Diseminasi Teknologi

PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM DAN LAYU BAKTERI TANAMAN PISANG

Minggu, 23 Des 2018
Sumber Gambar : koleksi Fauziah YA

PENDAHULUAN

Tanaman pisang mempunyai potensi yang sangat besar sebagai penopang ekonomi keluarga tani di Lampung dan bebagian besar petani mengusahakan tanaman pisang sebagai tanaman sela/pekarangan yang tidak terawat baik sehingga hasilnya masih rendah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Akhir-akhir ini petani dihadapkan pada ancaman yang cukup serius dari serangan penyakit yang mematikan yaitu penyakit layu. Penyakit ini dapat menurunkan produksi hingga 100%. Oleh karena itu petani perlu mengenal penyebab dan gejalanya sehingga dapat melakukan pengendalian secara tepat dan benar.

PENYEBAB DAN PENULARAN PENYAKIT
Penyakit layu Fusarium sering disebut penyakit Panama yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxyporum. Infeksi terjadi bila patogen melakukan penetrasi pada akar tanaman pisang, jamur kemudian menyerang xylem yang menyebabkan penutupan pembuluh. Kemudian dari xylem menyebar ke jaringan sekitarnya membentuk klamidospore (spora istirahat) yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternative sampai 30 tahun. Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solaracearum. Penularan kedua penyakit terjadi melalui bibit, tanah, air, pupuk kandang atau alat-alat pertanian lainnya. Penyakit ini terutama terjadi pada jenis pisang Cavendish (Ambon Hijau), Rajasere (pisang susu) dan Ambon kuning. Umumnya menyerang tanaman pisang mulai umur 5 ? 10 bulan (sebelum berbuah).

GEJALA SERANGAN

Gejala awal penyakit layu Fusarium yaitu ? Daun tua menguning yang diikuti diskolorisasi pembuluh pada pelepah daun terluar. Perubahan warna semakin hebat pada stadium lanjut.
? Terjadi perubahan warna pada bonggol yang selanjutnya berubah warna menjadi merah atau coklat pada pembuluh vaskular pada pseudostem dan gejala ini kadang timbul juga pada tangkai tandan.
? Terjadi perubahan bentuk dan ukuran ruas daun yang baru muncul lebih pendek
? Jika pangkal batang dibelah membujur terlihat adanya garis coklat atau hitam menuju ke semua arah dari bonggol menuju ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun
? Pada bagian akar sering berubah warna menjadi hitam dan busuk.

Gejala penyakit Layu Bakteri:
? Daun muda mengalami perubahan warna dan ibu tulang daun terlihat garis coklat kekuningan ke arah tepi daun hingga buah saat menjelang masak
? Daun menguning /coklat dan layu
? Terdapat lendir bakteri yang berbau, berwarna putih abu-abu sampai coklat kemerahan keluar dari potongan buah atau bonggol, tangkai buah, tangkai tandan dan batang

PENGENDALIAN

Mengingat di lapangan banyak terjadi pencampuran antar ras sehingga tetap saja penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri R. solanacearum dan jamur F. oxysporum sangat sulit ditanggulangi. Oleh karena itu perlu suatu pengendalian secara terpadu (PHT) dengan mengkombinasikan beberapa cara pengendalian yaitu :
1. Penggunaan bibit sehat (bebas dari patogen). Bibit yang digunakan harus jelas asal usulnya, yaitu berasal dari induk yang sehat dan subur serta bebas dari hama/penyakit. Cara mendapatkan bibit sehat dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui anakan dan bonggol.

Cara mendapatkan bibit sehat dari anakan :
? Anakan yang baru muncul dua buah bakal helaian daun diambil dari pohon induk yang cukup tua (umur 7-8 bulan) atau menjelang berbunga, sehat dan kuat, bebas dari hama/penyakit.
? Anakan dibongkar beserta akar-akarnya dan dibersihkan dari tanah.
? Setelah bersih anakan kemudian direndam dalam 10% larutan Biotal-L selama 1 jam (Biotal-L kemasan 1 liter diencerkan dengan 10 liter air).
? Anakan ditanam pada polibag volume 3 kg yang berisi media tanah, pupuk kandang, sekam dan 200 gram biopestisida Persada dan disimpan pada tempat yang teduh dan disiram secara teratur.
? Anakan siap ditanam setelah berdaun 4 helai (berumur 3-4 bulan).

Teknologi pembuatan bibit pisang sehat dari bonggol:
? Bonggol yang digunakan berasal dari pohon induk yang cukup tua (umur 7-8 bulan) atau menjelang berbunga, sehat dan kuat, bebas dari hama/penyakit.
? Bonggol dibongkar dan dibersihkan dari tanah, akar dan tunas yang muda.
? Batang palsu dipotong 10-12 cm diatas bonggol. Pilih bonggol yang berwarna putih dan bagian bawah bonggol dipotong untuk memeriksa apakah bonggol sehat atau sakit.
? Bonggol yang sehat dibelah menjadi 4-8 bagian tergantung dari besar bonggol dan jumlah mata. Tiap belahan bonggol minimum harus memiliki satu mata.
? Belahan bonggol direndam dalam 10% larutan pestisida nabati Biotal-L selama 1 jam (Biotal-L kemasan 1 liter diencerkan dengan 10 liter air).
? Bonggol ditanam pada polibag volume 3 kg yang berisi media tanah, pupuk kandang, sekam dan 200 gram biopestisida Persada dan disimpan pada tempat yang teduh dan disiram secara teratur.
? Bibit siap ditanam setelah berumur 3 bulan.
2. Menanam varietas tahan/toleran. Beberapa jenis pisang yang tahan/toleran adalah pisang Mas sasih, Mas tahun, Merlin, Gancan, Palembang, Ketip warangan, Udang, Batu, Bojog, Cenana bang dan Jelawe.
3. Sanitasi lingkungan. Bersihkan pelepah daun yang sudah tua serta gulma yang tumbuh disekitar tanaman pisang guna menghilangkan sumber infeksi. Tanaman yang dapat dijadikan sebagai inang alternatif bagi pertumbuhan dan perkembagan penyakit layu diantaranya adalah bengle, lempuyang wangi, temu mangga, selasih, ruku-ruku, kemangi, terong KB, kencur.
4. Kultur teknis. Pengaturan jarak tanam, pemupukan tepat jenis/waktu/dosis, pengairan dan sanitasi kebun dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan jumlah anakan per rumpun dibatasi maksimum 3 (tiga) batang.
5. Kimiawi. Jenis pisang yang peka seperti Kepok, Raja, dan sebagainya di daerah endemis penyakit layu, gunakan biopestisida Persada (dengan bahan aktif mikroba antagonis Gliocladium sp., Fusarium oxysporum avirulen Pseudomonas flourescens dan Streptomyces sp.) dan pestisida nabati (ekstrak daun sirih, daun sambiroto, daun papaya, bawang putih dan lengkuas).

Sumber : Dari berbagai sumber

Penyusun :?Fauziah Yulia Adriyani dan Kiswanto

PENGUNJUNG

3102

HARI INI

2695

KEMARIN

410938

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook