Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PADI BERMUTU

Selasa, 23 Okt 2018
Sumber Gambar : Dokumentasi Kegiatan Perbenihan padi ES di Kota Singkawanag

Sampai saat ini benih masih menjadi masalah dalam pengembangan padi di Kalimantan Barat, sehingga tidak mengherankan penggunaan benih sendiri yang sudah turun temurun masih tetap berlangsung hingga sekarang. Seperti diketahui benih merupakan salah satu komponen teknologi budidaya yang sangat penting dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi persatuan luas. Untuk itu pemakaian benih padi yang bermutu (berlabel) sangat dianjurkan. Hal ini terkait dengan sifar-sifat yang dimiliki oleh varietas unggul baru bermutu antara lain, memiliki potensi produksi tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama, tekstur nasi yang enak (pulen) serta umur tanaman yang relative pendek.
Benih unggul bermutu merupakan tumpuan harapan untuk memperoleh hasil yang baik dalam usahatani. Namun demikian petani masih cukup sulit untuk memperoleh benih bermutu sesuai dengan spesifik lokasi karena terkadang benih yang dibutuhkan tidak sesuai dengan agroekosistem yang ada dan benih yang datang tidak tepat waktu. Salah satu solusi yang dapat dilakukan dengan mengembangkan penangkaran benih di lokasi setempat, dimana gapoktan / kelompoktani didorong memproduksi benihnya sendiri di hamparan kelompoktaninya sehingga dapat menghemat biaya dan waktu. Seiring dengan berkembangnya waktu, maka diharapkan penangkar benih tersebut nantinya menjadi unit produksi / penangkar benih yang berorientasi bisnis. Untuk itu teknologi produksi benih harus dipahami dan dimengerti oleh kelompoktani /gapoktan agar dapat menjadi penangkar benih yang

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PADI
Pada dasarnya teknologi produksi benih padi bermutu hampir sama dengan teknologi budidaya pada umumnya, hanya saja dalam teknologi perbanyakan benih padi ini ada isolasi jarak tanam dan isolasi waktu antara penanaman padi untuk konsumsi dan benih padi. Selain itu dalam perbanyakan benih padi ada seleksi / rouging.

1. Pemilihan lokasi
? Penentuan lokasi ini sangat penting karena untuk menghasilkan benih yang memiliki mutu genetik dan fisiologis yang tinggi, faktor kondisi lingkungan tumbuh akan sangat menentukan.
? Pilih lokasi yang mudah dijangkau. Lahan produksi benih sebaiknya lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama. Kondisi lahan subur, drainase baik, bebas dari sisa-sisa tanaman.
? Isolasi jarak minimal antara 2 varietas berbeda adalah 3 meter, bila tanpa isolasi jarak perlu dilakukan isolasi waktu tanam sekitar 4 minggu
1. Penyiapan Benih Sumber
? Lakukan pemeriksaan benih sumber sebelum benih disebar/disemai yang mencakup sertifikat / label benih yang berisi informasi mengenai asal benih, nama produsen, varietas, tanggal selesai uji dan tanggal kadaluarsa, dan mutu benih (daya berkecambah, kadar air dan kemurnian fisik benih). Kebutuhan benih untuk 1 hektar areal pertanaman beragam antara 25 - 30 kg.
? Untuk memproduksi benih, maka digunakan sumber benih satu kelas lebih tinggi di atasnya. Misalnya akan diproduksi benih sebar (BR/ES / extenstion seed / label biru) maka sumber benih yang digunakan satu tingkat diatasnya yaitu benih pokok (BP / SS / stock seed / label ungu).
2. Persiapan lahan
Persiapan lahan sebaiknya dilakukan dengan olah tanah secara sempurna menggunakan handtraktor/tarktor. Untuk menekan gulma,lahan yang telah diratakan disemprot herbisida pratumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari atau sesuai dengan anjuran.
3. Persemaian
Tempat persemaian dibuat seperti kita menyiapkan lahan untuk pertanaman, setelah itu siapkan benihnya. Benih sebelum ditebar sebaiknya direndam dulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam. Benih yang telah mulai berkecambah kemudian ditabur dipersemaian dan berikan pupuk Urea, SP 36, dan KCI masing-masing dengan takaran 15 g/m?.

4. Penanaman
? Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari, dua ? tiga bibit per lubang. Penanaman dilakukan dengan sistem jajar legowo 2:1 atau 4:1 dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm atau 25 x 15 x 40 cm.
? Pada musim kemarau sebaiknya gunakan sistem tanam jajar legowo 4:1, sedangkan pada musim penghujan gunakan jajar legowo 2:1.
5. Penyulaman
Lakukan penyulaman pada tanaman yang mati 7 hari setelah tanam (HST) dengan bibit yang memiliki umur yang sama..
6. Pemeliharaan Tanaman
? Pemupukan sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Untuk maksud tersebut takaran pupuk dan waktu pemupukan dapat didasarkan atas kebutuhan tanaman (Pupuk N berdasarkan pada metode Bagan Warna Daun (BWD), sedangkan pupuk P dan K berdasarkan hasil analisis tanah
? Pengelolaan air sebaiknya dilakukan secara intermiten
? Pengendalian HPT dilakukan secara terpadu dengan pendekatan prinsip PHT
7. Rouging / Seleksi
Seleksi / rouging dilakukan mulai dari persemaian benih sampai akhir pertumbuhan. Rouging adalah kegiatan membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri fisik/morfologis menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang benihnya diproduksi. Rouging dilakukan sekurang-kurangnya 3 kali yaitu :
a. Rouging pertama dilakukan pada fase vegetatif . Pada fase ini tanaman padi sedang aktif membentuk anakan. Rouging dilakukan setelah selesai penyiangan
b. Rouging ke dua dilakukan pada akhir fase vegetatif dan diawal fase generatif yaitu pada saat tanaman padi mulai berbunga
c. Rouging ke tiga dilakukan pada saat buah masak sebelum panen
8. Panen
? Saat panen yang tepat adalah pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila 90-95 % malai telah menguning. Panen dapat dilakukan dengan sabit atau menggunakan combine harvester. Jika menggunakan sabit, potong tengah batang padi dan kemudian dirontok dengan menggunakan thresher
? Benih padi ketika baru di panen masih bercampur dengan kotoran fisik dan benih jelek. Oleh karena itu benih segera dibersihkan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang masih ada
? Benih hasil panen di masukan kedalam karung dengan diberi label (nama varietas, tanggal panen, blok pertanaman dari mana benih tersebut berasal).
8. Pengeringan benih
Pengeringan benih dilakukan sampai kadar air mencapai 10-12% (kadar air benih).
10. Pengolahan benih, pengemasan dan penyimpanan
Pengolahan benih meliputi pembersihan dan pemilihan benih untuk menghindari benih tercampur dengan varietas lain. Setelah itu benih dikemas dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan seperti karung atau plastic. Penyimpanan dilakukan pada kondisi kering dan dingin karena ini merupakan ruang simpan yang baik untuk benih.

(Ir. Sari Nurita, Penyuluh BPTP Kalimantan Barat)

Sumber :
1. Anonim. 2011. Produksi Benih Padi Non Hibrida (Inbrida atau Bersari Bebas) myminebk.blogspot.com/2011/04/produksi-benih-padi-nonhobrida-inbrida. htmlk?m=1
2. Anonim, 2016. Teknik Produksi Benih Padi. bbpadi.litbang.pertanian.go.id/ index.php/berita/info-teknologi-perbanyakan-benih-padi.
3. Suparman, 2010. Teknologi Perbanyakan Benih Padi. Balai pengkajian Teknologi pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah
4. Razak, N., et al., 2016. Teknik Perbanyakan Benih Padi bermutu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan.

PENGUNJUNG

529

HARI INI

4392

KEMARIN

509332

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook