Gerbang Nasional

Temu Profesi, Leli Nuryati Paparkan Peran Penyuluh di PeDa KTNA Kalbar

Senin, 05 Agu 2019
Sumber Gambar : dokumentasi PusluhtanRI

Lebih seribu petani dan nelayan dari seluruh Provinsi Kalimantan Barat berkumpul di Kabupaten Sambas menghadiri Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan ke-11 [PeDa KTNA] yang dihadiri Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian [Pusluhtan BPPSDMP Kementan] Leli Nuryati yang hadir mewakili Kementerian Pertanian RI sekaligus tampil sebagai pembicara pada dialog ´Temu Profesi´ pada Sabtu [3/8].

"PeDa KTNA Kalbar ke-11 diharapkan dapat menjadi wadah tukar informasi dan pengalaman terkait kegiatan pertanian di seluruh Kalbar, khususnya petani dengan penyuluh dan dinas terkait pemerintah daerah," kata Kepala Pusluhtan Leli Nuryati dalam paparannya sebagai narasumber.

Profesionalisme, katanya, merupakan persyaratan yang harus dimiliki penyuluh pertanian untuk meningkatkan profesionalisme petani dalam mewujudkan pembangunan pertanian dan kesejahteraan petani, yang dilaksanakan secara sistematis, terencana dan berkelanjutan.

Leli Nuryati memaparkan penumbuhkembangan kelompok usaha bersama [KUB] petani mengacu Permentan 33 tahun 2017 melibatkan kelompok tani [Poktan], gabungan kelompok tani [Gapoktan] dan unit pelayanan jasa Alsintan [UPJA] melakukan konsolidasi proses bisnis maksimal dua tahun melalui perjanjian kerjasama [PKS].

Pendirian KUB didukung kepala desa sebagai pelindung, didukung beberapa unit usaha meliputi sarana produksi [Saprodi], jasa Alsintan, permodalan, pengolahan, dan pemasaran yang dipimpin seorang manager, bertugas menghubungkan dengan pihak luar [off taker] dan mengembangkan unit bisnis.

"Contoh KUB yang berkembang baik adalah KUB Tani Rejo Mandiri di Provinsi Sumatera Selatan. Bisnis utama beras, pengelolaan Alsintan dan pengelolaan lahan rawa IP300 di Desa Talang Rejo, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasing," kata Kapusluhtan yang hadir di Sambas didampingi Kabid Penyelenggaraan Penyuluhan - Pusluhtan, I Wayan Ediana; dan Kasubbid Informasi dan Materi Penyuluhan, Septalina Pradini.

Sementara pengembangan KEP merupakan pengejawantahan dari lintas profesi yang melibatkan para profesional dari swasta sebagai perusahaan mitra. Contohnya adalah PT Cau Chocolates di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali sekaligus bisnis lintas sektor: pertanian, transportasi, perindustrian dan perdagangan.

Menurutnya, PT Cau Chocolates telah menjalin kerjasama dengan koperasi petani kakao di Kabupaten Jembrana, yang didukung 609 petani kakao. Saat ini koperasinya baru mampu memenuhi kebutuhan Cau Chocolates sebanyak tiga ton biji kakao per bulan dari kebutuhan pasar hingga lima ton.

"Dari sisi legalitas, Cau Chocolates memiliki tiga sertifikat coklat organik dari Indonesia yakni SNI, USDA dari Amerika Serikat dan EU di Eropa. Ke depan, harus lebih banyak KEP di Indonesia," kata Leli Nuryati. [Liene]

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook