Diseminasi Teknologi

INOVASI TEKNOLOGI BUDIDAYA KACANG HIJAU DI LAHAN KERING

Kamis, 28 Apr 2022
Sumber Gambar : Minas Tiurlina

Pendahuluan

              Kacang hijau (Vigna Radiata.) merupakan tanaman yang tumbuh baik di daerah tropis serta memiliki nilai ekonomis penting setelah  tanaman kacang tanah dan kedelai. Tanaman kacang hijau ini sudah dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Kacang hijau termasuk jenis tanaman yang tahan kekeringan dan dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, tahan terhadap  hama dan penyakit. Kacang hijau banyak dibutuhkan oleh masyarakat dan kacang hijau juga memiliki harga relatif stabil.

              Tanaman kacang hijau kaya akan kandungan gizi. Berbagai gizi yang terkandung dalam tanaman kacang hijau dan berguna bagi kesehatan sebagai sumber protein nabati, vitamin A, B1, C, E dan kandungan zat lain. Kandungan per 100 gram terdiri dari 345 kalori, 20,4 g protein, 1,20 g lemak, 62,9 g karbohidrat, 125 mg kalsium, 320 mg phosfat, 6,7 mg zat besi, 157 SI vitamin  A, 0,64 mg vitamin B1, 6 mg vitamin C, dan 10 g air (Cahyono, 2007). Produksi kacang hijau di Indonesia tahun 2000 sebesar 289.876 ton,  kemudian tahun 2001 meningkat menjadi 301.000 ton pada tahun 2002 terjadi  penurunan 288.089 ton (BPS, 2003).

              Kacang hijau dapat digolongkan  kedalam tanaman palawija. Dalam memenuhi kebutuhan sehingga tanaman ini sangat dicari dipasaran. Permintaan terhadap kacang hijau selalu meningkat setiap saatnya. Kedudukan kacang hijau menempati urutan nomor 3 setelah kacang kedelai dan kacang tanah sehingga  sangat dicari dimasyarakat

              Dari jenis kacang yang dikonsumsi masyarakat kacang hijau merupakan salah satu kacang yang dapat dimanfaatkan pada bijinya seperti halnya kacang kedelai namun berbeda jika dibandingkan dengan kacang panjang. kacang hijau mempunyai banyak protein nabati yang terkandung didalamnya, sehingga kacang hijau dapat memenuhi kebutuhan protein sehari-hari.

 

Terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan teknologi budidaya kacang hijau antara lain :

  1. Penyiapan Lahan

          Pada lahan kering masam dengan pH 5,5 sebaiknya dilakukan pemberian kapur untuk meningkatkan pH tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman kacang-kacangan serta menekan kelarutan Al dalam tanah. Kapur ditabur di atas permukaan tanah 2 minggu sebelum ditanami dengan dosis 1-2 ton/ha dan diaduk hingga kedalaman 20 cm

          Kegiatan penyiapan lahan di lahan masam pada MT I dianjurkan untuk melakukan sistim olah tanah pada barisan tanaman atau dengan menggunakan sistim tanpa olah tanah (TOT). Kegiatan pengolahan tanah dalam barisan dikombinasikan dengan pemberian herbisida berbahan aktif glifosat. Pada pertanaman MT II sistim tanam anjuran adalah tanpa olah tanah (TOT) dan penyiapan lahan menggunakan herbisida berbahan aktif paraquat/glyphosat ( dosis 2,0 l/ha).

  1. Varietas Unggul

                Pemilihan varietas unggul merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan budidaya aneka kacang-kacangan pada lahan kering masam. Varietas yang ditanam harus dapat beradaptasi/ toleran pada kondisi lahan yang ber pH rendah dan miskin hara. Penggunaan varietas yang sesuai dan disertai dengan teknik budidaya yang tepat, akan mendapatkan produktifitas yang tinggi (> 8 t/ha). Varietas unggul yang digunakan antara lain : kacang hijau vima 1, kacang hijau vima 4

  1. Penanaman

(1) Mula-mula  dibuat   lubang tanam   dengan bantuan   tugal, dengan  jarak tanam sesuai dengan   yang   diinginkan, misalnya   10 cm x 50 cm   atau  20 cm x 25 cm   (400.000 tanaman/ha, dengan jarak antarbarisan 75 cm). Jarak tanam dapat juga diatur lebih rapat, misalnya 10 cm x 40 cm atau 20 cm x 20 cm (500.000 tanaman/ha, dengan jarak  antar barisan 50 cm).

2) Setiap  lubang tanam dimasukkan  2 butir  benih kacang hijau. Bersamaan   dengan    penanaman benih, dilakukan pula pemberian pupuk dasar yang berupa 25 kg – 50 kg Urea, 100 kg TSP, dan 25 kg – 37,5 kg KCl per hektar. Pupuk   dimasukkan   ke dalam lubang tugal yang berjarak 5 cm di sisi kiri atau kanan lubang tanam dengan kedalaman 10 cm.

3)  Setelah penanaman benih, dilakukan pemasangan mulsa jerami. Jerami dihamparkan di atas lahan yang   telah ditanami benih kacang   hijau hingga  ketebalannya  mencapai 3 cm – 5 cm.

  1. Pemupukan
  • Pupuk organik berupa pupuk kandang kotoran sapi plus pupuk bermikroba penambat N, P, K total 2 ton/ha dan dolomit 1 ton/ha saat pengolahan lahan dan pupuk bermikroba untuk penutup lubang tanam

Pemupukan anorganik untuk tanaman kacang hijau     : 100 Kg NPK plus Urea 50 Kg/Ha

  • Pemupukan pertama di berikan saat usia tanaman 10-14 hari kemudian pemupukan susulan diberikan antara 30-35 hari.

 

  1. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan pada tanaman kacang hijau meliputi pengairan,penyulaman,penyiangan pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman. Budidaya-kacang-hijau Selama fase perkecambahan benih (± 5 hari setelah tanam), diperlukan air yang memadai.

Pengairan diintensifkan kembali pada fase menjelang berbunga dan pada fase pembentukan polong. Satu minggu sebelum polong dipanen, pengairan dihentikan. Satu minggu setelah penanaman, dilakukan penyulaman. Tanaman kacang hijau yang mati atau tidak tumbuh haras diganti dengan benih baru, kemudian ditutup dengan tanah. Pada umur 2 minggu setelah tanam dan 30 – 40 hari setelah tanam, dilakukan kegiatan penyiangan dan penggemburan tanah di sekitar pangkal batang.

Penyiangan

  • Penyiangan dilakukan pada usia 10-14 hari bersamaan dengan pemupukan
  • Penyiangan dilakukan pada usia 35-40 hari setelah tanam untuk persiapan fase generative

 

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman kacang-kacangan, selain melalui pelakukan benih, juga dengan teknik budidaya yang tepat, diantaranya penggunaan varietas tahan/toleran,       sanitasi dan pergiliran.

 

Pengendalian Hama

  • Hama utama kacang hijau adalah lalat kacang Agromyza phaseoli, ulat jengkal Plusia chalcites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat Riptortus linearis, penggerek polong Maruca testutalis dan Etiella zinckenella, dan kutu Thrips.
  • Pengendalian hama dapat dilakukan dengan insektisida, seperti: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2–3 ml/liter air dan volume semprot 500–600 liter/ha.
  • Pada daerah endemik lalat bibit Agromyza phaseoli perlu tindakan perlakuan benih dengan insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipronil (5 cc/kg benih)

 

Pengendalian Penyakit

  • Penyakit utama adalah bercak daun Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines.
  • Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 200, Ingrovol, atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air.
  • Penyakit embun tepung Erysiphe polygoni sangat efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4 dan 6 minggu.
  • Penyakit bercak daun efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4, 5 dan 6 minggu
  1. Panen dan Pasca Panen
  • Panen dilakukan apabila polong berwarna hitam atau coklat.
  • Pemanenan umumnya dilakukan dengan cara dipetik. Namun, varietas-varietas unggul kacang hijau yang ditanam dengan teknik budi daya dan pengairan yang tepat, akan masak serempak (± 80%) sehingga dapat juga dipanen dengan sabit.
  • Polong segera dijemur selama 2–3 hari hingga kulit mudah terbuka.
  • Pembijian dilakukan dengan cara dipukul, sebaiknya di dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil.
  • Biji dijemur kembali sampai kadar air 12% kemudian disimpan di tempat yang bersih dan kering. Apabila hendak disimpan sebagai benih, maka kadar air perlu diturunkan lagi menjadi 8- 10%.
PENGUNJUNG

2686

HARI INI

62573

KEMARIN

50457911

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook