Diseminasi Teknologi

PERBENIHAN PISANG

Jum'at, 07 Des 2018
Sumber Gambar : Koleksi BPTP Lampung

Pisang merupakan komoditas buah unggulan di Provinsi Lampung. Dibanding komoditas buah lain, produksi pisang pada tahun 2017 yaitu mencapai 1.462.423 ton. Produksi Pisang tertinggi terdapat di Kabupaten Lampung Selatan yang mencapai 482.432 ton.

Produksi benih pisang dapat melalui 2 (dua) asal benih yaitu benih sumber dan benih sebar.
I. Benih Sumber
Benih sumber adalah benih tanaman yang tujuan utamanya akan dijadikan sebagai tanaman induk perbanyakan benih sebar. Oleh karena itu benih sumber harus dijamin kemurnian dan kesehatannya. Untuk menjamin kemurnian, maka bahan tanam yang diperbanyak adalah anakan dan sistem perbanyakan tanaman yang akan digunakan adalah yang mempunyai resiko mutasi yang sangat rendah, yaitu modifikasi dari perbanyakan tunas secara konvensional, tetapi dengan mengupas pelepah dan mematikan titik tumbuh dari bonggol pisang
Untuk menjamin kesehatan benih, dilakukan indeksing penyakit virus yang paling banyak menyerang pisang Indonesia, yaitu banana bunchy top virus (BBTV). Deteksi virus BBTV atau indeksing BBTV dilakukan dengan metode PCR, yaitu dengan mendeteksi gen virus yang ada dalam sel tanaman. Indeksing BBTV dilakukan di awal yaitu dengan mendeteksi daun dari anakan calon materi perbanyakan, sebelum anakan tersebut yang diambil dari rumpun induk untuk diperbanyak menjadi benih sumber. Sedangkan yang kedua adalah indeksing di akhir, yaitu benih sumber yang siap sebar diindeksing terlebih dahulu untuk memastikan bebas dari virus BBTV.

Perbanyakan bibit pisang dapat dilakukan dengan tiga cara antara lain :
1. Perbanyakan bibit pisang berasal dari kultur jaringan
Eksplan berasal dari tunas. Tunas dari Bonggol yang tingginya 5-10 cm.. Bibit/planlet yang telah didapat dilakukan aklimatisasi yaitu merupakan tahap adaptasi dari lingkungan septik ke lingkungan mendekati lapang. Media aklimatisasi menggunakan campuran pasir dan kompos steril 1:1. Setelah aklimatisasi kemudian dilakukan Transplanting yaitu melakukan pemindahan bibit dari media aklimatisasi ke dalam polybag. Media yang digunakan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1.
2. Perbanyakan bibit pisang dari anakan. Perbanyakan bibit cara ini berasal dari tunas yang tumbuh dari bonggol. Bibit rebung dari tunas yang belum berdaun sehingga menyerupai rebung, tinggi antara 20-40 cm, disebut juga tunas anakan. Bibit anakan berupa tunas yang sudah keluar daun tapi masih menggulung sehingga menyerupai pedang, tinggi antara 41-100 cm.
3. Perbanyakan bibit pisang yang berasal dari bonggol. Bonggol yang digunakan adalah bonggol yang sehat yang telah dibersihkan. Kemudian potong mata tunas yang ada pada bonggol dengan ukuran 10x10x10 cm. Media tumbuh berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 dalam polybag dengan ukuran 30x30 cm.


II. Benih Sebar.
Benih sebar adalah benih yng langsung disebarkan ke petani untuk ditanam dengan tujuan utamanya diambil produksi buahnya. Metode perbanyakan yang digunakan aadalah metode cepat dengan sistem kultur jaringan. Apabila fasilitas kultur jaringan tidak tersedia karena memerlukan modal yang sangat besar untuk laboratorium dan lain-lain, maka perbanyakan yang dilakukan adalah dengan modifikasi teknologi perbanyakan konvensional (konvensional teroptimalisasi). Prinsip dari metode ini adalah dengan mematikan titik tumbuh (apical meristem) untuk merangsang tunas-tunas aksilar untuk tumbuh, dan membuang semua pelepah sampai pangkal dengan tujuan untuk mengurangi halangan bagi tunas aksilar untuk tumbuh.

Teknik Produksi Benih Sumber
1. Pemilihan rumpun induk.
Rumpun induk bisa merupakan rumpun induk tunggal atau duplikat rumpun induk tunggal yang telah diregistrasi atau bersertifikat. Rumpun yang anakannya akan diperbanyak menjadi benih sumber harus sehat dan vigor.
2. Pemilihan anakan.
Anakan yang akan diambil untuk materi perbanyakan adalah anakan yang sehat, diameter bonggolnya berkisar 15-20 cm. Anakan air (tunasi air) tidak dipakai karena disamping ukuran bonggolnya kecil dan pertumbuhannya kurang bagus.
3. Indeksing BBTV.
Indeksing BBTV menggunakan teknik PCR, karena teknik ini sangat peka meskipun kadar virus dalam jaringan tanaman sangat rendah. Indeksing BBTV dengan teknik PCR hanya bisa dilakukan oleh laboratorium yang mempunyai fasilitas PCR. Untuk mengamplifikasi virus BBTV menggunakan pasangan primer dari fragmen-fragmen virus, contohnya adalah coat protein (CP) dan nuclear shuttle protein (NSP). Materi tanaman yang digunakan untuk indeksing ini adalah DNA yang diekstrak dari daun dari calon tunas yang akan diperbanyak menjadi benih sumber. Indeksing dilakukan terutama pada tunas-tunas yang ada akan diperbanyak. Apabila hasil indeksing negatif berarti tunas anakan tersebut bisa dipergunakan sebagai materi perbanyakan. Apabila hasilnya positif makan tunas anakan tersebut harus segera dimusnahkan agar tidak menyebar ke tanaman pisang lainnya.


4. Persiapan kondisi persemaian.
Kondisi persemaian harus teduh dan tidak terkena panas secara langsung. Oleh karena itu harus diberi naungan bisa menggunakan paranet atau anyaman daun kelapa/tebu. Persemaian bisa dalam bentuk seedbed atau langsung dalam polibag. Media untuk persemaian adalah campuran tanah dan pasir.
5. Persiapan bahan tanam/anakan.
Anakan yang memenuhi syarat untuk sumber benih dipisahkan dari induknya, dicuci bersih dan pelepahnya dikupas semua. Pengupasan dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak bakal tunas aksilar. Setelah hampir semua pelepah dikupas, pelepah bagian tengah dipotong sampai dasar dan dicongkel bagian tengah untuk membunuh titik tumbuh.
6. Penanaman dalam media persemaian.
Bonggol yang telah dikupas dan dbuang titik tumbuhnya ditanam dalam seedbed atau polibag berisi campuran tanah dan pasir. Penanaman dengan cara membenamkan 2/3 bagian bonggol dalam media. dan setelah itu ditutup dengan pasir. Kelembaban media perlu dijaga.
7. Pemisahan dan pemindahan tunas.
Lebih kurang satu bulan setelah persemaian tunas-tunas mulai tumbuh. Jumlah tunas yang tumbuh dipengaruhi oleh kultivar pisang. Untuk pisang Ambon, Barangan, dan Mas biasanya menghasilkan 3-4 tunas per bonggol. Untuk Kepok biasanya menghasilkan 1-2 tunas. Sedangkan Tanduk bisa menghasilkan 10-20 tunas per bonggol. Tunas yang sudah berakar bisa dipisah dan dipindahkan ke media dalam polibag yang baru.
8. Perawatan, pengendalian OPT dan pemupukan.
Perawatan berupa penyiraman dilakukan secukupnya. Untuk OPT yang perlu diwaspadai adalah hama kutu daun yang biasanya bersembunyi di dalam gulungan daun yang belum membuka sempurna. Kutu daun ini adalah vektor BBTV. Apabila mulai ditemukan hama tersebut, perlu dilakukan penyemprotan insektisida. Untuk mengantisipasi penyebaran vektor dan penyakit tersebut perlu dilakukan kegiatan monitoring secara ketat. Pemupukan dilakukan 2 minggu sekali dengan menyemprotkan pupuk daun 2 g/l.
9. Indexing BBTV.
Indexing tahap sebelum benih disebar bertujuan untuk memastikan benih-benih sumber tersebut bebas dari BBTV, karena berpeluang terinfeksi saat dalam masa pembesaran. Jumlah tanaman yang diindeksing tidak perlu semua tetapi hanya beberapa yang mewakili blok tempat menaruh benih tersebut. Satu blok bisa 5-10 sampel.
10. Pelabelan.
Pelabelan dilakukan oleh BPSB. Label yang diberikan bisa label ungu (benih pokok) atau putih (benih dasar) tergantung dari asal benih sumber.
Prosedur pembuatan benih sumber ini juga bisa digunakan untuk memproduksi benih sebar, terutama apabila tidak ada fasilitas perbanyakan benih secara kultur jaringan.

Ditulis oleh : Ely Novrianty, Nila Wardani, Nasriati dan Betty Mailina (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung)

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika ,
Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung 2018

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook