Materi Penyuluhan

VARIETAS PADI GOGO PENOPANG PRODUKSI PADI DI LAHAN KERING

Kamis, 20 Des 2018
Sumber Gambar :

Perluasan areal tanam padi di lahan kering saat ini menjadi tumpuan besar pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produksi padi nasional. Upaya Pemerintah dalam mendorong perluasan tanam padi di lahan kering perlu didukung oleh tersedianya inovasi teknologi budidaya yang unggul.
Komponen teknologi utama dalam usaha produksi padi gogo adalah varietas unggul yang adaptif terhadap berbagai permasalahan di lahan kering seperti kekeringan, kemasaman tanah dan penyakit blas. Ketersediaan varietas unggul menjadi salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi padi gogo nasional. Jenis-jenis varietas padi gogo yang menjadi penopang produksi padi di lahan kering diantaranya:
1) Inpago 12 Agritan. Varietas Inpago 12 Agritan dilepas pada tahun 2017 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan. Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas lokal Selegreng dengan varietas Ciherang dan Kencana Bali serta mampu berproduksi hingga 10.2 ton/ha. Keunggulana Inpago 12 Agritan diantaranya rata-rata mencapai 6.7 ton/ha pada uji dibeberapa lokasi, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan aluminium yang menjadi masalah di lahan kering masam. Varietas ini juga tahan terhadap penyakit blas atau yang sering disebut penyakit patah leher. Varietas ini memiliki tekstur nasi yang agak pulen.
2) Luhur 1. Varietas Luhur 1 merupakan varietas unggul baru padi gogo yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi hingga ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut. Varietas tersebut merupakan hasil persilangan yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Litbang Pertanian. Varietas Luhur 1 mampu berproduksi hingga 6.4 ton/Ha di lahan kering dataran tinggi. Rata?rata hasil uji lokasi dibeberapa daerah sebesar 4,8 ton/ha. Varietas ini dapat dipanen pada umur 124 hari, lebih genjah dibandingkan varietas lokal yang biasa ditanam oleh petani gogo dataran tinggi dan memiliki tekstur nasi pulen.
3) Luhur 2. Varietas Luhur 2 merupakan varietas unggul baru padi gogo yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi hingga ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut. Varietas Luhur 2 mampu berproduksi hingga 6.9 ton/ha di lahan kering dataran tinggi. Varietas ini dapat dipanen pada umur 123 hari. Selain itu varietas ini juga toleran terhadap kekeringan, tahan terhadap tanah masam serta tahan terhadap penyakit blas.

4) Rindang 1 Agritan. Varietas Rindang 1 Agritan dilepas tahun 2017, merupakan hasil persilangan keluaran Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Litbang Pertanian. Rindang 1 Agritan merupakan varietas unggul baru padi gogo yang dapat beradaptasi dengan baik di lahan kering dataran rendah serta toleran terhadap naungan dan agak toleran terhadap kekeringan. Selain itu Rindang 1 Agritan juga toleran terhadap keracunan Al 40 ppm, tahan terhadap blas ras 001, 041, 033, dan agak tahan blas ras 173. Varietas Rindang 1 Agritan mampu berproduksi hingga 6.97 ton/Ha di lahan kering dataran rendah. Rata?rata hasil uji lokasi dibeberapa daerah sebesar 4,62 ton/ha. Varietas ini memiliki tekstur nasi pera dan dapat dipanen pada umur 113 hari.
5) Rindang 2 Agritan. Varietas Rindang 2 Agritan dilepas tahun 2017, merupakan hasil persilangan keluaran Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Litbang Pertanian. Rindang 2 Agritan merupakan varietas unggul baru padi gogo yang dapat beradaptasi dengan baik di lahan kering dataran rendah dan agak toleran terhadap naungan dan kekeringan, serta sangat toleran terhadap keracunan Al 40 ppm, tahan terhadap blas ras 001, 041, 033, agak tahan ras 073, 051. Varietas Rindang 2 Agritan mampu berproduksi hingga 7,39 ton/ha di lahan kering dataran rendah. Rata?rata hasil uji lokasi dibeberapa daerah sebesar 4,2 ton/ha. Varietas ini memiliki tekstur nasi pulen dan dapat dipanen pada umur 113 hari.
6) Situ Patenggang. Varietas Situ Patenggang memiliki potensi gabah kering giling sebesar 5,6 ton/ha. Rata-rata hasil varietas ini dilahan kering sebesar 3,6 ton/ha dengan umur panen 115 hari. Varitas ini memiliki tekstur nasi sedang. Situ Patenggang memiliki ketahanan yang baik terhadap penyakit blas dan merupakan varietas yang toleran terhadap naungan.
7) Situ Bagendit. Varietas Situ Bagendit memiliki potensi gabah kering giling sebesar 6 ton/ha. Rata-rata hasil varietas ini dilahan kering sebesar 3 ton/ha dengan umur panen 115 hari. Varitas ini memiliki tekstur nasi pulen. Situ Bagendit memiliki ketahanan yang baik terhadap penyakit blas dan hawar daun bakteri.
8) Inpago 8. Varietas Inpago 8 dilepas tahun 2011 dan merupakan hasil persilangan antara padi gogo varietas Cirata dengan galur TB177. Inpago 8 memiliki potensi hasil yang cukup tinggi yakni mencapai 8,1 ton/ha, dengan rata-rata hasil 5,2 ton/ha. Umur panen varietas ini adalah 119 hari, memiliki rasa nasi yang enak dengan tekstur nasi pulen. Keunggulan lain dari varietas ini adalah tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, toleran terhadap kekeringan, dan agak toleran terhadap keracunan aluminium. Varietas ini baik ditanam di lahan kering dataran rendah sampai dataran menengah, baik lahan kering subur maupun lahan kering masam.
9) Inpago 9. Varietas Inpago 9 memiliki potensi hasil 8,4 ton/ha dan rata-rata hasil 5,2 ton/ha dan dapat dipanen pada umur 109 hari. Varietas yang dilepas pada tahun 2012 ini dicirikan dengan warna gabahnya yang berwarna kuning bergaris coklat dengan bentuk gabah bulat besar. Tekstur nasi Inpago 9 tergolong sedang dengan kadar amilosa sekitar 22%. Selain memiliki ketahanan yang baik terhadap penyakit blas, varietas ini juga agak tahan terhadap hama wereng coklat biotipe 1 dan penyakit hawar daun bakteri patotipe III., agak toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan.
10) Inpago 10. Varietas Inpago 10 merupakan varietas unggul padi gogo terbaru yang dilepas oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2014. Varietas ini dilepas setelah melalui pengujian di berbagai lokasi lahan kering bersama dengan galur-galur padi gogo unggulan dari lembaga penelitian lain seperti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Rata-rata hasil varietas Inpago 10 di lahan kering sekitar 3,9 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 7,3 ton/ha. Varietas ini dapat dipanen pada umur 115 hari dan memiliki tekstur nasi yang sedang. Selain tahan terhadap penyakit blas, varietas ini juga agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan aluminium.
Dengan dihasilkannya macam-macam varietas unggul padi gogo dilahan kering diharapkan dapat menjadi penopang produksi padi lahan kering di Indonesia.

Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan)
Sumber:
Badan Litbang Pertanian. Padi Gogo Unggul Baru Potensi hasil Tinggi
http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/3132/
Balai Besar Padi, Balitbangtan Pertanian. 2018.
http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/varietas/inbrida-padi-gogo-inpago/content/item/872-luhur-1
Badan Litbang Pertanian. 2017.
http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/varietas/inbrida-padi-gogo-inpago/content/item/867-rindang-1-agritan
Balai Besar Padi, Balitbangtan Pertanian. 2018. Padi Lahan Kering Dataran Tinggi.
Adhi Surya Perdana. Budidaya Padi Gogo.
http://sawitwatch.or.id/download/manual%20dan%20modul/148_budi%20daya%20padi%20gogo%201.pdf

PENGUNJUNG

583

HARI INI

3712

KEMARIN

393508

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook