Materi Lokalita
BALI > KABUPATEN BULELENG > BANJAR

Hama Utama Tanaman Cabai Dan Teknik Pengendaliannya

Rabu, 11 Mei 2022
Sumber Gambar : Luh Suprami doc.

1. Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Gejala Serangan: Hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan permukaan bawah daun (terutama daun-daun muda). Serangan ditandai dengan adanya bercak keperak - perakkan. Daun yang terserang berubah warna menjadi coklat tembaga,  mengeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pada serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pucuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuk tanaman menjadi mati. Hama ini merupakan vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting. Pada musim kemarau perkembangan hama sangat cepat, sehingga populasi lebih tinggi sedangkan pada musim penghujan populasinya akan berkurang karena banyak thrips yang mati akibat tercuci oleh air hujan.

Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama cabai, bawang merah, bawang daun, jenis bawang lainnyadan tomat, sedangkan tanaman inang lainnya tembakau, kopi,ubi jalar, waluh, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili Crusiferae, Crotalaria dan kacang-kacangan.

Cara Pengendalian :

  • Menggunakan tanaman perangkap seperti kenikir
  • Menggunakan mulsa perak
  • Sanitasi lingkungan dan pemotongan bagian tanamanyang terserang thrips.
  • Penggunaan perangkap warna kuning sebanyak 40 buahper ha atau 2 buah per 500 m2 yang dipasang sejak tanaman berumur 2 minggu. Perangkap dapat dibuat dari potongan bambu yang dipasang plastik map warna Plastik diolesi dengan lem agar thrips yang tertarik menempel. Apabila plastik sudah penuh dengan thrips maka plastik perlu diganti.
  • Pengairan yang cukup merupakan salah satu carapengendalian yang tepat untuk trips
  • Penanaman cabai dengan kubis atau tomatsecara tumpang sari dapat menekan populasi
    trips, kutu daun, dan lalat buah
  • Penanaman tanaman penghalang (barrier)misalnya jagung, tagetes, orok-orok, dan kacang
    panjang
  • Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama thrips, antara lain predator
    kumbang Coccinellidae, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen
  • Pestisida digunakan apabila populasi hama ataukerusakan tanaman telah mencapai ambang
    pengendalian (serangan mencapai lebih atau samadengan 15% per tanaman contoh) atau cara-carapengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi

2. Lalat Buah (Bactrocera )

Gejala Serangan: Lalat buah menyebabkan kerusakan pada buah cabai yang masih muda maupun buah yang sudah matang. Buah yang terserang akan membusuk dan kemudian jatuh ke tanah. Gejala awal terlihat dari adanya titik hitam pada bagian pangkal buah, titik hitam pada pangkal buah muncul karena aktifitas lalat buah dewasa yang memasukkan telurnya pada buah cabai. Telur tersebut akan menetas dan berkembang di dalam buah cabai. Larva yang terdapat di dalam buah menimbulkan kerusakan dari dalam, buah menjadi berwarna kuning pucat dan layu. Kualitas buah cabai yang terserang hama ini akan menurun dan tidak layak untuk dipasarkan. Serangan berat terjadi pada musim hujan disebabkan oleh bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi oleh cendawan sehingga buah yang terserang menjadi busuk dan jatuh ke tanah.

Serangga dewasa lalat buah menyerupai lalat rumah dengan panjang tubuh berkisar antara 6 - 8 mm. Tanaman inang lalat buah lebih dari 20 jenis macam tanaman buah-buahan dan sayuran, antara lain, cabai, mentimun, pisang, belimbing, mangga dan apel.

Cara Pengendalian :

  • Tumpang sari tanaman cabai dengan kubis atau tomatdapat menekan populasi lalat buah dan pengaturanjarak tanam yang tidak terlalu rapat
  • Mengumpulkan buah yang busuk yang terinfestasi lalatbuah ke dalam tong sampah yang ditutup dengan kainkasa dengan tujuan agar parasitoid lalat buah dapatkeluar melalui lubang kain kasa, sedangkan larva lalatbuah tidak berkembang menjadi imagoPembungkusan buah
  • Pengggunaan perangkap atraktan metil eugenol (ME)atau petrogenol sebanyak 1 ml/perangkap. Jumlah
    perangkap yang dibutuhkan 40 buah/Ha. Perangkap dipasang pada saat tanaman berumur 2 minggu sampai akhir panen dan atraktan diganti setiap 2 minggu sekali.
  • Rotasi tanaman
  • Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid dari familiBraconidae (Biosteres sp., Opius sp.),
    Aceratoneuromyia indica. Kelompok predator yang menjadi musuh alami lalat buah seperti dari famili Formicidae (semut), Solenopsis geminate, Arachnidae (laba-laba), Staphylinidae (kumbang), Demaptera (cocopet), Chrysoperta carnea, dan patogen serangga Bacillus thuringiensis.
  • Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila cara – carapengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama.Pestisida yang digunakan harus efektif, terdaftar dan sesuai

3. Kutu Kebul (Bemisia tabacci)

Gejala Serangan: Gejala serangan pada daun berupa bercak nekrotik, disebabkan oleh rusaknya sel-sel dan jaringan daun akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Pada saat populasi tinggi, serangan kutu kebul dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Embun muda yang dikeluarkan oleh kutu kebul dapat menimbulkan serangan jamur jelaga yang berwarna hitam, menyerang berbagai stadia tanaman. Keberadaan embun jelaga menyebabkan terganggunya proses fotosintesis pada daun. Kisaran inang serangga ini cukup luas dan dapat mencapai populasi yang besar dalam waktu yang cepat
apabila kondisi lingkungan menguntungkan. Beberapa tanaman pertanian yang menjadi inang kutu kebul adalah kentang, timun, melon, labu, terong, cabai, lettuce dan brokoli. Selain kerusakan langsung oleh isapan imago dan nimfa, kutu kebul sangat berbahaya karena dapat bertindaksebagai vektor virus. Sampai saat ini tercatat 60 jenis virus yang ditularkan oleh kutu kebul antara lain Geminivirus, Closterovirus, Nepovirus, Carlavirus, Potyvirus, Rod-shape DNA Virus.

Serangga dewasa berwarna putih dengan sayap berwarna jernih yang ditutupi lapisan lilin yang
bertepung.                                                                                                 

Cara Pengendalian :

  • Menjaga kebersihan lahan/sanitasi lahan dari gulma,terutama babandotan, daun kancing dan ciplukan
  • Penanaman tanaman pinggiran lahan tanam sebagaipenghalang (barrier) seperti jagung dan orok-orok
  • Penanaman tanaman refugia untuk konservasi musuhalami
  • Tumpang sari antara tanaman cabai dengan tagetesuntuk mengurangi risiko serangan berat.
  • Penggunaan kelambu di pesemaian untuk menghindariinfestasi dini
  • Pemasangan perangkap likat kuning sebanyak 40lembar/ha
  • Aplikasi pestisida nabati daun sirsak dan nimba
  • Pemanfaatan musuh alami, seperti predator, parasitoiddan patogen serangga.Predator yang diketahui efektif terhadap kutu kebul,antara lainMenochilus sexmaculatus (mampu
    memangsa larva Bemisia tabaci sebanyak 200 – 400 larva/hari), Coccinella septempunctata, Scymus syriacus, Chrysoperla carnea, Scrangium parcesetosum, Orius albidipennis, dll. Parasitoid yang diketahui efektif menyerang Tabaci adalah Encarcia adrianae (15 spesies),
    E. Tricolor, Eretmocerus corni (4 spesies), sedangkan jenis patogen yang menyerang B. Tabaci, antara lain Bacillus thuringiensis, Paecilomyces farinorus dan Eretmocerus.
  • Sistem pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanamanbukan inang, seperti tanaman kentang dan mentimun.
  • Penggunaan pestisida selektif sebagai alternatifterakhir antara lain Permethrin, Amitraz, Fenoxycarb,Imidacloprid, Bifenthrin, Deltamethrin, Buprofezin,Endosulphan dan asefat

4. Kutu Daun Persik (Myzus persicae)

Gejala serangan : Kutu daun yang berada pada permukaan bawah daun mengisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih muda. Daun yang terserang akan tampak berbercak-bercak. Hal ini akan menyebabkan daun menjadi keriting. Pada bagian tanaman yang terserang akan didapati kutu yang bergerombol. Bila terjadi serangan berat daun akan berkerut- kerut (menjadi keriput), tumbuhnya kerdil, berwarna kekuningan, daun-daunnya terpuntir, menggulung kemudian layu dan mati. Kutu daun persik merupakan hama yang menjadi hama utama karena beberapa alasan diantaranya mampu bertahan hidup pada hampir semua tanaman budidaya, merupakan penular yang paling efisien dibandingkan hama lainnya. Tanaman inangnya lebih dari 400 jenis, dengan inang utama pada sayuran adalah cabai, kentang dan tomat. Kutu ini dapat berperan sebagai vektor lebih dari 90 jenis virus penyakit pada sekitar 30 famili tanaman antara lain meliputi jenis kacang-kacangan, bit-gula, tebu, kubis-kubisan, tomat, kentang, jeruk dan tembakau. Populasi hama ini dapat meningkat pada musim kemarau, seballiknya pada musim hujan populasi akan turun.

Cara pengendalian :

  • Pemasangan perangkap likat warna, biru, putihatau kuning sebanyak 40-50 buah/ha sejak
  • Penggunaan mulsa plastik perak (di datarantinggi) yang dapat memantulkan cahayamatahari, sehingga dapat menghalau kutudaun.
  • Pemanfaatan musuh alami kutudaun sepertipredator kumbang macan, laba-laba, larvadari syrphid, dan belalang sembah. Patogen seranggaBeauveria bassiana, Aspergillus sp., Entomophthora, Metarhizium anisopliae, dan Verticillium lecanii.Penyemprotan patogen serangga dilakukansecara rutin mulai tanaman berumur 1 minggudengan interval 1 minggu
  • Hama kutu daun ini dapat dilakukandengan penyemprotan insektisida, bila populasi tinggi(ambang batas), yaitu lebih dari 50 setiap tanaman padatanaman muda, tanaman pindahan, hampir panen.

5. Kutu Daun Aphididae (Aphis gossypii)

Gejala Serangan: Serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian tanaman yang diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun muda. Daun yang diserang akan
mengkerut, mengeriting dan melingkar, menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Hama ini juga mengeluarkan cairan manis seperti madu, yang biasanya disebut dengan embun madu. Embun madu menarik datangnya semut dan cendawan jelaga. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan kualitas buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus (50 jenis virus) seperti,Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus, Cucumber MosaicVirus (CMV).

Penyebaran hama ini sangat luas, meliputi daerah beriklim tropis. Kisaran inang dari hama ini cukup luas, seperti tanaman dari family Fabaceaae (Legumes, Lucerne), Solanaceae, Cucurbitaceae dan asteraceae. Kutu daun menyebabkan kerusakan yang cukup serius pada beberapa tanaman sayuran, seperti asparagus, cabai, terong dan okra. Selain tanaman sayuran, kutu daun juga menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada jeruk, kapas dan melon.

Cara Pengendalian :

  • Pemasangan perangkap likat warna, biru, putihatau kuning sebanyak 40-50 buah/ha sejak
  • Penggunaan mulsa plastik perak (di datarantinggi) yang dapat memantulkan cahayamatahari, sehingga dapat menghalau kutudaun.
  • Pemanfaatan musuh alami kutudaun sepertipredator kumbang macan, laba-laba, larvadari syrphid, dan belalang sembah. Patogen seranggaBeauveria bassiana, Aspergillus sp., Entomophthora, Metarhizium anisopliae, dan Verticillium lecanii.Penyemprotan patogen serangga dilakukansecara rutin mulai tanaman berumur 1 minggudengan interval 1 minggu
  • Hama kutu daun ini dapat dilakukandengan penyemprotan insektisida, bila populasi tinggi(ambang batas), yaitu lebih dari 50 setiap tanaman padatanaman muda, tanaman pindahan, hampir panen.

6. Tungau (Polyphagotarsonemus latus dan Tetranychus sp.)

Gejala Serangan: Tungau menyerang daun-daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal dan perubahan warna seperti daun menebal dan berubah warna menjadi tembaga atau kecokelatan. Daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah, menyusut dan keriting. Tunas dan bunga gugur. Serangan berat terjadi pada musim kemarau, biasanya serangan bersamaan dengan serangan Thrips dan kutu daun. Warna tubuh tungau teh kuning kuning transparan, sedangkan tungau merah berwarna kuning
kemerahan. Tanaman inang tungau lebih dari 57 jenis tanaman, antara lain cabai, tomat, teh, karet, dll.

Cara Pengendalian :

  • Sanitasi dengan mengeradikasi bagian tanaman yang terserang kemudian dimusnahkan.
  • Pemanfaatan musuh alami yaitu predator Ambhyseins cucumeris.
  • Pengendalian dengan akarisida yang efektif berbahan aktif piridaben, diafentiuron, abamektin, dilakukan apabila ditemukan gejala kerusakan daun dan populasi tungau.

 

Penulis:

Luh Suprami, S.P (POPT Kec. Banjar)

Rosma Susiwaty Situmeang, S.P (POPT Kec. Banjar)

 

Sumber Referensi:

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerioan Pertanian. Pengenalan dan Pengendalian OPT Cabai. 2020.

 https://babel.litbang.pertanian.go.id/index.php/sdm-2/15-info-teknologi/443-hama-utama-tanaman-cabai-merah

 

 

 

 

PENGUNJUNG

3894

HARI INI

62573

KEMARIN

50459119

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook