Gerbang Nasional

KURANGI IMPOR GULA, KEMENTAN AJAK PETANI TANAM TEBU

Jum'at, 18 Mar 2022
Sumber Gambar : www.benihperkebunan.com

[ JAKARTA] Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong investor di bidang gula untuk meningkatkan kapasitas produksi gula guna mencapai target memenuhi kebutuhan gula konsumsi, gula industri dan swasembada gula. 

Konsumsi gula per tahun tidak kurang dari 3 juta ton. Produksi dalam negeri selama beberapa kurun waktu cenderung mengalami penurunan sehingga mengakibatkan Indonesia masih harus mengimpor tidak kurang dari 2,2 juta ton.

Upaya pengembangan usaha tani tebu masih terkendala bukan hanya oleh ketersediaan lahan namun juga oleh aspek teknis budidaya usaha tani (penggunaan bibit unggul, pemupukan, aspek kelembagaan, dan sebagainya).

Selain melalui fasilitasi perluasan lahan, strategi pengembangan tebu harus disertai dengan upaya peningkatan produktivitas, yaitu melalui peningkatan efisiensi usaha tani tebu, atau dengan kata lain bagaimana meningkatkan output maksimum melalui pengelolaan sumberdaya serta teknologi yang ada.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), menjamin stok gula kebutuhan masyarakat aman. 

“Sesuai dengan perintah Presiden agar semua Menteri melakukan validasi data dari ketersediaan pangan dan kebutuhan dasar masyarakat, kami di minta untuk memantau ketat ketersediaan 11 komoditas pangan yang ada dan mevalidasinya hingga kelapangan, Alhamdulillah semua dalam kondisi yang aman, hanya gula yang sedikit bersoal, tapi hari ini kita sama - sama berkomitmen untuk mencari solusinya” ungkap Syahrul. 

Menurutnya kelangkaan gula yang terjadi akhir - akhir ini diindikasikan karena adanya keterlambatan distribusi stok ke pasar, kelangkaan ditengah pandemi Corona 19 saat ini juga mengakibatkan panic buying masyarakat disejumlah daerah. Untuk itu ia meminta sejumlah pabrik gula di Indonesia untuk membantu ketersediaan gula konsumsi dan mempercepat pendistribusiannya hingga ke masyarakat. 

“kita lakukan berbagai cara termasuk salah satunya mengajak pabrik gula refinasi ini untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan gula masyarakat, kami minta untuk memproduksi gula pasir putih konsumsi dengan harga standard Rp. 12.500,-“ tegas Syahrul. 

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi pada agenda Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 10, Jumat (18/03/2022) dengan tema kurangi ketergantungan impor gula yang dilaksanakan di AOR BPPSDMP, Kementan Jakarta.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian mengatakan bahwa kita tidak boleh tergantung pada produk impor, salahsatunya gula pasir.

“Potensi gula di negara kita luar biasa, kenapa kita harus impor?

Salahsatu solusinya agar tidak impor dengan menanam tanaman tebu”. jelas Dedi Nursyamsi.

Lebih lanjut Dedi mengatakan saat ini selain gula pasir kita punya gula aren dan gula kelapa yang lebih sehat, sekitar 60 persen sampai 70 persen lahan pertanian kita ada di pesisir.

Narasumber MSPP, Ardi Praptono, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, ditjen Perkebunan mengatakan terdapat alternatif sumber pemanis lain selain gula yaitu stevia, kelapa, lontar,aren, kelapa sawit, dan bit.

“Saat ini kebutuhan komsumsi dan industri 5,8 juta ton dengan produksi 2,18 juta ton dan defisit 3,62 juta ton”. jelas Ardi Praptono.

Untuk potensi di luar negeri akan ada peningkatan kosumsi gula asal stevia akan melonjak pada tahun 2024 di pasar eropa. Pasar stevia global diperkirakan akan naik menjadi  473 juta euro pada 2024.

Sedangkan pasar global  mengantisipasi bahwa pada tahun 2020, permintaan stevia akan mencapai kenaikan  15%.  Stevia akan menggantikan pemanis buatan pada beberapa tahun kedepan.

Narasumber lainnya Deciyanto Soetopo, Pusat Penelitian dan Pengembangan perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan mengatakan meningkatkan budidaya tebu dan efisiensi usaha untuk menghasilkan produksi, produktivitas, dan kualitas hasil yang lebih baik, dengan memanfaatkan inovasi teknologi seoptimal mungkin.

“Inovasi teknologi dapat dilakukan dengan perbenihan, juring ganda, rawat ratoon, pengendalian OPT secara hayati, integrasi tebu sapi, diversifikasi produk, dan mekanisasi” ujar Deciyanto.

Menekan ketergantungan terhadap impor di tingkat on farm pada masa kritis ketika perluasan lahan mengalami keterbatasan, investasi belum berkembang spt yg diharapkan, ditambah dg kejadian masa pandemi covid, disarankan Mengembangkan kreativitas meningkatkan nilai tambah dan daya saing pasar, dengan memanfaatkan program pemerintah spt fasilitas KUR dan kemajuan IT, bersama petani milenial.

Sementara itu Duta Petani Milenial Banten, Sarnata yang hadir virtual mengatakan permasalahan saat ini banyak petani yang tidak mampu berinovasi dan memperluas pasar dengan dijual harga murah, barang cepat rusak dan tidak adanya inovasi produk.

“solusi yang dilakukan melalui diversifikasi produk aren dengan memvariasikan produk sehingga menjadi produk yang khas”.ujar Sarnata.

Saat ini inovasi produk yang dilakukan dengan gula semut, gula jahe, jahe kunyit, jahe tenulawak, gula cair dan gula aren koin. 

“Produk yang ada terstandarisasi dengan uji mutu, indeks glikemik rendah dan produk berkualitas dengan daya simpan lama” tutup sarnata.hvy

PENGUNJUNG

49787

HARI INI

73870

KEMARIN

50755419

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook