Diseminasi Teknologi

MENGENAL PADI SELUMAN

Senin, 19 Nov 2018
Sumber Gambar :

PENDAHULUAN

Sebagai sebuah negara dengan julukan "mega-biodiversity", Indonesia sangat kaya akan keragaman hayati. Meskipun luas daratan Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan di bumi, Indonesia memiliki 10% spesies bunga, 12% spesies mamalia, 17% spesies burung, lebih dari 400 spesies palem dan sekitar 25.000 jenis tumbuhan berbunga dari seluruh spesies yang diketahui di dunia (Bappenas, 2003). Masyarakat Indonesia selama ini telah memanfaatkan keanekaragaman sumber daya genetik sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kultural yang dimiliki oleh masing-masing individu ataupun kelompok masyarakat.

Keanekaragaman sumber daya genetik telah dimanfaatkan untuk keperluan bahan makanan, pakaian, dan obat-obatan. Lebih dari 100 spesies biji-bijian, umbi-umbian, dan sagu di Indonesia dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, dan sedikitnya 940 spesies tanaman telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional, untuk kosmetikaatausebagai bagian penting dalam upacara tradisional. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya genetik oleh masyarakat tradisional pada umumnya didasarkan pada akumulasi pengetahuan local dan kebijakan yang telah dipatuhi sebagai tradisi dan hokum adat yang turun temurun (Sutrisno dan Silitonga, 2004). Lebihdari 400 etnis masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan hutan dalam kehidupannya sehari-hari, dan mereka memiliki pengetahuan tradisional yang tinggi dalam pemanfaatan tumbuhan lokal. Namun demikian, masih banyak jenis sumber daya genetik yang tumbuh di kawasan tropis belum dimanfaatkan secara optimal (Sulandjari, 2009).
Di Indonesia, banyak terdapat bahan pangan lokal yang merupakan komponen penting dalam kehidupan sebagai sumber kalori, vitamin dan mineral yang berupa tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Bahan pangan local tersebut merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan.


Plasma nutfah yang sangat beragam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan kekayaan alam yang harus dilestarikan keberadaannya. Salah satu varietas lokal tanaman yang sangat beragam tersebut adalah padi ladang. Tercatat puluhan varietas padi lokal khas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebar di setiap kabupaten. Walaupun pada kenyataannya saat ini Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi yang kebutuhan berasnya sangat bergantung dari luar provinsi. Penyediaan beras dalam jumlah yang cukup dan harga ternjangkau menjadi prioritas utama pembangunan nasional. Beras selain menjadi bahan makanan poko untuk masyarakat, padi juga berperan dalam penyediaan tenaga kerja bagi petani di perdesaan (Suparman, 2012)


PENYEBARAN PADI SELUMAN

Padi Seluman, demikian masyarakat pribumi Kabupaten Bangka menyebutnya. Hasil penelusuran sejarah berdasarkan kapan padi jenis ini ditemukan dan mulai dikenal oleh masyarakat, disimpulkan bahwa padi ini mulai diketahui oleh masyarakat sejak tahun 1960-an. Berdasarkan hasil eksplorasi yang telah dilakukan oleh Tim Sumber Daya Genetik (SDG) BPTP Kepulauan Bangka Belitung padi seluman tersebar di Kabupaten Bangka. Pertama kali padi seluman tercatat di temukan di Desa Mendo Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Padi seluman merupakan salah satu varietas lokal padi ladang yang dibudidayakan masyarakat karena memiliki ciri khas tersendiri.


Dari segi gabah, Padi Seluman berwarna kuning kecoklatan dengan bentuk memanjang. Warna beras dari padi seluman adalah berwarna merah. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beras merah memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan beras putih. Petani biasa menjual beras seluman dengan harga Rp. 15.000/kg.


KARAKTERISTIK MORFOLOGIS PADI SELUMAN


Keadaan Tanaman "Padi Seluman" asal Kabupaten Bangka : Tanaman : Tinggi tanaman : 117 cm, Tipe tumbuh : Sedang, Umur berbunga : 95 hari, Jumlah anakan produktif : 13, Umur panen : 110 hari. Batang : Panjang batang : 41 cm, Warna antosianin buku : Tidak ada, Warna antosianin ruas : Tidak ada. Daun : Panjang daun : 68 cm, Lebar daun : 1,71 cm, Intensitas warna hijau : 143 c, Bentuk lidah daun : Berlekuk, Warna lidah daun : Tidak ada, Warna antosianin telinga daun : Tidak ada, Perilaku helai daun bendera : Mendatar. Malai : Panjang malai : 21,5 cm, Jumlah malai : 13, Bulu ujung gabah : Tidak ada, Warna bulu ujung gabah : Tidak ada, Posisi malai terhadap gabah : agak terkulai. Gabah : Bobot 1000 butir : 24,25 gram, Jumlah gabah per malai : 161, Bobot gabah per malai : 1,12 gram, Bobot gabah per rumpun : 18,25 gram, Produktivitas : 3,45 ton/ha.

?

Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)


Sumber Bacaan :
- Peraturan Menteri Pertanian No. 37 Tahun 2011
- Suparman. 2012. Petunjuk Teknis PTT Padi Sawah Irigasi. BPTP Kalimantan Tengah.

Sumber Gambar : Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook