Diseminasi Teknologi

PENGENDALIAN PENYAKIT CVPD TANAMAN JERUK

Kamis, 28 Apr 2022
Sumber Gambar : Agrotek.id

Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) tergolong salah satu penyakit penting pada tanaman jeruk yang telah berkembang luas dan menjadi kendala utama usaha pengembangan peningkatan produksi jeruk.   Penyebab penyakit CVPD yang juga disebut citrus greening atau huanglongbin adalah bakteri Liberobacter yang tergolong dalam subdivisi Protobacteria. Bakteri Liberobacter hidup dalam floem tanaman jeruk dan menimbulkan gejala yang khas, bakteri tersebut belum bisa dibiakkan pada media buatan. Penularan penyakit CVPD dilakukan oleh serangga vektor Diaphorina citri Kuw. (Homoptera : Psyllidae).   

Penularan penyakit CVPD di alam bergantung pada kepadatan populasi D. citri sebagai serangga vektor dan keberadaan sumber inokulum. Patogen dapat ditularkan oleh serangga vektor dari satu tanaman ke tanaman lain setelah melalui 1) periode makan akuisisi yaitu waktu yang diperlukan vektor untuk makan pada tanaman sakit sampai mendapatkan patogen, 2) periode makan inokulasi yaitu waktu yang diperlukan vektor untuk makan pada tanaman sehat sampai dapat menularkan patogen dan 3) periode retensi yaitu selang waktu vektor masih dapat menularkan patogen. Ketepatan vektor menusukkan stiletnya pada bagian tanaman sakit dan proporsi vektor yang infektif mempengaruhi laju penularan penyakit CVPD.

Selain melalui vektor D. citri, penyakit CVPD dapat menyebar melalui bibit terinfeksi. Bibit jeruk yang tampak sehat dapat mengandung patogen CVPD, karena masa inkubasi patogen CVPD dalam tanaman inang berkisar tiga sampai lima bulan sehingga diperlukan cara yang tepat dan cepat untuk mendeteksi keberadaan patogen CVPD pada bibit jeruk yaitu menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction).

Tanaman yang terserang CVPD memperlihatkan gejala daunnya menguning atau klorosis, warna tulang daunnya menjadi hijau tua, daunnya lebih tebal, kaku dan ukurannya menjadi lebih kecil. Klorosis terjadi karena pembentukan klorofil berkurang, sehingga aktivitas fotosintesis tanaman menurun. Tanaman yang terinfeksi CVPD juga menunjukkan gejala nekrosis dan gugur daun. Proses terjadinya klorosis diawali dengan tertularnya jaringan tanaman oleh patogen melalui stilet serangga vektor pada saat mengisap cairan tanaman. Selanjutnya patogen yang terdapat dalam floem tersebar ke bagian-bagian tanaman bersama translokasi bahan organik. Kehadiran patogen dalam jumlah yang relatif banyak dapat menimbulkan gejala klorosis bahkan terjadinya nekrosis pada floem tulang daun.

 

Gejala Penyakit CVPD :

 

Gejala Luar

Pada tanaman muda gejala yang nampak adalah adanya kuncup yang berkembang lambat, pertumbuhannya mencuat keatas dengan daun- daun kecil dan belang- belang kuning. Tanaman biasanya menghasilkan buah berkualitas jelek.

Pada tanaman dewasa, gejala yang sering tampak adalah cabang yang dsaun- daunnya kuning dan kontras dengan cabang lain yang daun- daunnya masih sehat. Gejala ini dikenal dengan sebutan greening sektoral. Daun pada cabang- cabang yang terinfeksi menjorok keatas seperti sikat. Gejala lain adalah daun berukuran lebih sempit, lancip dengan warna kuning diantara tulang daun. Gejala- gejala ini mirip dengan gejala defisien Zn. Apabila gejala tersebut disebabkan oleh defisiensi Zn dalam tanah, seluruh tanaman didalam kebun yang sama biasanya akan menunjukkan gejala. Penyebaran gejala yang tidak merata merupakan indicator yang sangat penting bagi adanya penyakit CVPD. Selama musim hujan, gejala defisiensi Zn biasanya tidak begitu tampak.

Buah pada cabang- cabang terinfeksi biasanya tidak dapat berkembang normal dan berukuran kecil, terutama pada bagian yang tidak terkena cahaya matahari. Pada pangkal buah biasanya muncul warna orange yang berlawanan dengan buah- buah sehat. Buah- buah yang terserang rasanya masam dan bijinya kempes, tidak berkembang dan berwarna hitam.

 

Gejala Dalam

Pada irisan melintang tulang daun tengah jruk berturut- turut dari luar hingga ketengah daun akan terlihat jaringan- jaringan epidermis, kolengkim, sklerenkim, phloem. Menurt tirta widjaja (1984) gejala dalam pada tanaman jeruk yang terkena CVPD adalah :

  • Phloem tulang daun tanaman sakit lebih tebal dari phloem tulang daun tanaman sehat.
  • Pada phloem tulang daun tanaman sakit terdapat sel- sel berdinding tebal yang merupakan jalur- jalur mulai dari dekat sklerenkim sampai dekat xilem. Dinding tebal tersebut adalah beberapa lapis dinding sel yang berdesak- desakan
  • Didalam berbagai jaringan dalam daun terjadi pengumpulan secara berlebihan butir- butir halus zat pati.

 

Penyakit CVPD dapat dikendalikan dengan cara :

  1. Penanaman Bibit Jeruk Bebas CVPD Penggunaan bibit jeruk bebas CVPD merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi agar usaha budidaya jeruk dapat berhasil baik.
  2. Budidaya Tanaman Sehat Usaha budidaya tanaman sejak pemilihan bibit tanaman, penanaman, pemeliharaan tanaman (pemupukan dan pengendalian hama penyakit lainnya) menjadi hal penting dengan baik.
  3. Pemantauan Tanaman Bergejala CVPD Salah satu tujuan pemantauan adalah untuk menganalisis ekosistem dan mengetahui serangan penyakit CVPD secara dini. Pengamatan gejala penyakit CVPD harus dilakukan secara teratur.
  4. Eradikasi Tanaman Terserang CVPD Eradikasi tanaman sakit dimaksudkan sebagai upaya menghilangkan tanaman sakit, baik tanaman jeruk sebagai tanaman utama maupun tanaman famili Rutaceae lainnya seperti kemuning (Murraya paniculata) karena dapat menjadi sumber keberadaan patogen CVPD.
  5. Pengendalian Serangga Vektor Sampai saat ini Diaphorina citri merupakan satu-satunya serangga yang menularkan penyakit CVPD, sehingga keberadaannya di pertanaman jeruk harus mendapat perhatian yang serius
  6. Karantina Penyakit CVPD tidak menular melalui tanah, sisa-sisa tanaman jeruk, atau melalui udara, akan tetapi ditularkan serangga vektor dan melalui benih (mata tempel, atau batang bawah yang terinfeksi patogen). Upaya untuk mencegah penyebaran CVPD terutama ke daerah yang masih bebas CVPD adalah dengan pengawasan yang ketat terhadap pengangkutan bibit di dalam atau antar pulau oleh petugas karantina dan pemerintah daerah.

 

Sumber : Buletin Udayana Mengabdi dan Balitbangtan SulawesI Selatan

 

Penulis : Ely Novrianty (Penyuluh BPTP Lampung)

 

 

PENGUNJUNG

3046

HARI INI

62573

KEMARIN

50458271

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook