Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI BUDIDAYA PANILI

Senin, 22 Apr 2019
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi

Tananam panili (Vanilla planifolia Andrews) merupakan komoditas ekspor yang memiliki nilai ekonomis tinggi.  Hasil olahan buah panili banyak digunakan untuk bahan penyegar, penyedap dan pengharum makanan, permen, ice cream, dan campuran bahan pembuat obat-obatan. Ekportir menjual panili dalam bentuk panili kering (panili olahan), sedangkan petani sebagian besar menjual dalam bentuk buah panili basah.

Di Lampung, sebagian besar panili dikembangkan secara tradisional dalam bentuk perkebunan rakyat. Permasalahan umum pada usahatani panili antara lain adalah rendahnya produktivitas (250 gr panili basah/pohon), sementara potensi hasil klon panili unggul berkisar 1.029-1.408 gr panili basah/pohon. Produktivitas yang masih rendah antara lain disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya secara benar seperti penggunaan bahan tanaman, pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian serangan hama/penyakit. Masalah lainnya dalam usaha tani panili adalah rendahnya mutu panili yang dihasilkan. Mutu panili dipengaruhi oleh umur panen, panjang buah dan proses pengolahan buah panili.

SYARAT TUMBUH

Tanaman panili dapat tumbuh baik pada tanah yang banyak mengandung humus. Karena akar tanaman panili pendek, maka makanan harus selalu tersedia di daerah perakaran tersebut. Panili menghendaki tanah yang berdrainase (beririgasi) baik, remah, gembur, mengandung bahan organik, unsur K dan Ca yang cukup banyak.

Tipe tanah yang dikehendaki tanaman panili adalah liat berpasir dan berkerikil dengan pH antara 5,5-7,1. Curah hujan yang sesuai adalah kurang dari 2.000 mm tiap tahun dengan bulan basah selama 8-9 bulan.  Tanaman panili tumbuh baik pada ketinggian 0-1.200 m dpl (di atas permukaan laut) dengan kelembaban antara 60-80% dan intensitas cahaya 30-50%.

Bahan Tanam

Tanaman panili diperbanyak secara vegetatif dengan setek. Bahan tanaman yang akan digunakan berasal dari klon unggul harapan panili (Tabel 1). Setek panili diambil dari pohon tanaman panili yang telah menghasilkan yakni dari sulur tanaman yang belum pernah berbuah.

 

Tabel 1. Produksi dan kadar vanilin beberapa klon panili

Klon

Asal Tanaman

Produksi buah basah

 (gr/pohon)

Kadar Vanilin

 (%)

Anggrek (Cilawu)

Jawa Barat

1408,14

3,09

Gisting

Lampung

1234,79

2,83

Ungaran Daun Tipis

Jawa Tengah

1097,77

2,93

Malang

Jawa Timur

1028,78

2,88

Pengambilan setek sebaiknya pada pertengahan musim hujan, dan 6 minggu sebelum sulur diambil untuk bibit, 20 cm bagian pucuknya dibuang/dipotong untuk mengaktifkan tunas tidur. Apabila bahan tanaman tersedia cukup maka sulur dipotong menjadi 7 ruas dan langsung ditanam.

Setek dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan lendir yang terdapat pada ujung-ujung setek dan kotoran-kotoran yang menempel. Setek bisa disemai pada bak plastik atau kayu ukuran 35x45 cm dengan media tanah dan pasir.

Setelah bertunas dan berakar bibit dipindahkan ke polybag ukuran 15x20 cm. Bibit panili dapat ditanam di kebun setelah berumur 3 bulan atau telah mempunyai 7 daun.

Pembukaan lahan dilakukan pada awal musim penghujan. Pencangkulan tanah dilakukan sampai kedalaman 20-30 cm dan dibiarkan terbuka terkena sinar matahari selama ± 2 minggu agar jamur-jamur patogen dapat tertekan pertumbuhannya. Untuk menghindari tergenangnya air di dalam kebun, dibuatkan saluran pembuangan air (drainase) di sekeliling kebun dengan ukuran lebar 40 cm dan dalamnya 40 cm.

Ditulis ulang: Tri Kusnanto

Sumber: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

 

PENGUNJUNG

3103

HARI INI

2695

KEMARIN

410939

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook