Diseminasi Teknologi

STRATEGI MENGHADAPI PENYAKIT KUNING LADA

Senin, 19 Nov 2018
Sumber Gambar : Koleksi BPTP Bangka Belitung

PENDAHULUAN

Penyakit kuning merupakan salah satu penyakit penting pada pertanaman lada di wilayah Bangka. Penyakit kuning sangat merugikan karena dapat menyebabkan tanaman lada berhenti berkembang sehingga menurunkan hasil panen. Penyakit ini dilaporkan merusak pertanaman lada wilayah Bangka hingga 32%.


Penyebab penyakit tersebut adalah nematoda Meloidogyne incognita dan Radopholus similis (Mustika 1990). Deteksi awal penyakit ini relatif sulit, biasanya tanaman diketahui sakit setelah menampakkan gejala menguning pada daun. Perkembangan penyakit tanaman sangat bergantung pada banyak faktor, baik lingkungan, tanaman, maupun teknik budi daya yang digunakan. Teknik atau sistem budi daya yang digunakan petani diduga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit kuning pada pertanaman lada (Abdul Munif dan Ita Sulistiawati).

?PENTINGNYA LADA BAGI PETANI BANGKA BELITUNG

Harga lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung per November 2018 di tingkat petani berada di kisaran Rp.55.000,- s.d Rp.58.000,- per Kg. Harga tersebut lebih rendah dari harga lada putih tertinggi dalam sejarah harga lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang pernah mencapai Rp.180.000/Kg. Meskipun demikian semangat petani lada tidak pernah mengalami penurunan dengan harapan harga lada ke depan bisa lebih menjanjikan lagi.


Tanaman lada merupakan salah satu primadona bagi petani untuk dibudidayakan. Rekam jejak tanaman lada yang sudah menjadi kearifan lokal untuk selalu dibudidayakan menjadi nilai tambah tersendiri bila dibandingkan dengan komoditas perkebunan yang lainnya. Tantangan yang dihadapi oleh petani dalam hal budidaya selain dari harga yang cenderung fluktuatif adalah hama dan penyakit yang sangat mempengaruhi hasil yang akan didapatkan, salah satu penyakit utamanya adalah penyakit kuning.


Penyakit kuning adalah salah satu penyakit utama pada tanaman lada. Di Indonesia, pertama kali dilaporkan oleh Van der Vecht tahun 1932. Penyakit ini disebabkan oleh keadaan yang kompleks, khususnya di wilayah Bangka yaitu adanya serangan nematoda (Radopholus similis dan Meloidogyne incognita), jamur parasit (Fusarium solani dan F. oxysporum), serta rendahnya kesuburan tanah dan kelembaban atau kadar air tanah. Hasil penelitian menunjukkan faktor utama penyebab penyakit adalah serangan nematoda.

?

GEJALA SERANGAN

Gejala penyakit tanaman terdiri dari gejala di atas dan bawah permukaan tanah. Gejala di atas permukaan tanah terlihat pada daun dan dahan tanaman. Daun dan dahan akan berubah menjadi kekuning-kuningan secara bertahap dari bagian bawah dan menjalar ke bagian atas tanaman. Daun-daun yang telah menguning tidak menjadi layu tapi sangat rapuh sehingga secara bertahap akan gugur. Hal ini juga terjadi pda dahan dan sulur panjat sehingga tanaman akan menjadi gundul.


Gejala di bawah permukaan tanah terlihat pada bagian akar terutama rambut-rambut akar. Apabila bagian akar digali terdapat luka nekrosis dan puru. Luka-luka pada akar adalah gejala serangan nematoda R. similis, sedangkan puru akar adalah gejala serangan nematoda Meloidogyne spp. Di dalam jaringan akar yang luka dan berpuru tersebut terdapat kumpulan nematoda dan cairan yang menyumbat pembuluh jaringan akar.

?

PENGENDALIAN


Melihat penyebab penyakit yang kompleks maka perlu strategi pengendalian secara terpadu, terutama untuk pengendalian nematoda dan jamur parasitnya. Selain itu, perlu juga diperhatikan pemenuhan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman. Beberapa komponen pengendalian penyakit kuning antara lain:


? Penggunaan varietas toleran
Hasil penelitian Nuryani (1984) menunjukkan varietas LDL dan Kuching cukup toleran terhadap M. incognita sedangkan varietas Kuching cukup toleran terhadap dan M. incognitaR. similis (Mustika, 1990).
? Sanitasi kebun dengan membokar dan membakar sisa tanaman sakit.
? Pemupukan berimbang sesuai umur tanaman lada.
? Penggunaan mulsa dan bahan organik untuk menekan aktivitas nematoda.
? Menanam tanaman bukan inang di sela tanaman lada misalnya Centrosema pubescens, Arachis hypogea, dan Crotalaria spp.
? Penggunaan musuh alami antara lain jamur Arthrobotrys, Dactylaria, Dactylella dan bakteri Pasteria penetrans.
? Penggunaan nematisida dan fungisida untuk menekan populasi nematoda dan aktivitas jamur patogen. Nematisida Aldicarb (50 mg/pohon/3 bulan) dapat menekan perkembangan penyakit kuning sebesar 15%, sedangkan pemberian Furadan 3G sebanyak 4x114 g/tanaman/tahun, dapat mengurangi populasi M. incognitadi dalam tanah sebanyak 82%, serta meningkatkan produksi lada basah sebesar 200% (Kueh dan Teo, 1978).
? Penggunaan pestisida nabati dari tanaman mimba dan jarak.

?

KESIMPULAN

?

Penyakit kuning pada tanaman lada bisa dikendalikan dengan strategi yang tepat bagi petani. Pengelolaan tanaman dan pengendalian hama dan penyakit lada secara terpadu akan dapat mengurangi serangan penyakit kuning pada tanaman lada.

?


Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Babel)


Sumber Bacaan : - Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Monograf Tanaman Lada
- http://journal.ipb.ac.id/index.php/jfiti/article/viewFile/8517/6672 di akses tanggal 15 November 2018

Sumber Gambar : Foto Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook