Materi Penyuluhan

PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI LAHAN RAWA

Kamis, 20 Des 2018
Sumber Gambar :

Lahan rawa merupakan salah satu lahan sub-optimal yang memiliki potensi dalam upaya peningkatan produksi beras nasional.
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, Kementerian Pertanian, luas lahan rawa di seluruh Indonesia sekitar 33,43 juta ha. Dari jumlah itu menurut Manwan (1992), sebanyak 9,53 juta ha ternyata sesuai untuk kegiatan budidaya pertanian. Hingga saat ini luas lahan rawa yang dimanfaatkan untuk budidaya pertanian baru mencapai sekitar 2,270 juta ha. Itu artinya, lahan rawa yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian hanya 23,8 persen dari luas total lahan rawa yang sesuai untuk kegiatan pertanian.
Kontribusi pertanian di lahan rawa terhadap produksi padi nasional masih rendah. Produksi padi dari lahan rawa pada tahun 2017 hanya berkisar 5.058.283 ton GKG (6,2%) dari total produksi nasional tahun 2017 sebesar 81.042.874 ton GKG (Asem tahun 2017). Rendahnya kontribusi tersebut disebabkan antara lain karena masih minimnya lahan rawa yang digunakan untuk lahan sawah di Indonesia serta masih rendahnya produktivitas lahan rawa berkisar 40 kw/ha, di bawah angka rata-rata nasional sebesar 51,63 kw/ha (Asem tahun 2017).
Rendahnya produktivitas padi di lahan rawa dikarenakan masih minimnya pengetahuan petani terhadap sistem budidaya di lahan rawa, serta tingginya tingkat kesulitan budidaya pertanian padi rawa dibandingkan dengan lahan lainnya.
Kendala utama lahan rawa adalah pola genangan air yang sangat dinamis dan tak menentu. Di musim penghujan misalnya, secara mendadak lahan akan terendam air dan menenggelamkan benih yang baru ditanam. Namun di lain waktu, lahan tersebut malah kering kerontang. Jika petani terlambat tanam, benih tersebut dapat mati lantaran terkena cekaman (stres). Untuk mengatasi hal ini perlunya upaya khusus dan terobosan baru untuk penambahan produksi padi di lahan rawa diantaranya sebagai berikut:
a) Pengolahan lahan, lahan rawa memiliki unsur hara, topografi dan tingkat kemasaman tanah yang berbeda dengan sawah pada umumnya. Perlunya menerapkan manajemen tanam dan panen yang efisien serta melakukan pengelolaan hara terpadu dan spesifik lokasi.
b) Benih, memastikan benih padi yang digunakan adalah benih padi varietas unggul yang cocok ditanam di lahan rawa. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi utama dalam peningkatan produktivitas, produksi dan pendapatan usahatani tanaman pangan. Varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, toleran terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk, dan atau sifat-sifat lainnya. Benih yang digunakan harus telah dilepas oleh pemerintah, bersertifikat minimal kelas benih sebar (BR/ES), masih dalam masa edar hingga saatnya benih ditanam. Perlunya menanam padi varietas genjah yang berumur pendek dan tahan genangan. Menurut Badan Litbang Pertanian, varietas benih padi yang dapat ditanam (adaptif) di lahan rawa diantaranya adalah: varietas Dendeng, Martapura, Margasari, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 8 Agritan, Inpara 9 Agritan, Inpari 30 Ciherang Sub 1 dan Inpari 42 Agritan GSR.
c) Pemupukan, Kondisi miskinnya hara tanaman di lahan rawa dapat diatasi dengan pemupukan yang berimbang, sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tingkat ketersediaan hara di dalam tanah, artinya, dosis pemberian pupuk yang akan diberikan disesuaikan dengan kondisi di setiap lokasi. Perlunya memastikan penggunaan pupuk sesuai rekomendasi dari Dinas Pertanian berdasarkan kajian dari BPTP maupun Balitrawa. Aplikasi kebutuhan Urea, Sp36, NPK dapat disesuaikan sesuai kebutuhan berdasarkan tingkat kemasaman lahan (PH), unsur hara serta sosial budaya. Untuk mendukung budidaya padi rawa, Badan Litbang Pertanian telah melakukan inovasi menggunakan pupuk nabati Biotara yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Pupuk hayati Biotara dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen dan posfor lebih dari 30% serta meningkatkan hasil padi di lahan rawa lebih dari 20%. Pupuk hayati Biotara mengandung mikroba decomposer Trichoderma Sp khas rawa, yang dapat merombak jerami lebih cepat menjadi unsur hara. Setelah jerami disebar ke petakan, biotara disebar sehingga perombakan lebih cepat.
d) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman, salah satu hama yang paling ditakuti petani lahan rawa adalah tikus. Tikus menyerang padi saat berumur muda dengan menyerang batang padi maupun padi yang telah menguning dengan menyerang bulir padi. Cara mengatasi hama tikus adalah dengan memagari sekeliling sawah dengan plastik tertentu sehingga tikus tidak dapat memanjat serta membuat saluran yang selalu terisi air dengan lebar kurang lebih 100 cm. Selain itu jenis hama dan penyakit yang sering menyerang pertanaman padi di lahan rawa adalah: penggerek batang padi, hama putih, hama putih palsu, ulat grayak, belalang, wereng coklat, wereng hijau dan walang sangit. Adapun jenis penyakit antara lain penyakit blas (daun dan leher), tungro, bercak coklat, bercak coklat bergaris dan rinchosporium. Pengendalian hama tanaman dapat menggunakan pestisida maupun penggunaan tanaman perangkap, abu sekam, pestisida nabati dari tumbuhan rawa. Pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui fungisida yang sesuai, sanitasi lingkungan, varietas tahan, perbaikan drainase atau saluran, pemasangan tumbuhan tawar sebagai pengusir vektor penyakit tungro.
Dengan upaya terobosan peningkatan produktivitas padi di lahan rawa, diharapkan peningkatan produksi padi serta peningkatan pendapatan petani dapat tercapai.

Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan)
Sumber:
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2018. Pedoman Teknis Budidaya Padi Rawa 2018, Jakarta.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2017. Pedoman Teknis Budidaya Padi Rawa Lebak Tahun 2017. Jakarta.
Haryono. 2013. Lahan Rawa Lumbung Pangan Masa Depan Indonesia. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Bogor
Harun,M.U. 2014. Sistem Tanam Padi Kontinyu di Lahan Rawa Lebak. Prosiding Seminar Nasional Lahan Sub Optimal 2014.
Aziz,A dan Basri A Bakar. 2012. Lahan Rawa Sangat Potensial Atasi Krisis Pangan. http://nad.litbang.pertanian.go.id.
Manwan,I. 1992. Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Lampiran :

PENGUNJUNG

309

HARI INI

600

KEMARIN

71792

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook