Gerbang Nasional

Inovasi Kedelai Indonesia

Rabu, 16 Mar 2022
Sumber Gambar : kanalsatu.com

[ JAKARTA ] Kementerian Pertanian menargetkan bisa memproduksi satu juta ton kedelai, angka ini mengalami kenaikan cukup tinggi dibandingkan tahun 2021 yang hanya 200 ribu ton.

Mahalnya harga kedelai dalam beberapa waktu belakangan membuat Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL)  mengklaim, pihaknya kesulitan menggenjot produksi kedelai dalam negeri karena anggaran yang dipangkas imbas akibat kebijakan refocusing karena pandemi Covid-19.

Imbasnya, kebutuhan kedelai dalam negeri harus dipenuhi dari importasi sebanyak 2,4 juta ton.

Faktor lainnya yang membuat harga kedelai tinggi, dikarenakan petani dalam negeri tidak terlalu tertarik untuk menanam kedelai karena harga jual yang murah.

"Kenapa impornya lebih besar karena harga di luar jauh lebih murah, sementara petani kita baru bisa untung kalau dibeli di atas Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per kilo, barulah dia akan untung," jelas Mentan.

Masih menurut Syahrul, persoalan kedelai memang menjadi tantangan tersediri bagi Kementan, apalagi kedelai masuk komoditas nonlarangan terbatas (lartas).

Hal senada di ungkapkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Manusia, Dedi Nursyamsi pada agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan volume 12 dengan tema Inovasi Kedelai Indonesia yang diselenggarakan pada Selasa (15/03/2022) di AOR BPPSDMP, Jakarta. Pada arahannya Dedi mengatakan apabila suplai pangan di internasional turun, maka secara hukum ekonomi harga pangan akan naik diseluruh negara termasuk Indonesia.

“Ini peluang untuk petani kedelai genjot produktivitas, kurangi keterganungan impor keelai, tanam kedelai sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kegelai kita” ujar Dedi.

Lebih lanjuit Dedi mengatakan untuk kebutuhan tahu tempe sebanyak 80 sampai 90 persen kita masih impor, dengan kebutuhan kedelai 3 juta ton per tahun.

Narasumber Ngobras Moch Muchlish Adie, Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Balitkabi mengatakan Tanaman kedelai sangat menguntungkan dengan adanya berbagai teknologi budidaya pada berbagai agro ekosistem.

“Saat ini hingga 15 maret 2022 terdapat 114 varietas kedelai” ujar Moch Muchlish. Teknologi kedelai juga ada budidaya tanpa bahan kimia atau pestisida.

Narasumber lainnya Netti Tinaprilla, Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi manajemaen IPB mengatakan strategi kedepan melalui diversifikasi konsumsi, dengan kendala sulitnya merubah selera konsumen.

“Solusinya diperlukan edukasi jangka panjang”.jelas Netti Tinaprilla.

Pengawalan dan pendampingan teknologi di lapang, sangat diperlukan untuk budidaya kedelai.

“Pemanfaatan ruang tumbuh dibawah tegakan tanaman, potensi untuk pengembangan kedelai, diperlukan perencanaan yang matang”. tutup Netti Tinaprilla. hvy

PENGUNJUNG

3337

HARI INI

62573

KEMARIN

50458562

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook