, pada awalnya daun muda/ pucuk cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan. Gejala melanjut dengan hampir seluruh dan muda/ pucuk berwarna kuning cerah, daun cekung dan mengkerut berukuran lebih kecil dan lebih tebal. Gejala lain adalah daun berwarna mosaik klorosis.

Pengendalian penyakit kuning keriting ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, namun intinya adalah segala upaya terpadu untuk menghalangi terjadinya infeksi terutama pada waktu tanaman masih muda.

PENGENDALIAN VIRUS KUNING

  1. Penggunaan Varietas Toleran/Tahan

Hasil beberapa penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang menganjurkan beberapa langkah antara lain gunakan varietas toleran/tahan yakni Tanjung-1, Tanjung-2, Lembang-1 atau varietas hybrid yang sudah beradaptasi baik seperti Hot Beauty, Hot Chili, TM 999 dan lainnya.

  1. Penerapan Teknologi Budidaya Dengan Benar

Pengendalian lainnya dengan menggunakan benih yang berkualitas, lalu penggunaan persemaian yang benar, imunisasi tanaman muda, pengolahan tanah dan pemupukan berimbang, penggunaan mulsa plastik hitam perak, penanaman tanaman penghadang, sanitasi dan pencabutan tanaman sakit.

  1. Tumpangsari dan Pengendalian Hama Secara Terpadu

Untuk mengurangi populasi kutu kebul, dapat dilakukan tumpangsari berbagai jenis tanaman, atau menggunakan perangkap, juga manfaatkan musuh alaminya, juga penggunaan cendawan entomopatogen. Penggunaan insektisida nabati juga dapat dilakukan, untuk mengurangi residu pestisida pada produk sayuran dan lingkungan.

Ditulis Oleh             : Feriadi, S.P. (Penyuluh Pertanian Muda BPTP Kep. Babel)

 

Sumber Bacaan       : - Dirjen Hortikultura. 2012. Cetak Biru Pengembangan Hortikultura

                                  Tahun 2011 – 2025. Kementerian Pertanian.

                                - http://balitsa.litbang.pertanian.go.id

                               -  http://nad.litbang.pertanian.go.id/

Sumber Gambar      : Dokumentasi Feriadi

PENGUNJUNG

3059

HARI INI

2695

KEMARIN

410895

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook