Materi Lokalita
JAWA TIMUR > KABUPATEN LUMAJANG >

PENGENDALIAN HAMA TERPADU HAMA KUTU HIJAU KOPI ( Coccus viridis )

Selasa, 26 Mar 2019
Sumber Gambar : Puslit Kopi Kakao Indonesia

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

HAMA KUTU HIJAU KOPI

( Coccus viridis )

 

 

 

 

Disusun Oleh : Ir. Isnaeni

Penyuluh Pertanian Madya

 

 

 

DINAS PERTANIAN KABUPATEN LUMAJANG

Tahun  2019

 

 

 

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

HAMA KUTU HIJAU KOPI

( Coccus viridis )

 

Pendahuluan

Kutu hijau merupakan salah satu hama penting pada pertanaman kopi di Indonesia. Serangan kutu hijau pada tanaman muda akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan tanaman menjadi kerdil sedangkan pada tanaman produktif serangan hama ini akan menurunkan produksi.

Hal ini disebabkan karena kutu menghisap cairan pada bagian-bagian tanaman muda seperti daun, tunas, tangkai bunga, dompolan muda dan ujung dahan. Warna hijau dari bagian tanaman yang dihisap akan berubah menjadi kuning. Daun yang terserang berat akan mengering dan gugur.

Kutu hijau telah tersebar pada hampir seluruh pertanaman kopi di Indonesia, dengan luas dan intensitas serangan yang berbeda-beda. Cuaca kering disukai kutu hijau,. Karena itu populasi akan mencapai puncaknya pada akhir musim kering.

Serangan berat yang terjadi pada saat buah masih muda dapat menyebabkan buah tidak bisa berkembang bahkan akhirnya gugur.

 

PENGENALAN HAMA

Imago

Kutu dewasa berwarna hijau muda sampai hijau tua. Bentuk badan bulat telur, pipih, panjang 2,5-3,25 mm dan bersifat immobil (tidak bergerak). Ruas tubuh tidak jelas, begitu juga batas antara kepala, torak dan abdomen.

Pada sisi badan bagian depan terdapat dua mata tunggal berwarna hitam, bagian belakang dijumpai 2 segitiga coklat bersatu (operkulum) yang menutupi anusnya.

Dibagian bawah badan terdapat tiga pasang tungkai, satu pasang antena dan sebuah stilet yang panjangnya kurang lebih sama dengan panjang badannya.

 

Telur dan Nimfa

Telur berkembang di dalam tubuh induknya, menetas lebih kurang 11 jam setelah telur diletakkan. Seekor kutu mampu bertelur sebanyak 500-600 butir.

Nimfa yang baru menetas untuk sementara waktu tinggal dengan aman di bawah tubuh induknya.

Tingkat kelahirannya cukup tinggi. Dalam waktu 6 minggu induk betina  menghasilkan beberapa ratus ekor nimfa, namun hanya sekitar 20-25 ekor saja yang mampu bertahan hidup.

Nimfa mengalami 3 kali ganti kulit sebelum menjadi dewasa

 

Daur hidup

Perkembangan kutu hijau dari saat telur diletakkan sampai kutu dewasa pada dataran rendah sekitar 45 hari dan pada dataran tinggi sekitar 65 hari.

 

Cara hidup dan Gejala serangan

Nimfa yang baru menetas kemudian menyebar untuk mencari bagian tanaman yang banyak mengandung cairan.

Kutu ini terutama terdapat pada bagian tanaman yang muda, permukaan bagian bawah daun atau pada ranting yang masih berwarna hijau, pucuk tanaman, bunga dan dompolan buah muda.

Akibat tusukan dan penghisapan kutu, warna hijau dari bagian tanaman yang terserang akan menjadi kuning. Akibat selanjutnya daun dapat mengering dan gugur.

Cendawan jelaga yang terdapat pada permukaan daun tidak bersifat patogen, namun karena menutupi daerah respirasi dan assimilasi maka proses fotosintesa terganggu dan melemahkan tanaman.

Kutu hijau mengeluarkan embun madu yang disukai oleh semut gramang (Plagiolepis longipes) dan semut rangrang (Oecophyla smaradigma) yang menguntungkan perkembangan kutu hijau.

Adanya semut gramang dan semut rangrang ini memperlancar metabolisme kutu dan melindunginya dari parasit atau predator.

Cuaca yang kering akan meningkatkan perkembangan kutu. Perkembangan populasi didataran rendah akan lebih cepat dibandingkan dataran tinggi.

 

Tanaman Inang

Disamping kopi, kutu hijau ini juga menyerang cengkeh, karet, teh, jeruk, jambu biji dan mangga.

 

PENERAPAN PHT

Pengamatan

Pada daerah-daerah yang kronis terdapat hama ini, pengamatan dilakukan sebulan sekali dimulai pada awal musim kemarau sampai akhir musim kering.

            Jumlah pohon contoh yang diamati adalah 5% dari populasi kopi di kebun petani yang bersangkutan, dan berimbang pada kedua diagonalnya. Sebagai contoh bila luas kebun tersebut 1 ha dengan jumlah tanaman sekitar 1000 pohon , maka pohon yang diamati adalah 50 pohon, masing-masing 25 pohon pada setiap diagonalnya.

 

Bagian tanaman yang diamati

Pilihlah 4 (empat) cabang dibagian tengah, bila mungkin yang sedang berbunga atau berbuah muda. Pada 1(satu) cabang tersebut diamati :

  • permukaan bagian bawah dari lembar daun muda
  • bagian pucuk tanaman
  • tangkai bunga
  • dompolan buah muda

Hitung imago kutu yang terdapat pada bagian-bagian tanaman tersebut di atas. Pengamatan populasdi dihentikan bila dijumpai imago 10 ekor atau lebih.

Bila pada satu pohon contoh ditemukan imago kutu 10 ekor atau lebih, pohon contoh tersebut digolongkan terserang berat.

Perhitungan Persentase, Luas dan Intensitas

Perhitungan persentase serangan

  • PS = PT/JP x 100 % =………..%
  • PS = Persentase Serangan
  • PT = Jumlah pohon contoh yang terserang
  • JP = Jumlah pohon contoh yang diamati

Perhitungan luas serangan

  • LS = PS x A = ……………….ha
  • LS = Luas serangan
  • PS = Pertsentase serangan
  • A = Luas kebun yang diamati

Perhitungan Intensitas serangan  (Kebun yang diamati)

  • IS = JPS/JP x 100% = ………………%
  • IS = Intensitas serangan
  • PTB = Jumlah pohon contoh yang terserang berat
  • JP = Jumlah pohon contoh yang diamati

Bila areal kebun yang diamati tersebut intensitas serangannya 15% atau lebih maka kebun tersebut digolongkan terserang berat, sedangkan bila kurang dari 15% digolongkan ringan.

 

Pengambilan Keputusan

Tindakan pengendalian sudah harus dilakukan bila tingkat serangan sudah mencapai atau melampaui ambang toleransi, yaitu bila 15 % atau lebih pohon yang diamati terserang berat.

 

 

PENGENDALIAN

Kultur teknis

  • Pengaturan Naungan

Naungan yang baik adalah lamtoro yang tahan terhadap kutu loncat. Varitas lamtoro yang dianjurkan adalah PG 407, 408, 409, 410 dan 411 (termasuk klon L2) dengan perbandingan antara lamtoro : kopi = 1 : 4

Bila mungkin hindari penggunaan naungan Glirisidae (Gamal)

 

Mekanis

Memangkas kemudian membuang dan membakar bagian tanaman yang terserang kutu tersebut.

 

Biologis

Memusnahkan sumber/sarang semut gramang atau rangrang, karena semut ini akan mempercepat populasi kutu dan menghalangi kedatangan predator/parasit.

Secara alami predator Orchus jantinus, Chilocorus melanophthalmus dan Curinus coeruleus serta serangga parasit Cooophagus bogoriensis  cukup berperan dalam menekan populasi kutu hijau. Disamping itu juga terdapat jamur patogen Chepalosporium lecanii

Kimiawi

Menggunakan pestisida yang dianjurkan a.l. Anthio 330 EC, Bassa 500 EC, Bayrusil 250 EC, Dimacide 400 EC, Orthene 75 SP, Hostation 40 EC, Mipcin 50 WP, Nogos 50 EC, Dimecron 50 scw, Poxindo 50 WP, Sevin 85 S, Supracide 40 EC. Dengan konsentrasi 0,2%  dicampur dengan bahan perekat dan perata misalnya detergen 2 sendok teh per liter air. Untuk menghemat insektisida penyemprotan diarahkan ke bagian tanaman yang terserang..

 

 

 

 

PENGUNJUNG

308

HARI INI

600

KEMARIN

71791

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook