Gerbang Nasional

Muhamad Maftur, Generasi Millenial yang Bangga Menjadi Anak Petani

Kamis, 28 Feb 2019
Sumber Gambar : doc.pusluh

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan jumlah generasi muda pertanian yang unggul dan inovatif melalui berbagai cara. Mulai  dari melakukan transformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian, inisiasi program penumbuhan wirausahawan muda pertanian bekerja sama dengan 16 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Melibatkan  mahasiswa/alumni/pemuda tani untuk mengintensifkan pendampingan/pengawalan program Kementerian Pertanian.  Selain itu penumbuhan kelompok usaha bersama (KUB) yang difokuskan bidang pertanian bagi pemuda tani, pelatihan dan magang bagi pemuda tani dalam bidang pertanian serta  optimalisasi penyuluh untuk mendorong dan menumbuh kembangkan pemuda tani pun dilakukan.

Khusus untuk penumbuhan kelompok usaha bersama (KUB) yang difokuskan bidang pertanian bagi pemuda tani, saat ini Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian menyasar santri sebagai salah satu fokusnya.

Muhamad Maftur, seorang santri dari Pondok Pesantren Assyarifiyah Sunan Gunung Jati Patrol, Indramayu merupakan salah seorang pemuda yang mencintai dunia pertanian.  Terlahir dari pasangan Bustomin dan Jumaroh yang berprofesi sebagai petani di Indramayu, Maftur telah terbiasa dengan dunia pertanian. Menjadi bagian kesehariannya untuk membantu orang tua menanam hingga menjemur hasil panen. “Saya bangga mempunyai orang tua petani, dari mereka saya bisa belajar tentang kerja keras dan kemandirian. Orang tua saya tidak pernah mengeluh, mereka mengajarkan saya untuk mensyukuri apa yang didapat. Mereka selalu bilang jangan malu menjadi anak petani dan bertani, karena ini merupakan pekerjaan yang mulia karena dari hasil keringat kita banyak orang yang bisa ikut menikmati” papar Maftur.

Dari lahan 0,5 ha padi yang dimiliki,orang tua Maftur mampu untuk menyekolahkan kedua anaknya. Generasi muda ini pun menyatakan pendapatnya tentang pertanian saat ini, “dulu orang tua saya mengolah lahan pertanian menggunakan alat tradisional yang tentunya  menguras tenaga lebih. Namun saat ini dengan adanya modernisasi dan kecanggihan teknologi mengolah lahan pertanian lebih mudah serta mengurangi tenaga. Melihat perkembangan dunia pertanian, ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang enterpreneur. “Saya ingin mengembangkan usaha orang tua saya, padi yang mereka produksi ingin saya kemas dengan baik hingga mampu menembus pasar modern”, ucapnya optimis.

Sebelum tergabung menjadi santri di Pondok Pesantren Assyarifiyah Sunan Gunung Jati, Maftur menamatkan pendidikan tingkat pertamanya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) umum. Namun, ia merasa ingin untuk meningkatkan pendidikan agamanya dan ingin berubah menjadi pemuda yang lebih dekat dengan religi. Maka ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Assyarifiyah Sunan Gunung Jati. “Saya lihat kan santri di pesantren itu keren, tenang hidupnya tidak hanya mengejar dunia semata. Selain itu disiplinnya itu mengajarkan saya lebih menghargai waktu, dan mengajarkan untuk berbagi dengan santri lainnya”, ungkapnya.

Selain belajar agama, ponpes ini mengajarkan kepada 120 santrinya untuk mengenal dan mencintai dunia pertanian. Di lahan 0,5 hektar, ponpes ini mengembangkan budidaya bawang merah. Lahan ini di manfaatkan untuk tempat pelatihan dan pembelajaran bagi santri. Selain bawang merah, ponpes ini juga membudidayakan jamur.

Diakhir wawancara, Maftur berpesan untuk generasi muda lainnya, “Jangan malu menjadi anak petani dan bertani. Bagaimanapun petani adalah pekerja keras, bila tidak ada petani kita tidak akan makan dan tidak bisa hidup”. (NL).

PENGUNJUNG

3110

HARI INI

2695

KEMARIN

410946

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook